Puisi

ZIKIR

bila titik-titik terkait liat njelma dalam ayat-ayat
dan lalu bergumul mesra dalam surat-surat
lantas jadilah pedoman ia

bila desah bibir menggema dalam lantunan suci
dan lafal-lafal bersliweran dalam rongga damai

simpuh aku pada belai-Mu

13 April 2004

ENTAH

sengajakah kabut menggelayut
pada wajah bumi yang pasi
hingga tunas pun urung menjadi daun,

sengajakah senja meraja
dalam malam kelam
hingga ufuk tak juga menusuk.

adalah jemari yang tak lagi berseri
lantaran kuku-kukunya terlanjur beku
kala mencabik tabir insani.

adalah waktu yang tak tentu
lantaran detaknya tak lagi berjarak
hingga pagi menjadi sepi.

26 April 2004

PESAN
(kuntum anggrek)

janganlah kau gugurkan kelopakmu
meski desir angin senantiasa menerpa wajahmu
janganlah pula kau lunturkan wangimu
meski tangis gerimis senantiasa mengusap lembutmu

26 April 2004

SAJAK SELEMBAR KAIN

kebersamaan yang kita tenun jadi selembar kain dalam damai
sebagai naungan dari segala cuaca, di manakah kini?
apakah memang telah koyak
dan tak layak selimuti dinginku dari terpaan angin musim
sedang aku masih menggigil

ataukah sekedar rajutan perjalanan demi satu pijakan
yang lama kau rintis pada tiap tusukan jarum
hingga robek pun kau tak peduli

tak usah kau singkap tiap ujungnya
sebab moyak makin nganga
dan tlah beku aku tanpa kau lakukan itu.

2 Desember 2004

SANG WAKTU

wahai sang waktu,
bila kau ingin segera tanggalkan
setiap pakaian usang yang telah penuh daki
hingga tubuhmu makin gelisah tak tentu lagi arah,
segeralah!
bila kau ingin segera lepaskan
setiap busana masam yang telah moyak
hingga tubuhmu makin resah
tutupi aurat yang mengetuk syahwat,
bergegaslah!

agar setiap noda tak lagi menyapa
agar setiap dosa tak lagi berada
agar setiap mendung tak lagi memayung
agar setiap bayang menjadi kenangan
agar warna kelabu menjadi abu

wahai sang waktu,
kini saatnya kau kenakan

pakaian barumu yang putih bersih
dengan taburan melati di sana-sini
dengan untaian doa di segala masa
dengan khusyuk yang terus menusuk

wahai sang waktu,
jagalah keteguhan iman dengan kesucianmu…

30 Desember 2004

DOA

ya Allah,
jangan biarkan aku jadi sisyphus
lantaran melati yang kutangkarkan
hanya njelma rumput liar
yang njerat setiap gerak
butakan setiap pandang
dan mengebiri setiap nurani

ya Allah,
jangan biarkan puisi tak punya arti
karna jiwa-jiwa tlah tuli
hingga suara sumbang jejali celah-celah telinga
sedang makna puisi tiada diresapi

ya Allah,
jangan biarkan dendam berkobar membakar dada
siramlah dengan embun kasih-Mu
sebagaimana Kau cipta kehidupan
jangan biarkan langkah menemu gelap
terangilah dengan cahaya lembut-Mu
sebagaimana Kau nyalakan mentari pagi

ya Allah,
kalau memang itu kehendak-Mu
biarkan air mata membasah muka bumi
agar jiwa-jiwa kerontang tetap berlumur kasih
karna aku tak lagi bisa mengeja kata menjadi makna

26 Agustus 2005

MESTI

ada yang mesti berubah
ketika langit tak lagi ramah
seperti sebuah perahu membelah samudra
yang tak kunjung tiba
mesti memutar arah
bila karang menjulang di depan
atau terjang hancurkan
andaikan bisa!

4 September 2005

PERJALANAN

berjalan mencari sejumput api
buat mbakar sekujur badan
agar malam di dada tiada gulita

dan pahatan di jiwa terpancar nyata

lantas berjalan perlahan dengan kobaran nyala
jumpai mimpimu yang samar
mengisah di dalamnya akan perjalanan yang penat
mengayuh sampan dengan jemari sebab kayuh tiada
kemudian jemari menjerit sebab sungai ngalir duri

semestinya kau lempar tali dan sampan rapati mimpi
nambat di sana sebelum jaga

28 September 2005

LONCENG KEMATIAN

tiba-tiba terlintas lonceng kematian menggema di pelosok telinga
ciptakan adegan memilukan dalam ruang pekat
dengan para pelaku memadukan suara tangis yang harmonis
beragam namun seragam dalam kepalsuan
sebelum akhirnya membisu di kalbu

lonceng kematian kembali menggema
lantas tersentaklah aku
tak ada siapa- siapa tak ada suara apa

12 Desember 2005

SAJAK PENGHUJUNG MUSIM

sudah semestinya,
dedaunan kering dirontokkan angin
sebab angin di penghujung musim
senantiasa membawa perubahan
pada siklus kehidupan

maka tak cuma daun
ranting-ranting pun kembang yang layu
segera menjelma baru
dan saatnya aku, menanti di penghujung musim
dedaunan bersemi menari
pada ranting-ranting yang digoyang angin

sementara angin pun mekarkan kembang di tiap pohon
kemudian jemari terjulur memetik
dan suntingkan pada rambut kusamku
sambil jaga semerbaknya

31 Desember 2005

19 comments on “Puisi

    • Alhamdulillah kalau Mas Alfin suka. “Sajak Selembar Kain” memang muncul ketika ada sebuah kebersamaan yang terlukai oleh sikap atau tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan sebuah kebersamaan.

