Drama

CEWEK MATRE

Sandiwara Remaja karya Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno

(Telah dipentaskan oleh “STUDY TEATER” SMA Negeri 3 Surakarta pada bulan Juli 1996, pukul 19.30 WIB di Lapangan Parkir Warung Miri SMA Negeri 3 Surakarta)

ADEGAN 1

MUSIK MELANTUNKAN LAGU PERCINTAAN DALAM IRAMA DANGDUT YANG MERIAH. LAMPU PANGGUNG SEDIKIT DEMI SEDIKIT MENERANGI ARENA. NAMPAK NRIMO PRASOJO DAN IYEM SOCAWATI DUDUK BERDUAAN DI TAMAN.

01. NRIMO
Kalau aku pikir-pikir, kalau aku rasakan, sepertinya telah timbul perasaan lain di hatiku bila dikaitkan dengan hubungan kita ini. Apa kamu juga merasakannya Yem?

02. IYEM
Kamu ini bicara apa Mo, mbok ya kalau nglindur jangan di sini ah, ngisin-isini!

03. NRIMO
Aku ini nggak nglindur Yem, aku ini serius. Kalau kamu nggak percaya, lihat…, lihatlah guratan wajahku ini (MEMAMERKAN WAJAH SERIUS).

04. IYEM
Ah, sejak kapan kamu bisa bicara serius Mo. Sejak pertama aku mengenalmu, kesan pertama yang kudapat hanyalah guyonan-guyonanmu saja! (NRIMO TERUS MEMAMERKAN WAJAH). Hei! Kamu lagi apa Mo, nggilani! Pamer wajahmu yang brigal-brigul kebak kukul, iya ?!

05. NRIMO
Owalah Yem-yem! Mbok kamu mau menghargai omonganku sedikit tho. Aku mau ngomong penting. Super penting, Tidak ada kepentingan lain yang lebih penting dari hal ini.

06. IYEM
Terus maumu apa?

07. NRIMO
Sini dulu tho, duduk di sini jejer aku biar kelihatan rukun dan sedap dipandang mata.

08. IYEM
Yah, sudahlah manut aku. Aku takduduk di sini saja ya, nggak perlu mepet-mepet kan?

09. NRIMO
Lha andaikan berkehendak untuk memepetkan diri ya dipersilakan kok. Sekali-kali menyenangkan hatiku dan hatimu. Pada hakikatnya kamu juga ingin tho?

10. IYEM
Iya ding Mo.

11. NRIMO
Nah gitu. Namanya nyangking ember kiwo tengen, lungguh jejer tamba kangen.

12. IYEM
He eh Mo. Sebenarnya aku juga ingin banget dekat sama kamu, lama nggak gitu je. Tapi, aku isin Mo.

13. NRIMO
Kamu harus bisa menghilangkan rasa isinmu itu. Kata orang pinter, suatu keinginan itu bila ingin tercapai harus mampu mengalahkan rasa malu. Kalau kita malu untuk melaksanakan suatu keinginan ya jelas nggak bakalan kesampaian. Malahan bila keinginan itu kamu tahan-tahan, kamu ampet, wo…, bisa jadi enthut ngabar lho.

14. IYEM
Bisa saja Mo, Mo…! Gemes aku! (MENCUBIT)

15. NRIMO

(KESENANGAN) Lagi, lagi…!

16. IYEM
Eh, Mo, apa benar tuh apa yang kamu omongin tadi?

17. NRIMO
Seratus prosen benar ! Eh, embuh ding, wong itu juga jare kok. Aku juga baru mau membuktikannya padamu.

18. IYEM
Maksudmu?

19. NRIMO
Gini lho Yem, aku ini kan punya keinginan untuk ngomong sesuatu sama kamu. Tapi, sebenarnya aku malu untuk menyatakannya.

20. IYEM
Ayolah Mo, katakan  saja. Kalau kamu malu, keinginanmu nggak bakal kesampaian lho.

21. NRIMO
Apa benar begitu?

22. IYEM
Lha kata orang pinter tadi?

23. NRIMO
Oh iya ding. Okeylah kalau begitu. Berhubung keinginanku itu sudah demikian menggebu, sudah sampai ke mbun-mbunan, terpaksa cuma satu jalan yang mesti aku tempuh, yaitu…

24. IYEM
Ngrai gedhek alias ndableg!

25. NRIMO
Pas!

26. IYEM
Pas kok bangga. Terlalu percaya diri!

27. NRIMO
Lho, percaya diri itu juga penting Yem. Siapa tahu dengan percaya diri, orang lain pun akan ikut-ikutan mempercayai diri kita. Semuanya kan bermula dari diri kita sendiri.

28. IYEM
Ooo, dasar…

29. NRIMO
Begini Yem, kita berdua bersahabat sudah terlalu lama. Ke mana kita pergi hampir selalu berdua. Kamu belanja, minjam buku, atau latihan teater, aku selalu setia mengantar kamu biarpun cuma ngonthel. Begitu pula ke mana aku pergi, kamu setia menemani. Yah, bolehlah dikatakan bahwa di mana ada kamu di situ ada aku, begitu sebaliknya. Karena seringnya kita berdua, lambat laun perasaan persahabatan itu terkikis oleh perasaan lain yang lebih mendalam. Aku berharap perasaan itu timbul pula di hatimu.

30. IYEM
Serius Mo?

31. NRIMO
He eh.

32. IYEM
Alaaaah…, guyon.

33. NRIMO
Aduuh Iyeeem…! Masak sih kamu nggak bisa membedakan diriku dalam keadaan serius dan tidak!

34. IYEM
Soalnya kamu kalau ngomong nggak pernah kelihatan serius sih, selalu pakai cengengesan.

35. NRIMO
Itu sudah dari sononya Yem, itu memang sudah lageyanku, sudah trade mark! Yang penting harus kamu ingat bahwa di balik ketidakseriusan omonganku, tersirat suatu keseriusan tersendiri.

