6 comments on “Puisi Menolak Korupsi (3)

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Raden…

    Untaian kata puisinya bagus sekali. Saya bisa memahami apa yang dimaksudkan secara tersirat dan tersurat. malang ya, jika tidak pernah ingin sadar diri dengan dosa dan noda kehidupan yang melingkari urat nadi dan darah sendiri. mahu menjawab apa nanti di hadapan Ilahi. Allahu Akbar, seolah mereka ini melihat dunia ini sebagai kediaman abadi.

    Apa memang bener adanya Hari Korupsi di Indonesia. Kenapa ya harus dibuat begitu seakan mengalukan mereka pula. Atau hanya bilasan dari puisi mas Raden untuk melahirkan satu makna sinis yang menyinggung aktiviti demkiian.

    Sungguh dahsyat ya, kalau masalah korupsi di Indonesia kini seakan tidak terbendung lagi. Pasti setiap hari dan waktu perbuatan korupsi sduah mendarah daging begi mereka yang sudah putus urat malunya. Kerana itulah mereka tidak malu dan takut dengan Allah SWT.

    Masya Allah, jika sahaja doa para tertindas di kalangan rakyat miskin yang beriman dimakbulkan Allah SWT, seluruh Indonesia akan ditimpa bencananya. Sangat dahsyat siksaan Allah SWT jika bener berlaku.

    Kewajiban bagi pemerintah untuk melaksanakan tuntutan membateras korupsi. Jangan pernah takut untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan rakyat dan negara. Perbuatan korupsi ini akan menyebabkan kerugian buat negara. Kalau di Malaysia, usaha memerangi korupsi sangat hebat dan dibuat secara serius dari akar umbi sehingga kepada atasannya tidak terkecuali.

    Mudahan akan ada jalan yang baik untuk mengatasi maslaah ini di kemudian hari. Pasti akan ada pimpinan yang berani untuk ke depan yang memulai langkah pertama dan rakyat harus menyokong padu. Aamiin.

    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Tidak ada Hari Korupsi di Indonesia kok Mbak. Ini hanya ungkapan saja bila korupsi dibiarkan merajalela dan berkuasa, barangkali pada akhirnya akan memunculkan keinginan para koruptor untuk memperingati hari bersejarah mereka, yang kemudian akan dirayakan secara besar-besaran.

      Nah kalau sudah begitu, apa yang dapat dilakukan rakyat kecil, yang secara langsung atau tidak, kehidupannya telah menjadi korban? Hanya berdoa barangkali solusinya. Bukankah setelah daya upaya yang diusahakan manusia tak menemukan hasil, hanya kepasrahan pada Ilahi yang dapat dilakukan?

      Terima kasih Mbak atas apresiasinya yang sangat tajam. Mudah-mudahan ada upaya sungguh-sungguh dari pemerintah dan lembaga terkait untuk menanggulangi masalah tersebut, sehingga kehidupan yang lebih baik dapat segera tercipta. Dengan begitu, azab Allah tak perlu ditimpakan.

      Salam hormat penuh takzim senantiasa….😀

  2. Seandainya ‘Tikus berdasi dan bersorban’ itu membaca sajak-sajak ini, mungkinkah urat itu akan tersambung kembali?. Jika tidak, saya memaklumi. Otak mereka kan sudah mati, sudah tidak bisa menerima dan memberi sinyal untuk melakukan kebaikan.

    Bersabarlah para penyair. Kata-kata belum mampu mengidupkan otak yang sudah mati itu.
    Rakyat miskin, perkuatlah iman, bentangkan kesabaran karena jeritan belum cukup membuka telinga yang disumbat dengan kotoran hasil korupsi mereka.

    Untuk Tikus, hewan yang tak berdosa, maafkan Saya. Saya kehabisan cara untuk mengibaratkan makhluk yang satu itu.

    Untuk yang menulis puisi ini, Saya mengucapkan terimakasih. Membantu Saya ikut menyuarakan isi hati kepada Makhluk yang sudah putus urat malunya itu.

    • Wah, wah, wah… anakku Amanah ini ikut pula berandai-andai. Namun, pengandaiannya menarik juga. Memang sementara ini para penyair baru dapat berkata-kata, memberikan seruan melalui untaian syairnya. Namun perlu kita sadari pula, bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang yang paling tajam sekalipun.

      Terima kasih atas apresiasi Amanah yang begitu tajam pula. Semoga setelah membaca puisi tersebut, kita bisa bermuhasabah agar terhindar dari perbuatan yang sangat tercela semacam itu.

      Salam kreatif selalu…😀

  3. Assalamu ‘alaikum wr. wb. pak guru..

    semoga pesan ini mampu menyentuh hati mereka yng senang meraup hak orang lain, semoga mereka diberi kesadaran, bahwa tindakan mereka itu tidaklah pantas buat orang lain. amin ya Robb..

    semoga kita terhindar dari perbuatan demikian
    puisinya ada berapa sesi yah pak guru😀

    salam dari muridnya pak guru🙂

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Waduh, ternyata muridku dari Makassar datang juga bertamu… Terima kasih ya, juga atas doa-doanya. Semoga diridai.

      Insya Allah, untuk sementara Puisi Menolak Korupsi di sini ada 4 sesi dulu. Tinggal nunggu postingan yang ke-4, yang akan segera muncul.

      Salam balik untuk muridku yang cantik dan solikhah di Makassar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s