ruang imaji

  • Buku Tamu
  • Cerpen
  • Drama
  • Puisi
  • Tentang Blog
  • Tentang Penulis

Pengajaran Drama di Sekolah

Posted by ruangimaji on 11 Februari 2012
Posted in: Kesastraan, Pendidikan. Tagged: MAN 2 Banjarnegara, pengajaran drama, Teater Peron. 2 komentar

Sebagai hasil kreasi dan ekspresi jiwa, karya sastra mampu mengungkap fenomena kehidupan, gejolak jiwa, pikiran, perasaan, ide, maupun gairah kreativitas yang berkecamuk dalam diri manusia. Amat disayangkan bila seluruh potensi yang dimiliki manusia tersebut terbuang dengan percuma, tanpa adanya wadah kegiatan yang menampungnya. Adapun salah satu bentuk wadah kegiatan yang dapat ditawarkan adalah kegiatan drama.

Pengajaran Drama

Pengajaran sastra, khususnya drama di sekolah sampai saat ini masih menitikberatkan pada aspek kognitif atau pengetahuan saja. Akibatnya, para siswa hanya mampu mengetahui atau mungkin hapal istilah-istilah yang ada dalam teori drama, di antaranya judul naskah, ringkasan cerita, maupun nama pengarangnya. Keadaan seperti ini tentu saja tidak dapat dijadikan tuntutan agar siswa mampu aktif dalam suatu kegiatan.

Yang diharapkan dari pengajaran apresiasi drama pada dasarnya adalah segi apresiasinya, yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Itulah sebabnya, kegiatan apresiasi drama di kalangan para siswa merupakan masalah yang harus ditangani bersama. Di samping memiliki pengetahuan yang layak mengenai drama, diharapkan para siswa memiliki atensi yang pantas terhadap kegiatan drama. Bahkan bila dimungkinkan mampu melakukan kegiatan praktik berupa pementasan drama.

Untuk dapat menyampaikan materi pengajaran drama dengan baik diperlukan tenaga pengajar yang benar-benar mampu dan menguasai seluk-beluk drama, baik secara teori maupun praktik. Penguasaan teori dan praktik secara bersama sangat penting agar nantinya para siswa mampu menerapkan teori yang diperolehnya pada saat proses belajar mengajar berlangsung, ke dalam bentuk praktik pementasan naskah drama. Untuk dapat menghasilkan hasil pementasan yang bermutu, tentu saja diperlukan keterlibatan bimbingan tenaga pengajar yang kompeten.

Namun, pada kenyataannya jarang sekali ada pengajar materi Bahasa Indonesia yang betul-betul menguasai teori dan praktik drama sekaligus. Biasanya para pengajar hanya menguasai kemampuan secara teori saja. Padahal, kemampuan teori tanpa dibarengi dengan kemampuan praktik akan terasa hambar. Barangkali para guru kurang menaruh minat terhadap bidang apresiasi drama karena beranggapan bahwa dirinya akan menemui banyak kesulitan, takut pada bayangan sebelum mencobanya. Hal yang demikian tentu saja tidak dapat merangsang minat siswa untuk gemar menggeluti kajian drama. Siswa menjadi kurang dapat menghayati dan menikmati keindahan yang timbul dari kegiatan apresiasi drama karena guru tidak pernah mengajarkannya.

Alternatif Upaya

Upaya yang pertama kali harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan apresiasi drama pada siswa adalah meningkatkan minat dan kemampuan kita sebagai pengajarnya. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus supaya diri kita terhindar dari sebutan “jarkoni”, bisa ngajar ora bisa nglakoni (bisa mengajar namun tidak bisa melakukan sendiri). Setelah itu, dapat kita lakukan dengan mengajak siswa untuk mengikuti kegiatan apresiasi drama, baik dengan menyaksikan pementasan drama (secara langsung atau melalui rekaman) maupun dengan berlatih memerankan tokoh-tokoh yang terdapat dalam naskah drama.

Akan lebih baik lagi bila dibentuk suatu wadah kegiatan guna menampung dan menyalurkan kemampuan siswa berupa kegiatan drama atau kelompok teater. Adapun waktu pelaksanaan kegiatan bila pada jam-jam pelajaran efektif tidak memungkinkan, dapat dilakukan di luar jam pelajaran. Dengan kata lain, drama tersebut dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.