36. IYEM
Kok mumet aku Mo. To the point sajalah, biar jelas.

37. NRIMO
Okey, singkat kata aku ceblok dhemen sama kamu! Jatuh cinta sama kamu!

38. IYEM
Haaah…? Benar Mo?

39. NRIMO
(MENGANGGUK)

40. IYEM
Jangan begitu ah.

41. NRIMO
Lho kenapa? Kamu kurang percaya? Apa omonganku harus mendayu-dayu, harus sentimental? Pakai surat? Pakai puisis? Itu kuno Yem, nggak up to date lagi. Katanya to the point.

42. IYEM
Baiklah, kalau kamu benar-benar serius. Aku juga akan memberi tanggapan serius pula. Terus terang aku akui bahwa perasaan hatiku demikian pula halnya, namun rasa-rasanya ada jurang yang memisahkan kita, dan jurang itu terlalu sulit untuk kita lalui.

43. NRIMO
Aku tak paham maksudmu. Yang kutahu, bila kamu memendam rasa seperti itu padaku, berarti tidak bertepuk sebelah tangan. Andaikan ada jurang yang menghalangi cinta kita, itu wajar. Untuk melintasinya memang perlu perjuangan. Bila perlu akan kubuat jembatan pemersatu perasaan kita.

44. IYEM
Aku yakin kamu tak akan gentar pada cobaan apapun. Namun jembatan yang akan kamu buat kurasa tak akan sekokoh yang kuharapkan, karena aku sudah tahu kemampuanmu, kepribadianmu. Kepribadianmu tak bisa diandalkan Mo!

45. NRIMO
Kepribadian? Ada-ada saja. Kamu kan tahu bagaimana sikapku padamu, bagaimana perkataan dan perbuatanku, juga reputasiku belum pernah tercemar meski penampilanku memang apa adanya.

46. IYEM
Aku percaya. Kamu memang pemuda yang baik, penuh pengertian dan perasaan.

47. NRIMO
Mengapa kau ragu?

48. IYEM
Kamu belum paham dengan kepribadian yang kumaksud. Sebagai bunga kampus, tentunya aku lebih bangga bila kekasihku memiliki kepribadian yang bisa diandalkan. Yah, setidaknya ia punya kendaraan sendiri, rumah pribadi, atau paling tidak ia sudah punya pekerjaan yang penghasilannya bisa menjamin kelangsungan hidupku.

49. NRIMO
Materialistis!

50. IYEM
Itu wajar Mo. Aku tak mau hidup menderita, mati ngenes hanya karena kekurangan materi. Hidup tidak hanya butuh cinta, tapi lebih dari itu.

51. NRIMO
Yem…, apakah tidak ada pengecualian buatku? Ku mohon Yem…, Cintaku tulus. Percayalah padaku bahwa kelak akan kupenuhi apa yang jadi anganmu.

52. IYEM
Bercinta itu masalah kemantapan hati, bukan berlandaskan pada belas kasihan atau pekewuh karena teman akrab. (NRIMO DIAM MENUNDUK) Dan kulihat prospek hidupmu belum menentu, masa depanmu tak jelas arahnya.

53. NRIMO
(TERSINGGUNG) Makin lama ucapanmu makin nylekit!

54. IYEM
Fakta Mo, fakta! Kenyataan!

55. NRIMO
Baiklah kalau memang itu keputusanmu

56. IYEM
Maafkan sahabatmu ini Mo, bukan maksudmu membuatmu sedih.

57. NRIMO
Tak apa. Tak ada yang perlu dimaafkan.

58. IYEM
Andai saja kepribadian yang kuinginkan kini kau miliki, tanpa kau minta pun akan kuberikan semua cintaku.

59. NRIMO
(JENGKEL) Andai aku memiliki semua pribadi yang menggumpal dalam benakmu, yang menjejali setiap rongga otakmu, tentu saja kau sudah tak masuk dalam kriteria pilihanku.

60. IYEM
(MELEDEK) Tenane Mo.

61. NRIMO
Ra guyon! Pantas namamu Iyem Socawati.

62. IYEM
Kalau kecewa, jangan membawa-bawa namaku…!

63. NRIMO
Siapa yang membawa namamu? Ndemok we ra sudi!

64. IYEM
Weehh..

65. NRIMO
Iyem dari kaya ijem alias ijo, soca itu mata, dan wati berarti wong wedok. Jadi Iyem Socawati identik dengan wong wedhok sing matane ijo.

66. IYEM
Alaaaah…, itu kan hanya kompensasimu. Coba kalai cintamu aku terima, pasti nggak bakalan kamu ngomong begitu.

67. NRIMO
(DUDUK TERMENUNG)

68. IYEM
Wah sudah sore, aku pulang dulu ya Mo. Jangan gantung diri lho Mo (NRIMO TIDAK MENGGUBRIS) Huh, dasar …!

NRIMO DIAM MERENUNGI NASIBNYA. SERIBU BIDADARI TURUN DARI LANGIT MENGHIBUR. NAMUN SETELAH ITU NRIMO  KEMBALI KESEPIAN. PARMAN GUMBIRA, MENGAMATI DARI JAUH. MUSIK SEDIH.

69. PARMAN
(MENGHAMPIRI) He! Kucari-cari kau di kost, nggak ada, katanya ke kampus. Aku pikir ngapain kamu ke kampus, paling mbantu jualan di kantin, eh…, tahunya malah nongkrong di sini, melamun lagi.

70. NRIMO
Merenung!

71. PARMAN
Apa sih bedanya melamun sama merenung? Aktivitasnya kan sama saja.

72. NRIMO
(TAK MENGHIRAUKAN PARMAN) Bila ternyata orang yang kucintai tidak mencintaiku, apakah seharusnya aku tidak mencintai orang yang mencintaiku…?

