32 comments on “Andai Guru Bahasa Mengajar Matematika (2)

  1. Tulisannya menggelitik Pak…
    Entah bagaimana jadinya jika wacana ilmu IPA dan IPS dihapuskan dari kurikulum SD itu benar-benar dilaksanakan. Menurut saya itu sih sebuah kemunduran …
    Salam.

    • Kalau wacana itu benar-benar disahkan, apapun bisa terjadi. Mungkin bermasalah sekali bagi SD yang sudah menerapkan guru mapel untuk tiap mata pelajaran, bagaimana nasib guru mapel itu nantinya? Bagi SD yang masih menggunakan guru kelas (yang tentunya menguasai semua mapel di kelasnya), masalah yang terjadi tidaklah begitu rumit.

      Begitulah, setiap kebijakan selalu mendatangkan pro dan kontra, efek negati maupun positif.

      Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya.

  2. Wah, episode kelanjutannya benar-benar heboh. Begitulah jadinya kalau mengajar tidak sesuai dengan bidangnya. Meski ada sisi menariknya, tetapi tetap kacau juga. Bisa-bisa siswanya jadi galau secara berjamaah.

    Untuk PR-nya:
    1. Berhubung jawaban 5 ekor salah, saya cuma punya pemikiran angkanya ganjil.
    2. Ada 4 ikan.

    Mudah-mudahan jawabannya benar…

    • Terima kasih Om, masih menyimak episode tulisan ini. Memang seperti itu jadinya. Bagaimanapun juga bila bukan bidangnya ya tetap mengalami banyak kesulitan. Yang sudah sesuai dengan bidang mapel-nya saja masih harus terus belajar kok.

      Mengenai PR, No. 1. Memang angka ganjil, tapi berapa? No. 2. Masih salah tuh…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Terima kasih Pak telah ikutan nimbrung. Kalau guru matematika mengajar bahasa? Wah, kalau ini harus guru matematika dong yang menjawab pertanyaan Pak Imam.

      Halo guru matematika… ada pertanyaan nih…!

  3. Assalamu alaikum wr. wb
    PR dari bapak sudah aku kerjakan, mudah2an saja benar🙂, insyaAllah

    1. ada 3 ekor itik berbaris
    2. 8 ekor ikan

    gimana jawaban aku pak, benerkan🙂
    asal penggunaan matematikanya tdk menggunakan logika bahasa misal no.
    1. ditengah jalan 1 ekor ditangkap ma pemiliknya, 1 ekor lagi malas jalan, 1 ekor lagi berenang🙂
    2. jika ayah dan anak tersebut telah melepas lagi ikan tangkapan tersebut maka tak ada ikan🙂

    salam pak guru

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Alhamdulillah, ternyata yang dari Makasar pun ikut ngerjakan PR ya, oke saya koreksi:

      1. Jawaban BETUL, Mbak Neni dapat poin 100, meski alasannya belum ada.
      2. Jawaban SALAH, Mbak Neni dikurangi 100.

      Jadi, nilai total masih 0, he..he..he..

      Jawaban semuanya pakai logika bahasa, tapi masih rasional dan nyambung dengan ilmu berhitung.
      Ayo, coba lagi…!

      • alasan no. 1. baris berbaring bebek 1 1 1 jadi 3 dech🙂
        mmmhh…. jadi penasaran no.2, berapa yach.. kurang dikit dech jadi 6 ekor ikan, 2 bapak (bapak yang satu kakek dr anak, sedangkan bapak yang satu lagi bapak dari anak) dan 2 anak, (anak 1 cucu dari bapaknya bapak, sedangkan anak yang satu ada dari kakeknya anak) dduuhh jadi pusing sya menjelaskannya🙂, jadi total mereka adalah 3 orang dan masing mendapatkan 2 ekor ikan, 2 X 3 = 6 ekor, betul tdk pak guru :

      • alhamdulillah, yes..yes..yes… horeeee………
        hadiahku mana pak guru🙂.

        senengnya dapat PR, buat lagi pak guru,
        kebetulan materi kuliah kemarin, tentang logika matematika🙂

      • Alhamdulillah, seneng juga punya murid yang pandai, he..he..he…! Hadiahnya 3S ya, Sebuah Senyum Setulusnya, nih saya nulis sambil senyum lho…😀

        PR yang lain ya nanti kalau dapat ide nulis yang agak nyleneh lagi.
        Trims atas atensinya ya.