Dengan mengikuti kegiatan drama, siswa dapat memetik berbagai manfaat yang terkandung dalam karya drama, yang banyak mengungkap dramatiknya gelombang kehidupan manusia yang penuh dinamika. Di samping itu, dalam kegiatan tersebut siswa akan terlatih untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan sosial, seperti memiliki rasa tanggung jawab, bekerja sama dalam kelompok, setia kawan, dan mampu bahu-membahu demi tercapainya tujuan bersama. Dengan demikian, siswa dapat diarahkan pada suatu kegiatan yang positif.

Hal tersebut di atas, tentu saja membutuhkan peran serta aktif seorang guru sebagai pengajar dan orang tua siswa di sekolah. Dengan peran serta aktif tersebut, seorang guru dapat menjadi teladan bagi siswa di dalam menentukan langkah hidup di masa selanjutnya. (Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno*)

Menelusuri Jejak Tradisi, Meredam Gejolak Batin

Posted by ruangimaji on 24 Desember 2011
Posted in: Kesastraan, Pustaka. Tagged: Film Terbaik, Resensi Novel, Ronggeng, Sang Penari. 3 komentar

Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1982. Karya penulis asal Banyumas, Jawa Tengah ini diadaptasi ke dalam film Sang Penari (Internasional: The Dancer). Film ini dirilis pada 10 November 2011, disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dibintangi oleh Prisia Nasution sebagai pemeran utama, serta Oka Antara, Dewi Irawan, dan Slamet Rahardjo sebagai pemeran pendukung.

Dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2011, Sang Penari berhasil meraih 10 nominasi dan berhasil memenangkan 4 Piala Citra, semuanya untuk penghargaan utama, di antaranya adalah penghargaan tertinggi sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Ifa Isfansyah), Aktris Terbaik (Prisia Nasution), dan Aktris Pendukung Terbaik (Dewi Irawan).

Banyak resensi yang mengupas novel Ronggeng Dukuh Paruk ini. Berikut ini adalah salah satu resensinya:

Judul: Ronggeng Dukuh Paruk

Pengarang: Ahmad Tohari

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Kota, Tahun Terbit: Jakarta, 1992

Tebal Buku: 174 halaman

 

Karya sastra acapkali didudukkan sebagai bentuk ekspresi dan refleksi pengarang yang mencoba merekonstruksi pengalaman batin dan empirisnya. Ekspresi dan refleksi tersebut umumnya berkaitan dengan situasi dan kondisi sosiologis tempat pengarang menjalani kehidupannya. Secara langsung atau tidak, daya khayal pengarang dipengaruhi – bahkan ditentukan – oleh pengalaman manusiawi dalam lingkungan hidupnya. Kegiatan menulis karya sastra, dalam pemahaman semacam itu, menjadi usaha untuk melukiskan setiap pengalaman manusia di tengah lingkungan kehidupan yang ikut membentuk persepsi mengenai suatu kenyataan hidup. Teks sastra merefleksikan berbagai faktor sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, serta berbagai struktur sosial dan sistem budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk ini seakan menegaskan hal tersebut. Ada orientasi tematik tertentu yang telah dipilih oleh pengarang, yakni tentang tradisi dan perjuangan gender. Ketika membaca Ronggeng Dukuh Paruk, pembaca diajak untuk ikut mengamati sisi kehidupan manusia secara lebih dekat, yaitu bagian kehidupan yang sering kali belum mampu untuk dipahami, atau bahkan sama sekali luput dari perhatian kita. Dalam novel ini, Tohari seakan telah memilih sebuah dunia tempat ia bisa dengan fasih dan leluasa membedah pengalaman dan lingkungan sosial budaya yang ikut membentuk karakter kepengarangannya. Ia tak hanya memperjuangkan estetika pengucapan cerita. Ada keterlibatan yang kental dengan pergolakan manusia.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk berlatar kehidupan sebuah pedusunan, kehidupan orang-orang dalam lapisan bawah yang bodoh dan terbelakang, yang tidak menyadari akan kebodohan dan keterbelakangannya. Mereka hidup dengan intuisi, yang sepenuhnya didasarkan pada sasmita alam yang telah dipercaya secara turun-temurun. Cerita diawali dengan gambaran Dusun Paruk, sebuah dusun kecil, miskin, dan terpencil, yang saat iru sedang dilanda musim kemarau panjang. Adalah Rasus, anak Dukuh Paruk berusia 14 tahun, yang sangat merindukan sosok Emak. Emaknya menghilang dalam malapetaka tempe bongkrek yang dialami Dukuh Paruk sebelas tahun silam, saat Rasus masih berusia tiga tahun.