73. PARMAN
Weelah, sutris  tho? He, kamu salah besar kalau berpandangan seperti itu. Ingat, perempuan tidak hanya satu di dunia ini. Jangan pesimis, hilang satu dapat seribu.

74. NRIMO
Seribu mbahmu! Satu saja susah nyarinya.

75. PARMAN
Ini perumpamaan Mo agar semangat yang ada pada dirimu kembali menggelora, meski tantangan selalu menghadang. Yen tenanan entuk sewu, opo yo kuat ngladeni wong sewu.

76. NRIMO
Rasanya begitu menyakitkan Man. Tapi mungkin ini cambuk agar aku muali mencari langkah hidupku demi masa depan.

77. PARMAN
Contohlah aku, aku sudah bisa cari nafkah sendiri, punya kendaraan, punya rumah sendiri meski kecil-kecilan. Yang penting aku bisa meringankan beban orang tuaku.

78. NRIMO
Ya semua itu kan karena kuliahmu lancar, cepat punya ijazah yang bisa jadi modal buat nyari pekerjaan.

79. PARMAN
Siapa suruh kamu belum lulus?! Gelem-geleme tua neng sekolahan…!

80. NRIMO
Yah, mungkin aku terlalu sibuk dengan kegiatan ekstra.

81. PARMAN
Lho, jangan mengkambinghitamkan kegiatan. Itu semua tergantung strategi kita dalam menyiasatinya.

82. NRIMO
Okeylah, aku tak mau berdebat denganmu. Ngomong-omong tumben kamu balik ke sini, aku kira krasan jadi orang metropolis, hingga lupa semua teman.

83. PARMAN
Begini Mo, kebetulan atasanku membuka cabang perusahaan di sini. Karena kondiuteku baik, aku dipercaya mengelolanya. Sebenarnya aku sudah agak lama berada di sini bersama ayah dan adikku menempati rumahku yang baru, namun karena banyaknya tugas, baru sekarang bisa menemuimu.

84. NRIMO
Terus rencanamu?

85. PARMAN
Aku bermaksud mengajakmu untuk bekerja di perusahaan ini.

86. NRIMO
Tapi apa aku mampu Man? Aku belum punya pengalaman.

87. PARMAN
Sebagai sahabatmu, aku yakin benar bahwa kamu punya kemampuan seperti yang kuharapkan. Bagaimana? (NRIMO TERDIAM) Dan pekerjaanmu nanti aku yakin tak akan menyita waktumu.

88. NRIMO
Wah menyenangkan sekali…

89. PARMAN
Begitulah. Setelah itu kamu pasti tak akan tongpes lagi.

90.
NRIMO
Siapa bilang kantongku kempes. Lihat, dompetku penuh dengan kertas-kertas berharga.

91. PARMAN
Apa itu?

92. NRIMO
Japlakan!

93. PARMAN
Wee.. lha!

94. NRIMO
Kemajuan jaman, Man, jangan kaget.

95. PARMAN
Pantesan kuliahmu seret.

96. NRIMO
(NYENGIR)

97. PARMAN
Sekarang aku masih ingin ngobrol sambil melepas kangen denganmu, tapi lebih baik di rumahku saja. Syukur kalau kamu mau tinggal denganku nanti, bersama keluargaku. Lumayan kan bisa ngirit uang kost.

98. NRIMO
Ah, merepotkan saja.

99. PARMAN
Ah, tidak. Aku sungguh-sungguh Mo. Okey?

100. NRIMO
Okey, okey.

******************************************************

ADEGAN 2

MUSIK. IYEM SUCOWATI GELISAH DI TAMAN. TAK LAMA SINGO DIKROMO MUNCUL.

101. IYEM
Mas Singo…

102. SINGO
Oh, oh, maafkan aku Sayang. Takkan kubiarkan kau menunggu terlalu lama. Kini aku telah datang Sayangku…, songsonglah…!

103. IYEM
Ah Mas ini kayak masih muda saja. (MENGAMATI) Waduuh bregase, pakai jas segala, aduh dasinya, celananya, sepatunya, rambutnya…, lho kok nggak disemir Mas, kan jadi tambah keren!

104. SINGO
Nggak apa tho? Yang penting kan Mas datang. Soalnya tadi Mas terburu-buru, habis njagong manten langsung ke sini, belum sempat pulang jadi ya nggak bisa dandan super ekstra.

105. IYEM
Eh, tadi Mas naik apa, kok nggak kedengaran suara mesinnya?

106. SINGO
Anu kok, cuma naik mobil. Itu kuparkir dekat pintu gerbang.

107. IYEM
Kenapa di parkir di situ, nanti hilang lho Mas, sekarang lagi jamannya nggak aman. Tadi sudah digembok apa belum?

108. SINGO
Nggak papa kok Dik, wong sudah dijaga sama supir kok. Tadi supirnya tak-apusi, aku pamitnya mau pipis sebentar.

109. IYEM
Sampeyan ini lucu Mas, mongsok mau pipis kok ya di sini. Pasti supirnya bingung lho.

110. SINGO
Namanya saja ngapusi, ya bebas tho?

111. IYEM
Mbok kalau mau nemui saya nggak usah bawa supir Mas, jadi nggak ngrepoti.

112. SINGO
Kalau nggak bawa supir, ya nggak bisa bawa mobil.

113. IYEM
Lho memangnya kenapa Mas?

114. SINGO
Aku kan nggak bisa nyupir, apa mau dituntun itu mobil, ya abot no! Dan lagi sebagai orang kaya, kan nggak ada salahnya ngingu supir. Yah idep-idep bagi-bagi rejekilah…!

115. IYEM
Mas ini senangnya merendahkan diri.

116. SINGO
Begini lho Dik, aku mau ngomong penting. Hubungan kita kan sudah cukup lama, aku berharap untuk lebih diseriuskan lagi. Aku sudah punya rencana untuk mengenalkanmu dengan anak-anakku, agar nantinya kamu bisa terbiasa dengan mereka.

