20 comments on “Andai Guru Bahasa Mengajar Matematika (1)

  1. Subhanallah…
    Sebuah tulisan yang menggugah pemikiran. Bila seorang guru bahasa mengajar matematika, ada ada plus minusnya. Bila guru itu kreatif dan mau belajar, insya Allah ilmu matematika menjadi lebih mudah disampaikan ke siswa. Namun, bila guru itu malas belajar dan hanya menyampaikan materi matematika sebatas kemampuannya saja, tentunya siswa akan menjadi korban dari sebuah kebijakan.

    • Iya Om, semuanya memang tergantung pada bagaimana kreativitas kita dalam menyampaikan suatu ilmu. Namun menurut saya, memang lebih afdol bila suatu ilmu disampaikan oleh orang yang memang ahli di bidangnya. Apalagi bila ilmu itu sangat jauh kesinambungannya dengan dasar materi yang kita kuasai.

      Terima kasih atas sumbang sarannya…

  2. Pak Yoko memang tidak pernah habis-habisnya dalam membuat karya.
    Untuk cerita yang satu ini dari awal sudah terlihat lucu. Perasaan yang dialami tokoh tersebut mencerminkan kehkawatirannya.
    Aku tunggu lanjutan ceritanya lagi. Semakin membuaku penasaran. Hehe🙂

    • Hei, kisah di atas sama sekali tidak lucu lho, justru sangat memprihatinkan karena mengulas harapan yang sirna dari seorang pencari kerja. Untuk kelanjutan tulisan tersebut, akan saya gali dari komentar-komentar yang masuk.

      Trims atas atensinya.

    • Tentunya pengalaman yang sangat berkesan dong. Pasti para siswa jadi lebih enjoy saat belajar karena ilmu matematika yang terkesan “garang” menjadi “lembut” dengan sentuhan sastra…

    • He..he…he… tak usah bingung, yang penting guru biologi itu menguasai ilmu kimia kan? Lagi pula antara biologi dan kimia masih ada kedekatan rumpun, rumpun IPA.

  3. ribet tuh, jika tak sesuai dngn bidang ilmu,meski belajar dari awal,
    memahami dan mencari lebih bnyk lagi, takutnya murid bertanya, tak mampu kita jawab, khan… kurang baik🙂

    salam kenal dari makassar

    • Iya ya, betul juga. Sudah ribet mempersiapkan segala sesuatunya, eh saat ditanya murid tak bisa menjawab. Habis itu karena sering ditanya, hawanya mau marah terus… makin runyam saja.

      Salam kenal juga nih…

  4. Assalamu’alaikum Wr. Wb…

    Kelihatannya asyik juga ya, ntar rumus-rumus matematika disusun menjadi puisi, soal-soal ujian berupa soal cerita. Terus ada juga materi mendongeng kisah-kisah ahli matematika.

    Kami tunggu episode selanjutnya, Pak…

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Memang mengasyikan bila cara guru mengajar penuh kreasi dan variasi. Namun, kalau tidak didasari dengan penguasaan ilmu yang mantap ya tetap saja membuat galau…

      Terima kasih atas apresiasinya, mudah-mudahan episode berikut bisa segera diposting.

  5. malah di sekolahku Pak, alumni (berijazah matematika) ngelamar ditolak padahal ia lulus kumlot dg waktu tempuh tiga setengah tahun. padahal sekolah butuh guru matematika, eh kok malah lebih suka dikasihkan pada guru DPK yg sudah pensiun dg ijazah PAI mulang matematika.

    • Wah, kalau yang seperti itu barangkali banyak terjadi di beberapa sekolah. Mungkin kebijakan Kepala Sekolah dengan pertimbangan bahwa yang sudah pensiun ilmunya lebih matang, khususnya dalam berhadapan dengan para siswa di kelas.

  6. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Raden….

    Kisah guru di atas memang perlu kepada perhatian khusus bagi pihak kementerian pendidikan untuk memikirkan secara serius bagaimana harus mengatasi masalah kekurangan guru dalam disiplin ilmu yang lain.

    Saya yakin guru di atas tadi adalah lulusan dari Universitas yang pengkhususannya dalam bahasa sastera. Maka sudah tentu hanya belajar bagi matapelajaran opsyen sahaja.

    Tetapi jika di institut perguruan pula, saya fikir selain mengambil matapelajaran major tentu mereka juga mengambil mata pelajaran minor sebagaimana ada di institut perguruan di Malaysia. Hal ini dilakukan bagi mengurangi masalah kekurangan guru terutama dalam matematik dan sains.

    Mudahan ada perkembangan lanjut dari pendidikan di sana untuk mengatasi masalah seperti ini.

    Salam hormat selalu.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb….

      Saya setuju dengan saran Mbak Fatimah, memang ada baiknya bila di perguruan tinggi diterapkan kebijakan bagi mahasiswa untuk mengambil jurusan mayor dan minor, sehingga mereka memiliki penguasaan ilmu yang lain di samping ilmu utamanya. Namun, barangkali ada alasan lain yang membuat kebijakan tersebut tidak diberlakukan. Mungkin saja agar mahasiswa lebih fokus pada bidang ilmu yang digelutinya saja.

      Kadang kala kekurangan guru pada bidang studi tertentu disebabkan bukan karena tidak adanya pelamar yang sesuai dengan bidang studi yang dibutuhkan. Biasanya kendala yang muncul adalah tidak adanya dana khusus untuk memberi honor bagi mereka. Untuk gurur-guru wiyata bakti (honorer) memang penggajiannya tidak dari pemerintah melainkan dari sekolah itu sendiri. Itulah sebabnya, pihak sekolah terpaksa menggunakan jasa guru yang ada untuk mengampu mata pelajaran yang lain agar tidak mengeluarkan dana khusus untuk menggaji guru baru.

      Terima kasih Mbak Fat, atas masukan yang sangat berharga. Salam hormat pula senantiasa…

  7. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Raden…

    SELAMAT HARI IBU untuk semua anak-anak dan ibu-ibu di Indonesia yang meraikan HARI IBU pada hari ini. Sebagai menghargai ibu yang dicintai, saya menghadiahkan 2 AWARD HARI IBU untuk dijadikan kenangan dari Malaysia.

    Silakan kutip award-award tersebut di sini:

    http://webctfatimah.wordpress.com/2012/12/22/ct143-22-disember-2012-selamat-hari-ibu-untuk-sahabatku-ibu-ibu-di-indonesia/

    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Terima kasih sekali atas ucapan Mbak Fatimah untuk Ibu-ibu di Indonesia atas Peringatan Hari Ibu Tahun ini. Terima kasih pula atas hadiah 2 AWARD HARI IBU yang sangat indah sebagai buah karya hati yang suci. Semoga kebaikhatian Mbak Fatimah mendapatkan balasan pahala dari Allah Swt.

      Selamat Hari Ibu pula untuk Mbak dan Kaum Ibu di Malaysia…

  8. Assalamu’alaikum…

    Menarik sekali kisahnya, perjuangan untuk menularkan ilmu walau tak kesampaian. Saya tidak bisa membayangkan bila guru bahasa mengajar matematika, 2 bidang ilmu yang sangat jauh nyambungnya.

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Tidak usah dibayangkan Pak Imam, ntar malah stres sendiri. Indi hanya sekedar refreshing saja kok. Terima kasih atas atensinya, Pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s