Cerita Nenek yang paling membuatku penasaran adalah yang menyangkut Emak. Bersama Ayah, Emak juga termakan racun. Bila Ayah langsung meninggal pada hari pertama, tidak demikian dengan Emak. Dia masih hidup sampai seorang mantri datang pada hari ketiga…

Oleh Pak Mantri, Emak bersama lima orang lainnya dibawa ke poliklinik di sebuah kota kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali ke Dukuh Paruk dalam keadaan hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi mayat. Emak tidak ada di antara mereka. (Tohari, 1992:47).

Kerinduan Rasus akan sosok Emak ternyata kemudian ditemukannya pada diri Srintil, anak perawan Dukuh Paruk berusia sebelas tahun, yang merupakan teman sepermainan Rasus. Kemudian Srintil berhasil membawa kegairahan hidup bagi Dukuh Paruk. Srintil dianggap telah dinaungi roh indang, roh yang dimuliakan di dunia ronggeng. Ronggeng memang menjadi kebanggaan Dukuh Paruk, dan telah sebelas tahun Dukuh Paruk tidak memiliki ronggeng. Tanpa ronggeng, Dukuh Paruk telah kehilangan jati dirinya. Dengan keluguan, atau mungkin kenaifannya Srintil merasa dilahirkan untuk menjadi ronggeng. Ronggeng, seperti yang diyakini dengan sepenuh hati oleh Srintil sendiri, adalah perempuan penari yang menjadi milik umum, terutama kaum lelaki.

“Nah, aku punya sandal kulit. Mulah. Baling baik. Na, kamu olang tida pantas beltelanjang kaki. Betismu bagus. Bayal sandalku. Nanti aku juga mau bayal kalau aku tidul di Dukuh Paluk.”

Seperti juga Pak Simbar, Babah Pincang juga gatal tangan. Bukan pinggul Srintil yang digamitnya, melainkan pipinya. Kali ini pun Srintil tak berusaha menolak. Bangsat lagi! (Tohari, 1992:132).

Hanya Rasuslah satu-satunya warga Dukuh Paruk yang dalam hatinya tak rela kalau Srintil menjadi seorang ronggeng. Ini lantaran Rasus sudah terlanjur membangun (menciptakan) bayangan Emak pada diri Srintil. Rasus tak rela bila “emaknya” disamakan dengan ronggeng. “… Tetapi demi Rahim yang telah membungkusku, aku tak tega membayangkan Emak sebagai perempuan yang selalu ramah terhadap semua laki-laki. Yang tak pernah menepis tangan laki-laki yang menggerayanginya. Tidak. Betapapun aku tak mampu berkhayal demikian” (Tohari, 1992:134).

Kehidupan Dukuh Paruk dengan segala isinya terbaca semuanya dalam corak hubungan antara Rasus dengan Srintil. Rasus pun dalam hatinya mengutuk Dukuh Paruk yang miskin, dengan masyarakat yang bodoh dan terbelakang. Namun apa daya, Rasus tak mampu berbuat apa-apa. Konflik batin dalam diri Rasus akhirnya menjadikan ia membuat keputusan untuk menghapus bayang-bayang Emak pada diri Sintil. Rasus akhirnya memilih meninggalkan Dukuh Paruk guna mencari kehidupan lain. Meski kecewa, ia merasa telah dapat memberikan sesuatu yang membanggakan pada Dukuh Paruk, yaitu seorang ronggeng.