117. IYEM
Oh, itu sudah sangat kuharapkan Mas, kapan Mas?

118. SINGO
Tapi apa kamu nggak malu kalau calon suamimu ini cuma seorang duda tua dengan dua anak, sedangkan kamu seorang mahasiswi cantik yang tentunya sedang menjadi incaran mahasiswa-mahasiswa tampan.

119. IYEM
Itu sudah kupikirkan masak-masak. Biarpun duda, Mas telah memiliki segalanya. Baik itu pengalaman, kekayaan, yang semua itu menjadikan kharisma tersendiri buatku. Kaulah segalanya Mas.

120. SINGO
Aku sangat senang mendengarnya.

121. IYEM
Tapi, saya harus bersikap bagaimana di depan anak-anak, Mas. Bagaimana pula dengan penampilanku, saya khawatir akan mendapat malu di hadapan mereka.

122. SINGO
Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka anak-anak yang baik dan sudah dewasa dalam berpikir dan bertindak. Mereka juga sangat berbakti padaku, orang tuanya. Nah, karena kamu adalah bagian dari hidupku, maka mereka juga akan menghormatimu pula. Untuk menjaga penampilanmu, besok akan kukirim orang untuk mengantarkan beberapa potong pakaian dan perhiasan untukmu.

123. IYEM
Oh Mas…, sungguh baik budimu..

SOPIR MASUK TANPA MEREKA SADARI.

124. SINGO
(BANGGA) Aaahhh… (TERKEJUT MELIHAT SOPIR) Lho kenapa kamu ke sini?

125. SOPIR
Maaf Pak, mau nanya…, pipisnya sudah, belum?

126. SINGO
Sebentar, belum tuntas! (KE IYEM) Maaf, terpaksa aku harus meninggalkanmu, karena ada beberapa urusan yang mesti aku selesaikan. Jaga dirimu baik-baik.

127. IYEM
Terima kasih, Mas…!

128. SINGO
(KE SOPIR) Ayo!

129. SOPIR
Baik, Pak. Permisi dulu Mbak..! (TERSENYUM KE IYEM PENUH ARTI)

******************************************************

ADEGAN 3

MUSIK. DI BERANDA, PARMAN GUMBIRA DAN WULAN SUMRINGAH SEDANG BERBINCANG DENGAN SINGO DIKROMO.

130. SINGO

Anak-anakku, aku harap kalian akan menyambut gembira apa yang akan aku sampaikan. Tidak usah bingung dan gelisah, apa yang akan aku sampaikan nanti hanyalah permasalahan biasa namun penting karena menyangkut ketentraman rumah tangga kita. Kalaulah pada akhir-akhir ini aku sering diam atau pun sering keluar rumah, itu bukan berarti aku sudah tidak memperhatikan kalian. Di usiaku yang makin senja ini, aku malah semakin saying pada kalian. Apalagi kalian merupakan anak-anak yang sangat berbakti pada orang tua. Parman, karena usahamulah kehidupan keluarga yang dulu morat-marit, kini sudah berbeda jauh. Dan Wulan, karena naluri kewanitaanmulah maka kehidupan rumah tangga kita bisa tertata rapi. Di lingkungan, kita terpandang sebagai keluarga harmonis, walaupun tidak adanya seorang ibu.

131. PARMAN

Parman belum begitu paham maksud Bapak. Dan Parman rasa Bapak tidak perlu membesar-besarkan apa yang telah Parman lakukan terhadap keluarga, karena itu sudah mejadi tanggungjawab kita bersama.

132. WULAN

Betul Pak. Yang Wulan dan Mas Parman inginkan tak lain adalah agar Bapak merasa senang dan tenteram bersama kami, karena hanya itulah yang dapat kami lakukan sebagai darma bakti kami kepada Bapak yang telah mendidik dan membimbing kami. Apalagi Wulan hanya mengenal Bapak sebagai orang tua kami satu-satunya.

133. SINGO

Yah, Tuhan memang telah menghendaki begitu. Terlalu cepat Ibumu dipanggilNya. Aku kasihan kalian kurang mendapatkan kasih saying seorang ibu, tapi aku tidak bisa berbuat banyak. Aku hanya bisa berbuat pasrah dan menerima takdir Tuhan.

134. WULAN

Kalau itu sudah menjadi kehendak memang tak bisa kita pungkiri. Lantas kenapa Bapak tidak mencari saja seorang wanita sebagai pengganti Ibu? Terus terang Wulan prihatin dengan kesendirian Bapak.

135. SINGO

Sebenarnya hal itu sempat pula menjadi angan-anganku, namun aku tak mau kasih sayangku pada kalian terbagi-bagi, apalagi waktu itu kalian masih kecil. Kalian adalah tanggungjawabku yang tak boleh ku sia-siakan.

136. WULAN

Tapi untuk itu Bapak telah berkorban cukup banyak.

137. SINGO

Itu sudah tanggung jawab orang tua. Justru aku sangat menyesal karena tidak bisa membiayai kalian untuk meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, hanya karena ekonomi kita yang pas-pasan. Namun untunlah Parman punya tekad yang kuat untuk maju dengan kuliah sambil bekerja hingga bisa seperti sekarang ini, bisa membantu kehidupan keluarga, bahkan bisa pula mencarikan pekerjaan buat Wulan.

138. PARMAN

Sekarang kami sudah dewasa dan bisa hidup mandiri, dan bila segala sesuatunya telah terpenuhi, tentunya Dik Wulan akan  segera meresmikan hubungannya dengan Nrimo.Nah, apakah Bapak sekarang juga tetap tidak berniat untuk beristri lagi? Parman rasa sudah cukup besar pengorbanan Bpak terhadap kami. Bapak perlu memikirkan diri Bapak sendiri.

