17 comments on “Cerpen: Biarkan Mendung itu Berlalu

  1. Assalamu’alaikum,

    Satu kalimat yang terangkai dalam benak saya, ketika baru membaca judulnya. “Cerita ini seperti sebuah cermin untukku”. Terima kasih telah menulis cerpen ini, dan terima kasih juga untuk apresiasi Bapak terhadap blog saya yang telah tertidur panjang. Saya tunggu karya-karya selanjutnya yang bisa menginspirasi saya dan orang lain tentunya untuk lebih bersemangat dalam menghadapi cobaan dan tidak mudah putus asa.

  2. Assalamu Alaikum wr. wb. pak guru

    hari ini, kita belajar apa lg yah🙂
    mmhh.. tak ada tugas sekolahkah pak guru…

    masyaAllah, kisah yang sangat inspiratif pak guru,

    terima kasih telah berbagi…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Hari ini kita belajar tentang kehidupan sambil mengisi waktu luang di sela-sela rutinitas yang ada. Tugas sekolahnya ya mengapresiasi kehidupan diri dan lingkungan dengan tetap berusaha menebarkan manfaat dan menciptakan kebaikan, he…he…!

      Sedikit berbagi setelah membaca tulisan Neni, “Berbagi Tak Pernah Rugi.”
      Terima kasih atas kunjungan Neni, juga bagi-bagi komentarnya.

  3. Assalamu’alaikum…

    Yah begitulah anak yang baik, terbawa perasaan. Justru yang bagus karena menjadi pelecut untuk terus belajar dan belajar tanpa putus asa. Dengan dihina dan diolok justru mejadi lebih semangat belajar. Yang aneh adalah bila ada anak (siswa) disindir, diolok, dihina itu nggak mempan, tidak membuat berubah. tetep ndablek dan males, bagaimana itu?

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Wah, kalau sudah diusahakan dengan berbagai cara untuk menjadi baik ternyata tidak mempan juga, ya bagaimana lagi. Barangkali kita tinggal mendoakan saja sebagai upaya yang terbaik. Terima kasih atas sumbang saran pemikirannya…

  4. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Raden…

    Cerpen ringkas tapi signifikan dengan situasi yang sedang dialami oleh anak-anak. Bunda yang cerdas dan penyayang, selalu tidak lelah untuk memberi semangat saat sang anak sedang luntur jiwanya walau oleh sekecil perkara.

    Beruntung Anisa punya ibu yang pintar membaca jiwa bergelora. Saya suka menjadi ibu sedemikian yang senang berkongsi masalah dengan anak-anaknya. Barulah anak-anak akan lebih menghormati an menyayangi kita.

    Saya juga suka cara mas Raden membawa analogi indah, sang cacing dan sang burung dalam merongkai kemelut hati Anisa. Cara begini memberi implikasi besar untuk membuka minda fikir anak-anak dalam melihat kehidupannya sediri adalah lebih baik dari orang lain.

    Salut mas Raden, kerana bisa menulis cerpen kehidupan yang biasa dilalui semua orang yang dulunya pernah kecil dan semakin dewasa dengan kemelut hidup yang dihadapinya. Mudahan ada lagi kisah-kisah mantap motivasi ringan yang bisa dikongsikan. Boleh dikumpul nantinya sebagai kumpulan cerpen motivasi kanak-kanak, mas.

    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Terima kasih atas apresiasi Mbak Fatimah yang sangat menarik, yang mengupas isi dan makna tersirat, meski sebenarnya kisah tersebut belumlah semendalam seperti yang saya maui. Hanya karena ingin segera mem-posting tulisan, akhirnya kisah tersebut saya paksakan untuk selesai. Itulah sebabnya bila dikaji lebih dalam lagi, masih banyak kelemahan di dalamnya.

      Sebenarnya yang tertulis hanyalah sekedar kisah imajinatif yang biasa saya sampaikan kepada para siswa di kelas sebelum atau setelah pembelajaran berlangsung. Sekedar memberikan motivasi. Terkadang sebuah motivasi atau nasihat lebih mudah diterima saat disampaikan melalui cerita dibandingan melalui perkataan secara langsung yang terkesan sebagai perintah.

      Saya juga senang dengan tokoh Bunda yang bijaksana seperti itu, sepertinya perasaan anak-anaknya menjadi damai ya Mbak. Seperti pada “Sebuah Kisah tentang Kebahagiaan“. Eh, kelembutan dialog Bunda mungkin ada kemiripan dengan untaian kata Mbak Fatimah di LMGS G2 lho Mbak. Lembut dan bermakna…

      Sekali lagi terima kasih atas apresiasi dan motivasi Mbak Fatimah, semoga di lain waktu dapat muncul kisah-kisah yang lain, yang lebih berisi.

      Salam hormat sepenuh hati untuk Mbak Fatimah di Sarikei, Sarawak.

  5. Saya setuju dengan pendapat mas Raden bahawa menulis motivasi atau memberi nasihat dalam bentuk kisah (analogi) mempunyai kesan yang lebih mendalam berbanding hanya berbicara biasa yang belum tentu menarik perhatian.