Dalam novel ini Tohari mampu bercerita dengan lancar. Terutama ketika menampilkan deskripsi latar alam pedusunan. Tohari mampu memberikan kesan kepada pembaca bahwa karya ini tampak realistis, tampak sungguh-sungguh diangkat dari fenomena faktual. Hal ini terlihat pada bagian awal cerita yang mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan latar kejadian. Di bagian ini digambarkan suasana Dukuh Paruk yang terpencil dan tengah dilanda musim kemarau panjang. Masyarakatnya masih menganut ilmu kebatinan yang berkiblat pada cungkup leluhurnya, Ki Secamenggala. Deskripsi latar diberikan relatif panjang, sehingga mampu menyeret pembaca ke dalam cerita dan menjadi ikut terlibat secara emosional.

Latar geografis Dukuh Paruk yang terpencil sekaligus mengacu pada keterpencilan dan kesederhanaan hidup, yang nyaris mendekati keprimitifan masyarakatnya. Dari lokasi yang terpencil, terisolasi, masyarakat Dukuh Paruk seakan sulit dibangunkan atau disadarkan dari keterbelakangan, kenaifan, dan kebodohannya. Sementara deskripsi latar, khususnya yang berhubungan dengan alam, tak hanya mencerminkan suasana internal tokoh, namun juga menunjukkan suasana kehidupan masyarakat dan kondisi spiritual masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini terdapat hubungan timbal balik, yang saling mencerminkan latar fisik, alam, spiritual, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Kejelian dan ketelitian pengarang dalam mendeskripsikan latar menjadi kekuatan utama novel ini.

Novel Ronggeng Dukuh Paruk tidak saja menuturkan cerita kehidupan ronggeng. Lebih dari itu, dengan kekayaan imajinasi dan keluasan pengetahuan, Tohari berhasil menggambarkan dan memaparkan struktur kompleks kehidupan para tokohnya dalam menjalani kehidupan. Tohari pun sanggup mempergunakan daya angan yang sekaya dan selembut mungkin untuk menyusup ke dalam jiwa tokoh yang diciptakannya. Tohari menokohkan seorang penari ronggeng yang lugu dan naïf, yang merupakan simbol tradisi yang membesarkannya. Meskipun Tohari dikenal pula sebagai seorang santri, seorang alim ulama, namun kesantrian tersebut agaknya tak menghalanginya untuk bercerita dan berimajinasi terhadap dunia kekumuhan, kecabulan, dan kebobrokan.

Ronggeng, demikian keyakinan tokoh Srintil beserta sistem nilai yang mengelilinginya hadir mewakili dunia perempuan yang mempunyai peran atau bahkan kewajiban alami sebagai penyeimbang bagi dunia lelaki dan kelelakian. Itulah sebabnya, dalam menjalani perannya sebagai ronggeng Srintil selalu merasa terpanggil untuk melayani lelaki mana saja. Masyarakat  Dukuh Paruk sendiri mendukung kondisi tersebut. Seorang ronggeng tidak akan menjadi bahan pencemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Bahkan dalam novel ini disebutkan bahwa para istri justru merasa bangga bila suaminya dapat tidur bersama dengan seorang ronggeng. Mereka juga rela menjual hartanya agar sang suami dapat membayar seorang ronggeng, seperti pada kutipan berikut:

Ketika menonton Srintil menari aku pernah mendengar percakapan peremuan-perempuan yang berdiri di tepi arena. Percakapan mereka akan membuat para suami merasa tidak menyesal telah hidup dalam kungkungan rumah tangga.

“Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku akan menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya,” kata seorang perempuan.

“Jangan besar cakap,” kata yang lain, “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan.”

“Tetapi suamimu sudah pikun. Bau satu babak menari pinggangnya akan terkena encok.”

“Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?”

“Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi lelaki pertama yang mencium Srintil.”

“Tunggulah samapi saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu.” (Tohari,1992:55).

Dunia Srintil gemerlap oleh materi yang berlebihan bila diukur dengan taraf hidup masyarakat di sekitarnya. Srintil menjadi simbol kebobrokan moral Dukuh Paruk (sebelum akhirnya Srintil menginginkan dirinya untuk menjadi perempuan somahan). Sementara Rasus, yang menjadi simbol moral justru menghindar dari Dukuh Paruk. Di sini terlihat bahwa di satu sisi Tohari berbicara mengenai sistem sosial budaya masyarakatnya, di sisi lain ia berusaha menjaga keselarasan, keseimbangan, dan tanggung jawab sebagai seorang santri yang mengagungkan moralitas.

Peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tersusun dalam suatu peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat, sehingga membentuk suatu alur yang runtut. Alur itu sendiri dibangun oleh konflik demi konflik yang dialami oleh para tokohnya. Adapun konflik dalam novel ini didominasi oleh konflik tokoh Rasus dengan dirinya sendiri dan konflik dengan dunia sekitarnya. Konflik dengan diri sendiri terjadi karena Rasus sangat merindukan sosok emak yang ia temukan pada diri Srintil. Namun, hal itu kemudian harus ia akhiri setelah Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng. Sedangkan konflik dengan dunianya terjadi ketika Dukuh Paruk sangat mendamba dan membanggakan sosok ronggeng, sementara Rasus justru hanya mampu mengutuk di dalam hatinya.

Tohari memanfaatkan monolog dan konflik psikologis tokoh Rasus sebagai tokoh utama. Hal ini terlihat ketika Rasus harus menerima kenyataan bahwa Srintil yang selama ini menjadi tempat untuk membangun bayang-bayang emak, justru menjadi seorang ronggeng. Rasus pun kemudian secara perlahan berusaha menghapus bayangan emak dari diri Srintil. Untuk ini, Tohari memerlukan beberapa halaman guna menggambarkan konflik batin yang dialami Rasus.

Sebagai sebuah novel, Ronggeng Dukuh Paruk berhasil menggugah keingintahuan pembaca untuk terus mengikuti kelanjutan cerita. Namun, yang paling menarik sebenarnya adalah penggambaran tuntas yang berhasil dibangkitkan Tohari tentang kehidupan daerah pedusunan. Kalaupun ada sesuatu yang mengganggu pikiran pembaca, tidak lain adalah tokoh Srintil, seorang bocah yang baru berusia sebelas tahun ternyata sudah matang pengetahuannya mengenai seks dan keperawanan. Hal ini terlihat pada peristiwa malam bukak klambu, salah satu prosesi yang menjadi syarat untuk menjadi seorang ronggeng. Terlepas dari itu semua, daya sentuh yang menghanyutkan pembaca berhasil dibangun oleh pengarang sehingga menjadikan sebagai sebuah karya yang berbobot. (Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno*)

*****

Kenangan Dibuang Sayang

Posted by ruangimaji on 20 Desember 2011
Posted in: Anekdot, Kesastraan. Tagged: Cerita Remaja, MAN 2 Banjarnegara. 4 komentar

Ada satu ungkapan bahwa “Lebih baik menunjukkan kegagalan dalam berkarya daripada menunjukkan kegagahan tanpa hasil karya.” Ungkapan itu pernah dilontarkan Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd., Guru Besar FKIP UNS dalam suatu perkuliahan dulu. Dari hal itulah, semangat untuk berkarya melalui keberanian menuliskan ide-ide ditanamkan. Ide paling sederhana yang dapat dituliskan adalah sesuatu yang pernah dialami sendiri, yang membekas sebagai suatu kenangan. Kenangan manis tak kan habis, kenangan sayang tak kan hilang, kenangan romantis tak kan terkikis, dan kenangan sedih tak kan menyisih. Kenangan mesra? Tentunya makin terasa…

Berikut ini coretan para siswa MAN 2 Banjarnegara yang kreatif dalam mengolah kenangan…

Bukan Ingusnya

Setiap hari saya pergi sekolah bersama teman-teman. Sudah dua tahunan kami selalu pergi bersama, bahkan pulang sekolahpun kami saling setia untuk tunggu menunggu. Suatu hari hujan turun dengan derasnya, yang akhirnya membuat kami basah kuyup. Keesokan harinya, saya menjadi batuk dan flu, tapi anehnya yang mengalami sakit di antara kami hanyalah saya seorang. Mungkin karena daya tahan tubuh saya lebih lemah daripada mereka. Hal ini tidak sampai membuat saya untuk tidak masuk ke sekolah. Meski sebenarnya flu sangatlah membuat tidak konsen belajar.