139. SINGO

Itu yang ingin aku diskusikan dengan kalian.

140. WULAN

Maksud Bapak, Bapak sudah punya calon untuk ibu kami?

141. SINGO

Betul. Kuharap kalian tidak kaget, ia masih sangat muda, kira-kira seumur Wulan.

142. WULAN

Bagi kami tidak masalah, yang penting Bapak bahagia.

143. PARMAN

Kapan Bapak akan membawanya kemari?

144. SINGO

Insya Allah Minggu depan ia akan ke sini. Semoga kalian bisa menerimanya dengan baik. Namanya Iyem Socawati, seorang mahasiswi.

145. WULAN

Wah hebat! Tak kusangka Bapak masih bisa menggaet seorang mahasiswi.

146. PARMAN

Iyem…, jangan-jangan…

147. SINGO

Kamu sudah mengenalnya Man? Kalau memang demikian itu malah bagus, kalian jadi bisa cepat akrab.

148. PARMAN

Belum kok Pak. Parman cuma ingat kalau dulu Nrimo pernah cerita bahwa ia punya teman yang sama persis namanya dengan gadis yang Bapak sebutkan tadi. Tapi, ah mungkin hanya sama nama.

149. SINGO

Tak usahlah kalian khawatir, ia gadis yang baik,. Aku rasa ia pun akan cocok dengan kalian. Nah, tolong persiapkan segala sesuatunya, aku mau istirahat.

150. PARMAN DAN WULAN

Baik Pak.

151. SINGO

Wulan, beritahu juga si Nrimo tentang rencana ini, toh ia juga akan menjadi bagian keluarga kita.

152. WULAN

Baik Pak.

153. SINGO

Oh ya Parman, kalau bisa besok pinjam mobilnya buat ngambil pensiun sekalian cari kebutuhan.

154. PARMAN

Monggo Pak. (KEPADA WULAN)  Wulan, kalau Nrimo pulang nanti, suruh ia menemui aku di kamar, ada yang ingin aku sampaikan.

155. WULAN

Ya Mas, nanti aku sampaikan.

TAK BERAPA LAMA NRIMO DATANG DIIRINGI SUARA MESIN KENDARAAN, WULAN SEGERA MENYAMBUTNYA.

156. WULAN

Mas Nrimo, Mas Parman menunggumu. Ada yang ingin disampaikan katanya.

157. NRIMO

(BERSIAP MASUK)

158. WULAN

Eee, anu Mas…, Mas Nrimo tahu nggak, gadis yang bernama Iyem Socawati?

159. NRIMO

Dari mana kau tahu nama itu?

160. WULAN

Itu tak penting. Pokoknya Mas harus menceritakannya padaku.

161. NRIMO

Apa yang harus kuceritakan Wulan? Tak ada yang kuketahui tentang nama itu.

162. WULAN

Aku tahu Mas membohongiku. Kalau Mas benar-benar sayang Wulan, Mas harus berterus terang. Bukankah kita mesti saling terbuka?

163. NRIMO

Baiklah. Terus terang dulu ia gadis yang amat kusayangi. Dialah gadis pertama yang senantiasa menghiasi mimpi-mimpiku. Dia pula yang selalu mengisi hari-hari sepiku. Tapi rupanya cintaku bertepuk sebelah tangan, dia menolakku dengan suatu alasan yang sangat menyakitkan.

164. WULAN

Lantas?

165. NRIMO

Yah, dia menolak uluran cintaku lantaran aku hanyalah seorang mahasiswa kere, melarat, yang tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan bagi dirinya.

166. WULAN

Mas Nrimo kecewa?

167. NRIMO

Memang, aku amat kecewa, bahkan sakit hati. Bukan karena ia tak mencintaiku, tapi karena aku sama sekali tak menyangka bahwa gadis yang sudah amat dekat denganku ternyata memiliki pandangan seperti itu. Cinta hanya karena materi. No money no love. Memang harus kuakui bahwa sebagai mahasiswa kere, prospek hidupku tak bisa diharapkan. Untunglah aku bertemu dengan kakakmu yang banyak membantuku, bahkan kakakmu sanggup pula mengobati luka hatiku tidak hanya dengan memberi pekerjaan, namun juga dengan adik perempuannya yang teramat lembut.

168. WULAN

Ah…, Mas Nrimo bisa saja. Sekarang, apakah Mas Nrimo masih mengharap ia kembali?

169. NRIMO

(MELEDEK) Kalau iya bagaimana?

170. WULAN

Ya kembali saja padanya.

171. NRIMO

Kamu mengizinkannya?

172. WULAN

Tak ada yang memberatkan aku untuk tidak menginjinkanmu, pergilah.

173. NRIMO

Malam-malam begini? Dingin lagi.

174. WULAN

Gelap dan dinginnya malam bukanlah halangan buat menemui yang terkasih.

175. NRIMO

Tidak Wulan. Itu semua hanya kenangan masa lalu yang semu. Yang kukasihi sekarang hanya engkau. Aku mencintaimu Wulan.

176. WULAN

Cinta bukan berarti saling memiliki kan? Ayo pergilah, dan jangan anggap aku apa-apamu lagi.

177. NRIMO

Kamu sungguh-sungguh Wulan?

178. WULAN

Seperti yang kamu lihat.

179. NRIMO

Baiklah kalau itu maumu. Aku pergi! (BERSEMBUNYI DI BELAKANG PANGGUNG)

180. WULAN

(MENYESAL) Mas Nrimo…! Aduuuh, kenapa jadi begini, aku jadi nggak sungguhan Mas…, aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku sendiri Mas…!

181. NRIMO

(LEWAT BELAKANG, MENIRUKAN SUARA SINGO) Ada apa Wulan, kamu ada masalah dengan Nrimo?

