12 comments on “Cerpen: P u l a n g

  1. Assalamu’alaikum…

    Pak Yoko….
    Saya tertarik dengan cerita ini karena alur dan kisahnya sederhana, tapi saya juga geregetan karena ceritanya hanya sampai di situ. Awalnya saya kira cerpen itu akan membuat saya sampai menangis karena membacanya, tapi ternyata….
    baru mau menghayati dan memahami jalan cerita dan pesannya, eh malah ceritanya usai. Besok-besok dilanjutkan ya Pak ceritanya, agar saya tidak membuat lanjutan cerpen tersebut di angan-angan saya sendiri yang mungkin kurang sesuai. Terima kasih Pak karena telah membuat geregetan… hehehe

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb…

      Syukur alhamdulillah bila Mbak Amanah tertarik dengan cerpen tersebut. Kok sampai geregetan sih, ceritanya ya memang seperti itu, sekedar curhat dengan diri sendiri atau dialog batin gitu lho. Itu kisah lama atas suatu permasalahan yang berkecamuk saat itu. Jadi, alurnya ya sesuai dengan suasana hati saat itu. Inti permasalahannya kan pada pertentangan batin tokoh “aku”.
      Nah, supaya kamu tak geregetan, bagaimana kalau kamu sendiri yang meneruskan ceritannya, tentunya sesuai dengan angan-angan yang kamu rasakan.

      Oke, terima kasih atas apresiasinya dan mohon maaf telah membuat geregetan…

  2. Wah.. nanti kalau saya yang meneruskan sendiri cerita itu ya tidak puas rasanya. Namanya juga berganti mungkin jadi ‘Cerpen Berjamaah’ hehe…. Iya kan pak?.
    Bagaimana kalau cerpennya dibuat berseri, tapi namanya nanti jadi apa ya?. Cerpen berseri, rasanya terdengar aneh.

    Terserah bapak sajalah. Saya akan berusaha menjadi pembaca yang mengikuti kemauan penulis..hehehe. Terimakasih untuk sarannya pak.

    • Trims atas apresiasi dan masukannya. Sebenarnya akan lebih bervariasi bila satu ide dapat diterjemahkan oleh beberapa orang dalam bentuk suatu karya (tidak harus cerpen). Gaya penyajian nantinya juga sesuai dengan interpretasi masing-masing. Barangkali, Mawar Kuning bisa mencoba..

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, mas Raden….

    Pertama kali membaca cerpen mas Raden, saya dihidangkan dengan plot cerita yang menarik dan mempunyai pelbagai ragam kisah dari awal hingga akhirnya.

    Kerinduan anak perantau kepada kampung halaman tidak dapat dihindari apabila “kesengsaraan” mulai menguasai diri. selama mana kita dirantauan pasti akan mudik juga untuk menjenguk orang tersayang yang telah lama ditinggalkan.

    Kisah “aku” membawa segala kepayahan kehidupan kota sehingga harus membuat keputusan untuk kembali ke desa kelahiran dan mencurah bakti di sana sedangkan ramai yang berpusu-pusu ke bandar untuk meraih rezeki yang dibilang mudah di sana. ternyata kehidupan ini penuh pancarobanya.

    Saya senang bisa membaca cerpen hasilan mas Raden terutama susun bahasa yang digunakan. Sangat menarik, padat dan bermakna. Mudah difahami dan tidak terlalu lelah untuk difikirkan.

    Saya dapat menangkap segala keresahan watak aku dalam seluruh curahan hatinya terhadap dunia sekeliling sehingga kepada harapan yang “rebah” dari seorang bunda yang inginkan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan manusia di sekelilingnya yang tidak mampu dihalang disebabkan desakan hidup yang melanda.

    Hehhe… saya sepertinya jadi mengulas cerpen mas Raden sahaja sedangkan tidak punya potensi ke arah tersebut. maaf kalau tersasar dari apa yang dimaksudkan oleh mas Raden.

    Syabas atas usaha menulis sesuatu yang bermanfaat untuk difikirkan bersama.
    Salam hormat takzim dari Sarikei, Sarawak.😀

    • Wa’alaikumsalam Wr. Wb, Mbak Fatimah…

      Ide cerita dapat diperoleh dari mana saja dan dari siapa saja, pun dengan ide “Pulang” tersebut. Ide awalnya hanyalah gejolak batin atas segala permasalahan kehidupan yang saya alami, juga yang saya lihat di sekeliling. Kadang kala batin berkata-kata, dan kata-kata tersebut kadang pula mendapat tanggapan dari sisi batin yang lain. Terjadilah senandika atau solilokui, dialog batin.

      Adapun kerinduan akan kampung halaman, tanah kelahiran hanyalah sekedar ilustrasi pendukung. Di saat suasana hati tak menentu, di saat dirundung berbagai persoalan, kepada siapa lagi akan berbagi, kepada siapa akan mencurahkan segala rasa, selain kepada sosok yang paling mengenal diri kita. He..he.. kebetulan saat itu ada pula sih kerinnduan untuk pulang, kerinduan bertemu orang tua dan sanak saudara. Maka, jadilah cerpen itu…

      Wah, Mbak Fatimah ada-ada saja, untuk menjadi pengulas cerpen kan tidak harus menjadi cerpenis. Saya senang dengan ulasan Mbak, susunan bahasa yang Mbak tuliskan mampu membesarkan hati dan memotivasi diri untuk bisa lebih berkreasi lagi. Terima kasih selalu atas ulasan dan apresiasi Mbak Fatimah.

      Salam hormat senantiasa untuk Mbak Fatimah di Sarikei, Sarawak…

  4. Hanya satu penghapus kerinduan… PERTEMUAN..!
    Namun, setelah bertemu adakah lagi rasa rindu? Rasa rindu mesti dipupuk agar tetap tumbuh subur dan menjadikan kita selalu ingin bertemu dengan yang dirindui…

    • Tentu saja obat dari rindu adalah bertemu. Namun, setelah rindu terobati dengan pertemuan, mestinya kita menganyam suasana agar rindu itu terbangkitkan kembali di saat kita berpisah.

      Salam rindu selalu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s