Pagi itu saya berangkat seperti hari biasanya, lengkap berpakaian seragam putih biru, tak ketinggalan dasi abu-abu saya. Saya termasuk salah satu siswi yang suka mengenakan dasi karena dengan memakai dasi, saya merasa lebih percaya diri. Ya, bisa dibilang saya tidak pernah absen dari memakai dasi. Dan saya juga sangat suka dengan dasi yang berukuran panjang. Pagi itu kami pergi ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum, yang ternyata di dalamnya sudah penuh sesak dengan penumpang. Namun, kami tetap masih bisa naik, meski sangat berdesakan. Kebetulan saya duduk di sebelah kanan seorang siswi yang lain sekolah dengan saya.

Tiba-tiba setelah beberapa menit kemudian angkutan itu berjalan, batuk sayapun mulai berdahak-dahak. Karena merasa malu dengan yang lain, saya menutup mulut saya dengan menggunakan kerudung. Beberapa lama kemudian, berganti dengan hidung saya yang sedang flu. Ingin sekali hidung ini mengeluarkan ingus. Meski beberapa kali sudah saya coba untuk menahannya, ingus dari hidung saya keluar begitu derasnya. Spontan saya  berpikir, jika saya gunakan kerudung untuk mengelap dan menutupi hidung, pasti kerudung saya menjadi terlihat kotor dan jorok. Sehingga tidak berpikir panjang, dasi abu-abu saya gunakan untuk mengelap dan menutup hidung saya. Serentak teman-teman yang tadi datang bersamaku tertawa terbahak-bahak. ’’Ah…  Apa-apaan sih mereka, teman sedang susah kok malah tertawa,’’ ujarku dalam hati.

Lanjutkan Membaca

Gadis Super Oon

Posted by ruangimaji on 10 Desember 2011
Posted in: Anekdot, Kesastraan. Tagged: Cerita Remaja, MAN 2 Banjarnegara, Menulis Kreatif. 12 komentar

Kisah ini bukanlah kisah yang lucu, jadi mestinya Anda tidak perlu tertawa. Meski begitu, tidak ada larangan sedikit pun bila Anda berhasrat melakukan hal itu, asalkan tertawa dalam batas-batas yang wajar.  Namun, yang jelas kisah ini tidak berbahaya bagi kesehatan karena tidak menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, maupun gangguan kehamilan dan janin. Selamat menikmati!

Ada seseorang, sebut saja Tuan Sinyo (ini bukan nama sebenarnya lho… Cuma kebetulan tampilan wajahnya yang penuh “kemajuan”, sehingga membuat ia menamakan dirinya Tuan Sinyo alias unTune kedawAn guSine menyoNyo, he…he…he…!). Tuan Sinyo ini terus uring-uringan menasihati anak gadisnya yang telah beranjak remaja. (Nama gadis remaja itu tidaklah perlu untuk disebutkan karena kebetulan untuk kisah yang ini, begitu banyak nama yang berebutan ingin digunakan, ceileee..! Jadi supaya tidak menimbulkan kecemburuan sosial, tidak satu namapun yang dipakai). Meski sudah duduk di kelas 9 sebuah SMP, anak gadisnya itu lugunya minta ampun. Bahkan dapat dikatakan dengan istilah yang lebih keren, SO alias Super Oon. Segala hal yang dikatakan kepadanya harus gamblang sekali. Itu pun belum tentu dipahami.

Suatu ketika Tuan Sinyo berkata, “Nduk, kamu kan sudah remaja, jadi kebiasaanmu manjat pohon mbok ya dihilangkan tho.”

“Memangnya kenapa, Pak?” tanya si gadis remaja yang belum paham arah pembicaraan ayahnya. Maklum kan anak SO, he.. he.. he..!

Lanjutkan Membaca

Menjaring Ilmu di Samudra Pustaka

Posted by ruangimaji on 26 November 2011
Posted in: Pustaka. Tagged: Daftar Pustaka, Perpustakaan. 6 komentar

Judul di atas hanyalah sebuah perumpamaan, meski agak berlebihan bila digunakan untuk menggambarkan sebuah perpustakaan sekolah. Gambaran umum mengenai sebuah perpustakaan di sekolah adalah sebuah bangunan kecil yang terletak di antara bangunan-bangunan utama, yang tentu saja lebih besar atau megah. Di dalam gedung kecil itu terdapat beberapa buku pelajaran yang akan diambil siswa bila guru memerlukannya dalam proses belajar mengajar di kelas. Sedikitnya jumlah dan keberagaman koleksi di perpustakaan sekolah membuat tempat itu menjadi sepi pengunjung. Jangankan siswa, guru pun barangkali malas untuk melangkahkan kakinya ke sana.