182. WULAN

Eee…, ti ti tidak Pak…! (MEMBALIK) Aaahhhh…, Mas Nrimo mempermainkan aku…! (MENCUBIT, GEMAS).

183. NRIMO

Lho, katanya suruh pergi, ya aku pergi.

184. WULAN

Habis Mas Nrimo nganyelke kok.

185. NRIMO

Yah, sekali-kali bercinta pun perlu variasi kan? He, ngomong-ngomong kenapa kamu nanya-nanya Iyem?

186. WULAN

Begini Mas, tadi Bapak bilang kalau ada seorang gadis bernama Iyem yang mau datang ke sini.

187. NRIMO

Lho apa hubungannnya ?

188. WULAN

Sebentar Mas, aku belum selesai ngomong. Sabar sedikit kenapa sih? Gadis bernama Iyem itu adalah calon istri Bapak. Kata Mas Parman, Iyem dulu pernah dekat dengan Mas Nrimo.

189. NRIMO

(SEPERTI MEMIKIRKAN SESUATU)

190. WULAN

Kenapa Mas?

191. NRIMO

Nggak, yah moga saja ia sudah berubah, tidak seperti dulu lagi sifatnya.

192. WULAN

Tadi Bapak pesan supaya Mas Nrimo ikut pula menyambutnya.

193. NRIMO

Ah, kurasa aku tak perlu menemuinya. Bayang-bayang itu masih sulit untuk dilupakan.

194. WULAN

Mas Nrimo takut jatuh cinta lagi?

195. NRIMO

Ngawur! Masak saingan sama calon mertua.

196. WULAN

Kalau begitu Mas ikut menyambutnya ya.

197. NRIMO

Nanti kupikirkan dulu, asal…, kamu tak cemburu bila nanti ia malah bersikap mesra padaku…

198. WULAN

(GEMAS) Iiihhh…, sengit aku!

199. NRIMO

Tapi cinta kan ?

200. WULAN

Eh Mas, kalau apa yang Mas katakan tadi tentang Iyem benar, aku jadi kasihan sama Bapak. Lebih baik Bapak kita beritahu saja.

201. NRIMO

Jangan Wulan, kalau Bapak marah, aku kan jadi nggak enak.

202. WULAN

Tapi ini demi kebaikan kita bersama Mas. Jangan sampai kita kecewa setelah segala sesuatunya terjadi. Ku mohon Mas Nrimo ikut pula menjelaskan pada Bapak.

203. NRIMO

Yah apa boleh buat, asal kalau ada apa-apanya kita tanggung bersama.

******************************************************

ADEGAN 4

DALAM SILHUET NAMPAK SINGO DIKROMO, PARMAN GUMBIRA DAN NRIMO PRASOJO SERTA WULAN SUMRINGAH TERLIBAT PEMBICARAAN.

204. SINGO

Jadi benar apa yang kau katakan?

205. NRIMO

Begitulah Pak. Semuanya sudah saya sampaikan tanpa tendensi apa-apa.

206. SINGO

Aaah.., apa yang sebenarnya kalian maui. Sebelumnya kalian telah setuju, tapi kini kalian mengungkapkan suatu hal yang sepertinya memberatkan rencanaku ini.

207. PARMAN

Maafkan kami Pak. Bukannya kami tak setuju dengan rencana Bapak, namun kami mohon Bapak mau mempertimbangkan omongan kami. Kami takut Bapak akan kecewa nanti bila ternyata ia tak seperti yang Bapak bayangkan. Apalagi…

208. SINGO

Apalagi apa? Tak bolehkan aku sedikit mengecap kebahagiaan di masa tuaku. Lama aku menahan gejolak ini, baru setelah kalian aku anggap untuk bisa mengerti…

209. WULAN

(MENYAHUT) Paakk.., kalau memang itu bisa membahagiakan Bapak, lakukanlah…, kami akan berusaha mengerti sikap Bapak. Jangan hiraukan perkataan kami, anggap saja angin lalu yang sekedar melintas.

210. NRIMO

Begini Pak, tanpa sepengetahuan Bapak, kami telah mengamati dan mencari informasi dari beberapa teman tentang perilaku Iyem yang sebenarnya.

211. PARMAN

Yang memberatkan kami, karena Iyem ternyata telah…, Iyem telah…, berisi.

212. SINGO

Jagad Dewa Batara…!! Lelakon apalagi ini …!!

213. WULAN

Kami yakin bukan Bapak yang melakukannya. Kami tahu persis bagaimana sifat Bapak. Oleh karena itu kami mohon, pertimbangkanlah masak-masak Pak…

214. SINGO

(MENDESAH) Aaaahhh…, apalagi yang harus kulakukan kini…. Bagaimana pula aku harus mengatakan padanya…, aahh…

215. PARMAN, NRIMO, WULAN

Maafkanlah kami Pak.

******************************************************

ADEGAN 5

MUSIK. SINGO DIKROMO GELISAH DI BERANDA MENANTI KEDATANGAN IYEM. PERASAANNYA TERBELAH ANTARA CINTANYA PADA IYEM DAN PERTIMBANGAN ATAS PENDAPAT ANAK-ANAKNYA.

216. IYEM

(MESRA) Mas Singo…

217. SINGO

(KAKU) ee, mari, mari silakan duduk…

218. IYEM

Kok sepi Mas, mana anak-anak ?

219. SINGO

Ada di dalam. Mereka sedang sibuk dengan urusannya sendiri. (TERDIAM)

220. IYEM

Ada apa Mas? Mas kelihatannya lain dari biasanya.

221. SINGO

Ah, itu hanya perasaanmu saja Yem. Tapi yah, memang ada beberapa masalah yang masih mengganjal di hatiku, dan itu ingin kutanyakan padamu.

222. IYEM

Katakanlah Mas, katakanlah…

223. SINGO

Benarkan kau mencintaiku sebagaimana halnya aku mencintaimu?