      Terima kasih atas kunjungannya.

  1. betapa menyentuh puisi-puisinya,,sehingga membuatku mulai menggerti arti kehidupan ini dan aku suka puisi doanya karna aku suka tentang doa….
    banyak cerita yang aku baca namun cerita mas lah yang mudah di mengerti sehingga dapat memotifasih hidupku,,,ingin rasanya aku belajar banyak dari mas…trimakasih

    • Waow, apresiasi yang sangat melambungkan angan nih… Kebanyakan dari puisi-puisi itu memang diilhami oleh perasaan terhadap sesuatu yang saya lihat, alami, maupun rasakan. Khusus yang doa, sebenarnya memang doa untuk diri sendiri agar mendapat pencerahan dari Yang Kuasa.

      Saya senang bila ada manfaat yang bisa diambil dari puisi-puisi di atas, pun posting-an yang lain, setidaknya kita bisa saling belajar, saling memotivasi, sehingga kita bisa lebih mengerti akan arti hidup dan kehidupan.

      Terima kasih atas kunjungan Mbak Nita beserta apresiasi yang memacu semangat berkreasi.

  2. Assalamu’alaikum,

    Maaf Pak, saya mengganggu aktifitas Bapak dan menulis tidak pada tempatnya.
    saya mau minta tolong kepada Bapak untuk menjelaskan maksud dari puisi dibawah ini dan ekspresi yang sesuai ketika membacakannya. Puisi ini aslinya berbahasa arab dan akan diikutkan dalan lomba pekan arabi di Universitas Negeri Malang, Minggu besok. Saya sudah mencoba menafsirkannya, tetapi rasanya kurang jelas. Jadi saya mohon bantuan Bapak. Saya tunggu Balasan Bapak.
    Terimakasih banyak pak.

    Hari senandung nyanyianmu. . . wahai negaraku

    Aku kembali berpaling dari sipir penjaraku
    Aku terima keheningan jeruji
    Aku tersungkur sendirian. . . . dalam diamku
    Belenggu ini menggoncangkan hati kecilku
    Dan malam yang hiruk pikuk menggigitku
    Mendorongku di balik tembok-tembok
    Badai ketakuta. . . menamparku
    Dan harapan yang penuh keputus asaan . . . menghinggapiku

    Hari senandung nyanyianmu. . . wahai negaraku
    Nyanyianmu adalah melodi terindahku
    Aku jadikan bunga-bungamu menaraku
    Aku jadikan debumu . . . keyakinanku
    Dalam penjaramu umurku menjadi puing-puing
    Terkumpul pakaian manusia
    Aku pergi terpenjara. . .wahai negaraku
    Dan aku ingkari tiap-tiap negara

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Alternatif apresiasi puisi telah saya kirimkan lewat alamat email-mu. Mudah-mudahan sesuai dengan yang dikehendaki, sehingga kegiatanmu dapat meraih kesuksesan.

      Salam kreatif selalu…

  3. Akan kubacakan puisi2mu buat murid2ku dengan mengalun syahdu, akan kusampaikan : anak2ku! inilah puisi sobatku!

  4. Puisinya ciamik, Bapak… diksinya, persajakannya, maknanya, mantap. asonansi, dan aliterasinya juga banyak banget…merdu lagi. Pokoknya, waw bingiiit. Saya baca profil Bapak juga keren. Saya banyak belajar di sini. Terima kasih Bapak dengan ruang imajinya.

  5. Kasih,13/12/2014,Saturday
    Langit tampak mendung, meski tak kulihat mendung
    mungkin anganku saja yang melihat mendung
    seperti galaunya hatiku
    merindukan dia yang jauh di seberang sana
    rasa rindu dan gejolak jiwa membuat hatiku meringis pedih
    mengapa ada rasa ini?
    rasa rindu yang menyesakkan dada
    kepiluan menyeruak menerobos relung hatiku paling dalam
    Kasihku adakah kau merasakan sepertiku?
    kasih betapa aku tak dapat menghapus bayang-bayanganmu
    setiap detak jantungku slalu ada rasa untukmu
    kasih, dengarlah tangisan rindu ini untukmu
    kasih, meranalah jiwaku
    kasih, lihatlah langit tersenyum mentertawaiku
    kasih, aku tetap merindukanmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s