Sebenarnya perpustakaan sekolah merupakan pusatnya ilmu pengetahuan dan informasi yang sangat menunjang kegiatan belajar mengajar. Untuk itulah, perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Guna mencapai tujuan tersebut, perpustakaan sekolah perlu mempersiapkan beberapa hal, di antaranya menyediakan tempat yang nyaman, koleksi yang beragam dan berkualitas, fasilitas dan tenaga pustakawan yang memadai, serta serangkaian aktivitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran agar menjadi menarik.

Seorang pustakawan hendaknya memiliki tanggung jawab dan dedikasi tinggi terhadap layanan. Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya. Pustakawan sekolah diharapkan pula memiliki kedekatan rasa dengan masyarakat pengunjung perpustakaan, khususnya siswa. Hal itu disebabkan seorang pustakawan sekolah seringkali dipercaya sebagai tempat curhat, baik ketika siswa mengalami kesulitan belajar atau pun ketika siswa ingin  memperoleh informasi pengetahuan yang belum diajarkan di kelas. Dengan demikian, diharapkan siswa mampu mendapatkan solusi bagi permasalahannya, sehingga dapat mencapai berprestasi yang diharapkan.

Lanjutkan Membaca

Posts navigation

« Tulisan lama
  • selamat datang di:

  • penanda waktu

  • asmaul husna

  • mutiara islam

  • banner lomba blog

  • kelola

    • Daftar
    • Masuk log
    • RSS Entri
    • RSS Komentar
    • WordPress.com
  • musik

  • yang datang

    • 6,951 hits
  • arsip

  • kategori

    • Anekdot (3)
    • Kebahasaan (4)
    • Kesastraan (14)
    • Pendidikan (2)
    • Pustaka (4)
    • Sekilas Info (3)
  • terbaru

    • Pengajaran Drama di Sekolah
    • Menelusuri Jejak Tradisi, Meredam Gejolak Batin
    • Kenangan Dibuang Sayang
    • Gadis Super Oon
    • Menjaring Ilmu di Samudra Pustaka
  • sering dibaca

    • Buku Tamu
    • Gadis Super Oon
    • Belajar pada Pengalaman Hidup
    • Wayang Gemblung
    • Internalisasi Nilai Budaya Jawa melalui Tokoh Pak Mantri dalam Novel Pasar Karya Kuntowijoyo
  • blogroll

    • WordPress.com News
  • pertemanan

    • Aziz Poerwanto
    • Bekti Patria
    • Budi Sastro
    • Galeri Siswa
    • Lina Rahma
    • Panji Irfan
  • referensi

    • Ikatan Guru Indonesia (IGI)
    • Kumpulan Cerpen Kompas
    • PGRI
    • Pusat Bahasa
  • jejak tamu

    ruangimaji on Puisi
    Holloww on Puisi
    ruangimaji on Pengajaran Drama di Sekol…
    Evi on Pengajaran Drama di Sekol…
    Lina Rahma on Buku Tamu
  • kata kunci

    artikel bahasa baca puisi badan bahasa bahasa indonesia banyumasan Cerita Remaja cerpen dalang edan drama pendek elegi Gurindam Dua Belas guru profesional idul fitri iptek karya ilmiah kisah nyata Komunikasi Leak lomba lomba blog 2011 Love Story MAN 2 Banjarnegara menulis naskah drama Nh. Dini Nilai Budaya Jawa Pasar pembelajaran puisi pengajaran drama Penyair penyutradaraan Pidato PTK Publik Speaking puisi Puisi Lama puisi religi Raja Ali Haji Resensi Novel sastrawan sertifikasi guru sistematika karya tulis sms lebaran Teater Peron Wayang
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 2 pengikut lainnya.

Blog pada WordPress.com. Theme: Parament by Automattic.
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Powered by WordPress.com