224. IYEM

Berapa kali lagi saya harus menjelaskannya Mas, Mas Singolah harapanku satu-satunya.

225. SINGO

Apakah selama kau bersamaku, ada pria lain tempat berbagi kasih bagimu?

226. IYEM

Apa maksud pertanyaan Mas Singo? Apakah Mas menyangsikan cintaku?

227. SINGO

Maksudku apakah ada pria lain yang kau kasihi yang telah menanamkan benih di rahimmu?

228. IYEM

(TERHENYAK) Mas…!

229. SINGO

Ya. Aku memang tidak menyangsikan cintamu padaku karena aku tahu bahwa akulah dambaanmu, akulah harapanmu satu-satunya yang kau harapkan bisa menutupi aibmu.

230. IYEM

(DI ANTARA ISAK) Mas!

231. SINGO

Oh Iyem, seharusnya kau tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu sepenuh hati. Tapi, oh…, kau telah mengecewakanku dengan segala cinta yang semu…

232. IYEM

Oohh…, Mas ko mohon maafkan aku. Berilah aku kesempatan untuk menebus kekhilafanku. Saya benar-benar menyesal Mas.

233. SINGO

(SABAR, TENANG) Sudahlah, tak ada yang perlu disesali, semua telah terjadi.

234. IYEM

Terima kasih Mas, sungguh baik budimu, Saya berjanji, kelak saya akan memperbaiki sikapku, apalagi bila nanti sudah bersanding denganmu.

235. SINGO

Tidak Iyem. Tak perlu kau berjanji, yang penting tanamkan niat itu pada lubuk hatimu. Dan satu hal yang ingin aku sampaikan padamu, meski berat namun harus kukatakan, bahwa sepertinya aku tak layak untuk bersamamu lagi.

236. IYEM

(KAGET) Mas! Saya berjanji Mas, beri saya kesempatan… (MEMOHON)

237. SINGO

Maafkan aku Iyem, itu sudah menjadi keputusanku. Aku takut kekecewaan akan menyertaiku bila aku terus bersamamu. Kurasa masih banyak waktu untuk berbenah karena perjalananmu masih panjang. Baiknya kebersamaan kita selama ini, kita jadikan sebagai kenangan. Maafkan, aku harus meninggalkanmu. (MASUK).

238. IYEM

(SEDIH) Maas…!!

DI SAAT IYEM TERMENUNG MENYESALI DIRINYA, NRIMO DATANG DAN PURA-PURA TIDAK TAHU TENTANG KEBERADAAN IYEM DI RUMAH SINGO. DI WAKTU YANG BERSAMAAN, WULAN MEMPERHATIKAN DARI BALIK PINTU DENGAN PERASAAN WAS-WAS.

239. NRIMO

Lho…, Iyem, bukankah kamu Iyem…?

240. IYEM

(MENGAMATI) Mo…, kamu Nrimo, kan? Kok kamu di sini ?

241. NRIMO

Kebetulan saja aku lewat. Tadi kulihat, seperti kamu yang berada di sini, jadi ya aku mampir saja. Gimana kabarnya Yem?

242. IYEM

Baa…, baaik. Wah, kamu kelihatan berubah Mo.

243. NRIMO

Ah biasa saja. Aku masih seperti yang dulu. Hanya saja kita lama nggak jumpa, jadi mungkin kamu agak pangling. Justru kamu yang makin cakep saja.

244. IYEM

Ah bisa saja kamu ini. Eh, kemana saja kamu selama ini Mo, aku mencarimu.

245. NRIMO

Ada apa kamu mencari aku? Ku kira kamu sudah lupa padaku.

246. IYEM

Aku mau minta maaf padamu. Terlalu banyak dosa yang kulekatkan pada kebersamaan kita dulu.

247. NRIMO

Aku sudah tak memikirkannya lagi, semua itu hanyalah kenang-kenangan di masa lalu.

248. IYEM

Tapi rasanya masih membekas di hatiku. Bahkan akhirnya kusadari bahwa kau bergitu berarti bagiku. Aku ingin mengulang semua kenangan indah bersamamu. Gimana Mo?

249. NRIMO

Kepribadianku tak sepadan dengan citra dirimu Yem.

250. IYEM

Jangan kau ingatkan itu lagi Mo, aku sungguh menyesal. Kini aku mohon padamu, Mo…

251. NRIMO

Tidak Yem. Aku begitu menyadari keadaan diriku. Tak mungkin lagi aku bisa bersamamu, meski dulu aku begitu mengharapkanmu. Keadaan telah menentukan lain, tak mungkin aku menjilat ludah kembali.

252. IYEM

Tak kasihankah kau padaku, Mo?

253. NRIMO

Bukan begitu Yem, kalau aku kembali padamu, berarti aku telah mengecewakan dan menyia-nyiakan perasaan seseorang yang mau menerima aku apa adanya, bahkan telah mengobati luka di hatiku (BERSAMAAN DENGAN ITU WULAN MUNCUL).

254. WULAN

(MESRA, MENDEKAT KE NRIMO) Maass…

255. NRIMO

Maafkan aku, Yem… (MEMBIMBING WULAN MASUK)

256. IYEM

(TERMANGU DENGAN EKSPRESI TAK MENENTU, SEDIH, SESAL).

LAMPU MEMFOKUS PADA IYEM DI TENGAH ARENA, TIBA-TIBA MUNCUL SOSOK LELAKI (SOPIR) MENDEKAT PERLAHAN. MEREKA SALING BERPANDANGAN, DAN IYEM MENERIMA ULURAN TANGAN SOPIR YANG KEMUDIAN MEMBAWANYA PERGI. LAMPU MEREDUP DAN AKHIRNYA GELAP. MUSIK MENGHENTAK.

