8 comments on “Cerpen: Senandika

  1. Tulisan tentang renungan atau dialog dengan hatinya sendiri yang sangat menarik. Cara membacanya pun harus dengan kesabaran. Kalau tidak berkeberatan saya ingin tahu senandika atau solilokui itu berasal dari bahasa apa dan artinya atau padanan katanya apa.
    Terima kasih, salam kenal dari saya oldman Bintang Rina.

    • Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya, Bapak. Arti kata “senandika” atau ‘solilkui” sudah saya cantumkan di bawah cerpen tersebut, yaitu wacana seorang tokoh dalam karya sastra dengan dirinya sendiri, yang dipakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam dari tokoh tersebut, atau untuk menyajikan informasi yang diperlukan pembaca atau pendengar. Arti kata tersebut saya dapatkan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sayang sekali dalam KBBI tidak dicantumkan asal mula dua kata tersebut.
      Salam kenal kembali…

  2. Menarik sekali renungan dalam “Senandika” di atas. Kadang kita memang terlalu serius memikirkan hal-hal yang berada di luar diri kita, hingga melupakan diri sendiri. Padahal instrospeksi diri merupakan suatu hal yang penting bagi kehidupan kita agar mampu berbuat yang terbaik bagi kehidupan ini. Saat terjadi kegalauan hati karena segala daya telah diupayakan, akhirnya langkah terbaik yang mesti kita tempuh adalah pasrah pada Sang Pencipta.

    • Betul sekali, instrospeksi diri merupakan suatu hal yang penting kita lakukan agar mampu berbuat yang terbaik bagi kehidupan ini. Belajar dari kesalahan, mencermati segala kelemahan, dan berusaha untuk mampu memperbaikinya. Semua memang takdir Yang Kuasa tetapi manusia tetap wajib berusaha. Sikap pasrah pada Sang Pencipta adalah saat kita sudah sampai pada batas ketidakmampuan. Pasrah bukanlah menyerah tetapi mengharap yang terbaik sambil bersiap menerima yang terburuk.

  3. Assalamu’alaikum Wr.Wb.

    Saya butuh beberapa menit untuk membacanya. Namun, hanya butuh sedetik saja untuk menyadarinya. Ya, menyadari tentang diri kita, hati kita, dan semua yang ada di sekeliling kita. Betapa hati dan jiwa ini begitu kejam. Hanya mendekat kepada-Nya saat kita butuh, saat kita susah,dan saat kita jenuh dengan semua aktivitas yang membelenggu diri ini. Namun, saat kita bahagia, saat kta senang, saat roda kehidupan kita berada di atas, kita lupa dengan-Nya, Mengabaikan-Nya, dan menjauh dari-Nya. Ingatlah Janji Alloh yang akan menjauh dari kita berpuluh-puluh kali lipat dari kita menjauhi-Nya.

    Terima kasih Pak, telah mengingatkan saya tentang hakikat hidup ini. Tak ada yang abadi kecuali cinta-Nya. Sungguh beruntung bagi yang bisa membaca karya yang menggetarkan tersebut. Semoga dakwah bapak yang secara tidak langsung ini mendapatkan pahala yang mulia dari Alloh Swt. Amin.

    Saya tunggu karya-karya yang menggetarkan selanjutnya…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Salut untuk Amanah yang bisa dengan cepat menyadari keadaan diri, hati, dan keadaan di sekeliling kita. Memang cerpen “Senandika” menuturkan hal itu, perlunya kita menyadari hakikat diri sendiri. Memandang segala persoalan tidak harus dengan hanya mencermati wujud luarnya saja. Namun, perlu pula berinstrospeksi sebelum menjatuhkan keputusan. Ketika pada akhirnya keputusan tersebut masih sulit kita dapatkan, ke mana lagi kita berlari kalau tidak pada Ilahi.

      Terima kasih atas apresiasi dan masukan Amanah yang begitu mendalam, yang mengingatkan kita pada janji Allah Swt. Mudah-mudahan kita termasuk golongan orang-orang yang senantiasa mengingat Allah dalam menjalani kehidupan ini.

      Salam kreatif untuk Amanah seorang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s