14 comments on “Penerbitan Antologi Puisi Menolak Korupsi Jilid II

    • Infonya sudah 80-an yang kirim puisi. Memang agak sulit menulis puisi dengan batasan tema tertentu, tetapi saya pikir itu faktor kebiasaan. Kita terlanjur menulis berdasarkan mood, seringkali bukan karena kebutuhan. Untuk itu kita mesti terus belajar.

      Trims atas atensinya ya…

      • Saya sedang membiasakan diri juga untuk menulis, mentargetkan diri sendiri juga untuk menulis seperti dulu tetapi puisi memang jauh lebih sulit dari menulsi apapun, butuh kemampuan memory yang tinggi untuk menyimpan kosa kata indah🙂

      • Memang butuh kemampuan memori yang kuat untuk menyimpan kosa kata indah, meski tak setiap puisi berindah-indah kata. inti sebenarnya menurut saya adalah bagaimana mengungkapkan perasaan yang bisa menyentuh rasa dengan diramu dengan imajinasi dan kontemplasi. Saya pun masih terus belajar mengenai itu dan sering pula mengalami kesulitan, seperti saat membuat puisi dengan tema korupsi di atas.

  1. Assaalamu’alaikum
    yah..mungkin perlu kursus menulis puisi ? seperti kursus menyetir mobil dan kursus menjahit? apakah mungkin bakat dan talenta yang menentukan? semuanya perlu dicoba dan dirasa…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Sepertinya kursus menulis puisi terlalu berlebihan lho… Mungkin belajar bersama menulis puisi lebih tepat. Bakat dan talenta saya rasa hanya berpengaruh sekian persen karena selebihnya belajar dan berlatih yang lebih dominan. Saya sepakat bahwa itu semua perlu dicoba.

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Raden…

    Salut atas usaha yang dibuat oleh para pemuisi dan penyajak (seniman) yang sangat perihati tentang masalah besar korupsi di dalam masyarakat. Memang berat temanya kerana ada batasan yang perlu diperkirakan.

    Korupsi harus ditentang habis-habisan agar tidak menjalar kepada generasi mendatang yang akhirnya merosakkan negara dan keharmonian kehidupan. Susah kalau hidup penuh dengan korupsi. banyak penindasan akan berlaku terutama golongan miskin dan sederhana.

    Kesedaran tentang korupsi harus diwar-warkan agar banyak yang sedar keburukannya. Semoga usaha itu berhasil jaya dan semakin ramai rakyat Indonesia yang menolak korupsi ini.

    Salam hormat selalu dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Benar Mbak, salut untuk para penyair yang memiliki kepedulian terhadap masalah pelik bangsa ini, korupsi! Salut pula untuk penggagas Penerbitan Antologi Puisi Menolak Korupsi. Gagasan ini perlu mendapat dukungan dari segenap pihak yang memang menolak korupsi, khususnya di negeri ini. Apa yang pantas dilakukan para penyair dalam menentang korupsi selalin menyuarakannya lewat kata-kata?

      Sebagai bentuk dukungan, alhamdulillah saya telah mengirimkan 5 naskah puisi saya untuk ikut diseleksi. Memang tema korupsi terasa berat untuk dijadikan sebuah puisi, apalagi untuk merangkainya dengan kata-kata yang indah. Meski begitu, saya tetap mencobanya. Biarlah panitia seleksi yang menentukan, layak tidaknya puisi saya masuk dalam antologi tersebut.

      Mudah-mudahan antogi puisi ini nantinya mampu menyentuh kesadaran setiap orang untuk tidak melakukan korupsi (dalam bentuk apapun, dengan dalih apapun).

      Terima kasih atas atensi Mbak Fatimah…
      Salam hormat senantiasa.😀

  3. Saya (cenderung) berpendapat bahwa puisi (bagian dari bentuk karya sastra : dulu awalnya dirumuskan karya sastra pendek -dibanding prosa tentunya- dan disusun dengan larik dan bait serta rima –> kini sebut tambahannya : karya sastra yang unik dan penuh simbol. Namun, dilihat dari tema atau topiknya yang diangkat adalah “apa saja” seluruh hal yang merupakan ekspresi dari cipta, rasa, dan karsa manusia, yang baik hingga buruk, yang riil hingga abstrak / maya atau imajinatif, dari comberan sampai kahyangan dst.dst. Justru yang penting adalah bagaimana si penyair memiliki daya ucap dan daya ungkap dalam menuang puisinya, hingga memiliki “greget” atau daya keunikan atau kekhasan tersendiri hingga menarik minat pembaca untuk tahu lebih lanjut atau lebih dalam apa pesan yang disampaikannya. Kadang sang penyair bisa berhasil bagus, hingga pesannya sampai ke pembaca dengan ‘indah”, sebaliknya bisa juga tak bagus alias kurang komunikatif (misal : hubungan kata dan ungkapan serta kalimat dalam larik – baitnya kurang berkaitan baik riil maupun imajinatif terlampau meloncat-loncat) –> bisa jadi tak pernah bisa difahami pembacanya. Satu hal yang penting lagi, ibarat siaran radio, gelombang yang dipancarkan dan radio penerima harus serasi (artinya tingkat pengetahuan/pengalaman penyair dan pembaca “setara”) – tanpa kondisi demikian yang terjadi “putus komunikasi”, di satu sisi sang penyair ‘terbata-bata’, di sisi lain sang pembaca tak bisa menerka-nerka maknanya. Tapi itulah seni, yang senantiasa mengandung sesuatu yang “nisbi”, tergantung kepada ……. , begitulah mas pengelola “ruang imaji”. (soekoso dm)

    • Saya sependapat dengan uraian yang Bapak sampaikan. Sebagai salah satu bentuk karya sastra, puisi berkaitan pula dengan karya sastra yang lain. Sebagaimana karya yang lain, puisi merupakan hasil ekspresi jiwa penyairnya atas gejala yang ia alami, baik yang berdasar pada dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan yang mengitarinya, termasuk yang nyata maupun imajinasi. Bagaimana cara mengekspresikan dan seperti apa hasil ekspresinya, tentu saja tergantung pada tingkat pengetahuan atau pengalaman si penyair. Barangkali itu pula sebabnya ada kecenderungan terhadap tema tertentu dari seorang penyair, yang tergantung pada tingkat pengetahuan atau pengalaman tadi.

      Mengenai kedekatan hubungan dengan karya satra yang lain (khususnya prosa), saya melihat mulai banyak penyair yang menulis puisi dengan tipografi seperti prosa maupun dengan gaya naratif. Meski begitu tetap lebih pendek dari prosa. Itu semua tentunya sah-sah saja, apalagi untuk jenis puisi baru tak ada aturan yang baku seperti halnya puisi lama.

      Terima kasih atas uraian yang sangat bermakna dari Bapak. Suatu kehormatan bagi saya bisa berkomunikasi dengan Bapak karena sebelumnya saya hanya bisa membaca karya-karya Bapak di berbagai media, termasuk di antologi “Jentera Terkasa” (1998) yang saya miliki.

  4. Baik, kapan-kapan bisa sambung diskusi lagi – di antara terbatasnya kesempatan karena berbagai aktivitas sos-bud masing-masing tentunya –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s