  4. Berdasarkan penelitian saya, dan setelah rapat paripurna dg segenap kru *halahh*😀
    saya menjawab :
    no 1. ada 7 ekor jadi urut2an barisnya 2, 1, 2, 1, 1 (berdasarkan analogi saya lo ini pak :D)
    no 2. ada 3 ekor ikan😀, soalnya ada 3 orang, yaitu si anak dan si bapak dan si kakek(karena bapak adl ank si kakek) jadi ada 2 anak dan 2 bapak kan??? aduhhh saya menjelaskannya kok jadi bingung sndiri yaa😀

  5. Assalamu’alaikum,
    Maaf pak saya telat megerjakan PR. Saya niatnya kemarin sudah mau menjawab, eh… malah kata sandinya lupa. hehe… jadi ditunda.

    Jawaban yang menurut saya betul :
    1. Soal nomor 1 jawabannya ada 3 ekor itik.
    Alasannya, 3 ekor itik itu berbarisnya kebelakang. Misalnya kita beri nama A, B, dan C. A berbaris paling depan, B di belakang A, dan C paling belakang. Dengan kata lain A berada di depan 2 itik, C di belakang 2 itik, dan B berada di antara 2 itik.

    2. Soal nomor 2 jawabannya ada 6 ekor.
    Alasannya, Soal ini sebenarnya hanya mempunyai tiga tokoh. Seorang kakek yang mempunyai seorang anak laki-laki dan seorang cucu perempuan. Dua Ayah adalah si Kakek dan anak laki-laki yang merupakan ayah dari cucu perempuan ayahnya (si Kakek). Dua orang anak adalah si Anak laki-laki dan anak perempuan. Masing-masing dapat 2 ekor ikan, 2 x 3 = 6

    Hehe… bingung ya soalnya logika si ya, jawabannya jadi terkesan muter-muter.
    Semoga saya betul semua, Amien.

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Alhamdulillah, setelah dikoreksi jawabanmu ternyata BETUL SEMUA. Alasannya pun masuk akal. Memang biasanya yang terlambat bisa mengerjakan tugas dengan lebih baik. Mungkin karena begitu dalam berpikirnya, mungkin pula karena telah belajar dari kesalahan yang dilakukan orang lain. Yang bermasalah adalah bila sudah terlambat, tetapi masih salah, he..he..he..!

      Trims atas usaha dan partisipasinya ya.

  6. Salam buat ruang imaji..
    Walaupun saya bukan guru namun tidaklah salah kalau ikutan berkomentar. Komentar saya sbb:
    Saya berdoa semoga itu tak terjadi, soalnya di Bogor banyak sekolah yang dipakai sebagai lembaga mencari nafkah dan memancing bantuan dana dari lembaga-lembaga swasta yang menganggarkan sebagian keuntungannya untuk bantuan pendidikan.. Bagaimana kUalitasnya jelas sangat buruk, karena gurunyapun diambil dari kelompok mereka sendiri, tanpa peduli apa bidang keahliannya. Bagaimana hasilnya? Tampaknya para guru tadi kurang peduli. Toh anak-anak didik mereka anaknya orang miskin yang bersekolah asal bersekolah saja.. Sekali lagi pertanyaan ruang imaji di atas sangat mencemaskan saya.
    Sekian, salam dari saya Bintang Rina.

    • Terima kasih atas keikutsertaan “Bintang Rina” dalam diskusi ini.

      Bagi saya, tidak masalah itu guru atau bukan karena masalah pendidikan adalah masalah kita bersama. Bila informasi Bapak tentang yang terjadi di Bogor, saya hanya ikut merasa prihatin. Sangat disayangkan bila masalah pendidikan dijadikan sebagai ajang melakukan bisnis, mencari keuntungan pribadi (kelompok), sehingga tidak lagi mempedulikan tujuan didirikannya lembaga pendidikan yang sebenarnya. Bisa dibayangkan seperti apa kualitas hasil pendidikan tersebut, bila ditangani oleh orang-orang yang tidak tepat.

      Mudah-mudahan mereka yang memanfaatkan dunia pendidikan untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya saja segera mendapat kesadaran untuk kembali ke jalan yang benar.

      Salam hormat selalu…

    • Wah, suatu kehormatan dapat kunjungan dari seorang Bupati nih. Memang, kenyataan di lapangan masih banyak dijumpai guru mengajar yang tidak sesuai dengan jenjang pendidikannya. Nah, tulisan di atas hanyalah sekedar pengandaian sebagai intermezo.

      Terima kasih atas kunjungan dan komentar dari Barito Timur.

  7. Ping-balik: Andai Guru Bahasa Mengajar Matematika (1) | ruang imaji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s