“Wisma Dewantoro”

Ngoresan Jebres Solo, November 1994

————————————————————————————————————————-

 SANG PENOLONG

Sandiwara Pramuka karya  Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno

(Telah dipentaskan oleh Kelompok Teater  “SPETIG” SMP Negeri 3 Purwareja Klampok Banjarnegara dalam Perkemahan Pramuka pada hari Jumat, 6 Agustus 2010, di Lapangan Desa Kalimandi, Purwareja Klampok, Banjarnegara)

MUSIK RIANG. SUASANA MALAM DI PERKEMAHAN PRAMUKA DENGAN API UNGGUN YANG MENYALA. SEKELOMPOK ANGGOTA PRAMUKA SEDANG BERMAIN SAMBIL BERNYANYI SENANG.

LEO : Teman-teman, ayo kita main-main sambil nyanyi…!

PRAMUKA : (BERSAHUTAN) Ayo…, ayo…, ayo…!!

PARA PRAMUKA MEMBENTUK FORMASI, KEMUDIAN MENYANYI DENGAN GEMBIRA.

Lagu:

Satu minggu satu kali, latihan

Anak didik dan pembina, seragam

Selalu seia sekata

Gembira bersama-sama

Aduh, cantiknya…

Aduh, gagahnya…

Aduh, cakepnya…

Itulah dia Pramuka..!

SEDANG ASYIK-ASYIKNYA BERMAIN DAN BERNYANYI, TERDENGAR PELUIT PEMBINA MEMANGGIL. MUSIK BERHENTI SEKETIKA.

PEMBINA : Priiit…. Priiit… Priiitt….!

PRAMUKA : Siaap…! (BERLARI MENDEKAT, BERBARIS DENGAN SIKAP SEMPURNA)

PEMBINA  : Selamat malam, Adik-adik..!

PRAMUKA : Selamat malam, Kak…!

PEMBINA : Pada malam yang indah ini, marilah kita senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat dari Allah SWT. Kakak merasa senang melihat Adik-adik dapat bergembira, bermain, dan bernyanyi. (TERDIAM SEJENAK, MELIHAT AZIZ DAN ADIT YANG ASYIK BICARA) Aziz, Adit! Tolong perhatikan!

AZIZ+ADIT : Siap Kak! (MEMPERHATIKAN PEMBINA)

PEMBINA : Namun demikian, Kakak berharap Adik-adik tidak melupakan tugas sebagai Pramuka (AZIZ DAN ADIT KEMBALI BERULAH) Aziz, Adit! Maju ke depan!

AZIZ+ADIT : Siap Kak! (KE DEPAN)

PEMBINA  : Kalian berdua telah melakukan kesalahan. Sekarang kalian berdua, push up lima kali!

AZIZ+ADIT : Siap Kak! (PUSH UP, YANG LAIN MENGHITUNG)

PEMBINA : Semuanya saja tolong camkan! Apabila ada orang tua sedang berbicara, mohon untuk diperhatikan. Apa yang telah diperbuat Aziz dan Adit tadi tidak boleh dicontoh karena hal itu sangat bertentangan dengan jiwa seorang Pramuka. Paham. Adik-adik?!

PRAMUKA : Paham, Kak!

PEMBINA : Nah, berkaitan dengan jiwa seorang Pramuka, Kakak akan menguji kalian tentang pengamalan Dasa Dharma. Siap Adik-adik?!

PRAMUKA : Siaaapp, Kak…!

PEMBINA : Leo, coba sebutkan bunyi Dharma yang pertama!

LEO : Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa!

PEMBINA : Ya pintar! Aziz, sebutkan bentuk pengamalan dari Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa!

AZIZ : Selalu menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya!

PEMBINA : Bagus! Selanjutnya Pipit, sebutkan bunyi Dharma yang ke sembilan!

PIPIT : Bertanggung jawab dan dapat dipercaya!

PEMBINA : Ya tepat! Terus, bagaimana bentuk pengamalannya Adit!

ADIT : Selalu melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya, Kak!

PEMBINA : Bagus! Sekarang Devi, apa bunyi Dharma yang ke lima!

DEVI : Rela menolong dan tabah!

PEMBINA : Cerdas kamu! Sekarang Siti, apa bentuk pengamalan dari rela menolong dan tabah?

SITI : Pramuka harus selalu siap untuk menolong orang yang mendapat kesusahan!

TIBA-TIBA TERDENGAR SUARA GEMURUH DISERTAI DENGAN LEDAKAN. SEMUA PANIK, KETAKUTAN DENGAN PENUH TANYA. MUNCUL DUA ORANG PENDUDUK DESA DENGAN TERGOPOH-GOPOH, BERTERIAK MINTA TOLONG SAMBIL MENANGIS.

PENDUDUK  I : Tolong, tolong….!!

PENDUDUK  II : Tolong, tolooong…!!

PRAMUKA : (BERSAHUTAN) Ada apa Bu, ada apa Bu….!!

PENDUDUK  I : Aduh tolong, tolong…!!

PENDUDUK  II : Aduh tolong, tolong…!!

PEMBINA : Ada apa Bu…?

PENDUDUK  I :(SEDIH, MENANGIS) Gas elpiji saya meledak…!!

PENDUDUK  II : (SEDIH, MENANGIS) Iya, elpiji saya juga meledak…!

PRAMUKA : Ooh, gas elpijinya me-le-dak…!!

AZIZ : Alhamdulillah…!!

PRAMUKA : Huss…! Kok, alhamdulillah?

AZIZ : Untung, api unggun kita tidak pakai elpiji…!

PEMBINA : Priit, priit, priiitt….! Ayo Adik-adik, kita segera memberikan pertolongan!

PRAMUKA : Siaaap, Kak…!!

SEMUA PEMAIN BERLARI KELUAR ARENA PEMENTASAN, DIIRINGI MUSIK YANG RIUH.

SELESAI.

Banjarnegara, 26 Juli 2010

Baca juga Return to Edan.

4 comments on “Drama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s