    Anak-anak, remaja malah orang dewasa sangat suka mendengar perkara yang dikaitkan dengan analogi yang bisa menggerakkan akal fikir untuk menjadi lebih cerdas dan selalunya menusuk ke hati. Ada sentuhan pada naluri yang mencuri rasa dan simpati pada cerita juga diri yang mendengar.

    Hehehe…. terima kasih menghargai karya saya. Alhamdulillah. namun, kontrasnya apabila saya berhadapan dengan anak-anak yang nakal, akan bertukar menjadi lebih tegas dan garang. 😀

    Dinantikan kisah motivasi yang bisa diambil iktibarnya di masa depan. Teruskan usaha mas Raden membantu menjernihkan jiwa mereka yang memerlukannya. Mudahan diganjari Allah SWT dengan kebaikan yang melimpah. Aamiin Ya Rabbal’alamiin.

    salut mas, 2 jempol dari saya.
    Salam hormat kembali.😀

    • Betul Mbak, kadang-kadang memberi motivasi atau nasihat dalam bentuk kisah (analogi) melalui bahasa tulis mempunyai kesan yang lebih mendalam daripada hanya berbicara secara lisan. Namun ada pula yang justru lebih menarik saat kisah tersebut disampaikan secara lisan. Tentu saja semua itu (melalui tulisan atau lisan) diperlukan kreativitas dan latihan yang intens agar yang disampaikan mampu menarik perhatian dan meninggalkan kesan mendalam.

      Kalau saya amati sebuah kisah ternyata tak hanya disukai kanak-kanak, namun juga yang telah berusia dewasa atau bahkan orang tua. Memang kisah-kisah yang dikaitkan dengan berbagai peristiwa dalam kehidupan mampu merangsang pikiran dan perasaan seseorang untuk aktif mencerna, sehingga insya Allah akan tercipta kejernihan pikir dan kepekaan rasa.

      Hei, masa Mbak Fatimah bisa menjadi tegas dan garang? Tak bisa saya membayangkan. Tapi tak apa kok, barangkali memang sehatusnya begitu. Di suatu saat tampil lembut penuh kasih sayang, namun di saat yang lain karena diperlukan, menjadi tegas dan garang untuk kebaikan anak-anak.

      Mudah-mudahan dengan dorongan semangat dari Mbak Fatimah, akan muncul kisah-kisah lain yang bisa diambil iktibarnya di masa depan. Terima kasih atas apresiasi, motivasi, dan doa yang menyertai. Semoga Allah Swt pun melimpahkan segala kebaikan bagi Mbak Fatimah. Aamiin ya Rabbal’alamiin…

      Salam hormat senantiasa…😀

      • Hehehe…. tidak percaya tidak apa-apa kok. Kenyatannya, semua orang bisa bertukar watak apabila perlu berkeadaan demikian. Bukan selamanya. Selagi emosi bisa dikawal dan sadar apa yang dilakukan, tentu manfaatnya lebih banyak dari mudharat.

        Saya selalu kagum membaca tulisan mereka yang pandai memainkan emosi pembacanya dengan pelbagai gaya sehingga tanpa kita sadari kita bisa ketawa, menangis, sedih dan terbawa-bawa oleh penceritaan yang mungkin kisah benar atau sekadar rekaan semata.

        Kerana itulah, menulis memerlukan kepakaran hati untuk menawan orang tidak ada di depan mata. Hanya membaca tulis kata yang tidak menampakkan wajah pencerita tetapi hati bisa jadi dekat dan selesa. Saya selalu berharap dapat menulis seperti itu biar semua yang membaca mendapat iktibar dan manfaatnya.

        Terima kasih mas Raden. Setiap posting mas Raden banyak makna tersirat yang perlu disurat dengan minda terbuka. Mudahan pencerahannya bisa mengubah tingkah oleh yang membacanya.

        Salam hormat kembali.😀

      • Hehehe… ini bukan antara percaya dan tidak percaya lho Mbak, tapi setiap membaca rangkaian kata-kata Mbak di LMGS G2 pasti akan terbayang wajah wanita solehah yang penuh kelembutan. Meski begitu, saya yakin bahwa di balik kelembutan itu ada ketegaran dan kekerasan hati terhadap suatu hal, khususnya demi kebaikan. Semoga semuanya bisa dikelola dengan baik agar mampu mendekatkan pada manfaat dan terjauhkan dari muddharat.

        Sebuah tulisan memang mestinya dapat memberikan pengaruh pada pembacanya. Paling tidak ada sedikit manfaat yang dapat dipetik. Saya pun selalu kagum dengan tulisan-tulisan mereka. Biasanya setiap blog walking saya akan mencari postingan-postingan yang mampu menggugah perasaan saya. Tulisan-tulisan seperti tentu saja menunjukkan kependaian pikir dan kepekaan rasa dari penulisnya.Karena itulah, kita jadi merasa dekat dengan penulisnya, meski belum pernah bertatap muka. Mungkin seperti saat saya membaca tulisan-tulisan Mbak Fatimah, he…he…he…

        Waduh… saya jadi tersipu nih Mbak dapat sanjungan seperti itu. Semoga sanjungan itu tak membuat saya jadi lupa diri, namun justru menambah motivasi untuk terus berkarya.

        Terima kasih Mbak, salam penuh keceriaan di penghujung pekan.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s