<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>ruang imaji</title>
	<atom:link href="http://ruangimaji.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ruangimaji.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 24 Feb 2012 03:24:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ruangimaji.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/43e654e6101692a6c43d2569fbff3d2c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>ruang imaji</title>
		<link>http://ruangimaji.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ruangimaji.wordpress.com/osd.xml" title="ruang imaji" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ruangimaji.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pengajaran Drama di Sekolah</title>
		<link>http://ruangimaji.wordpress.com/2012/02/11/pengajaran-drama-di-sekolah/</link>
		<comments>http://ruangimaji.wordpress.com/2012/02/11/pengajaran-drama-di-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 12:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangimaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[MAN 2 Banjarnegara]]></category>
		<category><![CDATA[pengajaran drama]]></category>
		<category><![CDATA[Teater Peron]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangimaji.wordpress.com/?p=853</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai hasil kreasi dan ekspresi jiwa, karya sastra mampu mengungkap fenomena kehidupan, gejolak jiwa, pikiran, perasaan, ide, maupun gairah kreativitas yang berkecamuk dalam diri manusia. Amat disayangkan bila seluruh potensi yang dimiliki manusia tersebut terbuang dengan percuma, tanpa adanya wadah kegiatan yang menampungnya. Adapun salah satu bentuk wadah kegiatan yang dapat ditawarkan adalah kegiatan drama. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=853&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebagai hasil kreasi dan ekspresi jiwa, karya sastra mampu mengungkap fenomena kehidupan, gejolak jiwa, pikiran, perasaan, ide, maupun gairah kreativitas yang berkecamuk dalam diri manusia. Amat disayangkan bila seluruh potensi yang dimiliki manusia tersebut terbuang dengan percuma, tanpa adanya wadah kegiatan yang menampungnya. Adapun salah satu bentuk wadah kegiatan yang dapat ditawarkan adalah kegiatan drama.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><em>Pengajaran Drama</em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2012/02/teater-man-22.jpg"><img class="alignleft  wp-image-863" title="Teater MAN 2" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2012/02/teater-man-22.jpg?w=250&#038;h=200" alt="" width="250" height="200" /></a>Pengajaran sastra, khususnya drama di sekolah sampai saat ini masih menitikberatkan pada aspek kognitif atau pengetahuan saja. Akibatnya, para siswa hanya mampu mengetahui atau mungkin hapal istilah-istilah yang ada dalam teori drama, di antaranya judul naskah, ringkasan cerita, maupun nama pengarangnya. Keadaan seperti ini tentu saja tidak dapat dijadikan tuntutan agar siswa mampu aktif dalam suatu kegiatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang diharapkan dari pengajaran apresiasi drama pada dasarnya adalah segi apresiasinya, yang melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor. Itulah sebabnya, kegiatan apresiasi drama di kalangan para siswa merupakan masalah yang harus ditangani bersama. Di samping memiliki pengetahuan yang layak mengenai drama, diharapkan para siswa memiliki atensi yang pantas terhadap kegiatan drama. Bahkan bila dimungkinkan mampu melakukan kegiatan praktik berupa pementasan drama.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk dapat menyampaikan materi pengajaran drama dengan baik diperlukan tenaga pengajar yang benar-benar mampu dan menguasai seluk-beluk drama, baik secara teori maupun praktik. Penguasaan teori dan praktik secara bersama sangat penting agar nantinya para siswa mampu menerapkan teori yang diperolehnya pada saat proses belajar mengajar berlangsung, ke dalam bentuk praktik pementasan naskah drama. Untuk dapat menghasilkan hasil pementasan yang bermutu, tentu saja diperlukan keterlibatan bimbingan tenaga pengajar yang kompeten.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, pada kenyataannya jarang sekali ada pengajar materi Bahasa Indonesia yang betul-betul menguasai teori dan praktik drama sekaligus. Biasanya para pengajar hanya menguasai kemampuan secara teori saja. Padahal, kemampuan teori tanpa <em>dibarengi</em> dengan kemampuan praktik akan terasa hambar. Barangkali para guru kurang menaruh minat terhadap bidang apresiasi drama karena beranggapan bahwa dirinya akan menemui banyak kesulitan, takut pada bayangan sebelum mencobanya. Hal yang demikian tentu saja tidak dapat merangsang minat siswa untuk gemar <em>menggeluti</em> kajian drama. Siswa menjadi kurang dapat menghayati dan menikmati keindahan yang timbul dari kegiatan apresiasi drama karena guru tidak pernah mengajarkannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><em>Alternatif Upaya</em></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2012/02/pantomim1.jpg"><img class="alignleft  wp-image-864" title="Pantomim" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2012/02/pantomim1.jpg?w=250&#038;h=220" alt="" width="250" height="220" /></a>Upaya yang pertama kali harus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan apresiasi drama pada siswa adalah meningkatkan minat dan kemampuan kita sebagai pengajarnya. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus supaya diri kita terhindar dari sebutan “jarkoni”, <em>bisa ngajar ora bisa nglakoni</em> (bisa mengajar namun tidak bisa melakukan sendiri). Setelah itu, dapat kita lakukan dengan mengajak siswa untuk mengikuti kegiatan apresiasi drama, baik dengan menyaksikan pementasan drama (secara langsung atau melalui rekaman) maupun dengan berlatih memerankan tokoh-tokoh yang terdapat dalam naskah drama.</p>
<p style="text-align:justify;">Akan lebih baik lagi bila dibentuk suatu wadah kegiatan guna menampung dan menyalurkan kemampuan siswa berupa kegiatan drama atau kelompok teater. Adapun waktu pelaksanaan kegiatan bila pada jam-jam pelajaran efektif tidak memungkinkan, dapat dilakukan di luar jam pelajaran. Dengan kata lain, drama tersebut dijadikan sebagai kegiatan ekstrakurikuler.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mengikuti kegiatan drama, siswa dapat memetik berbagai manfaat yang terkandung dalam karya drama, yang banyak mengungkap dramatiknya gelombang kehidupan manusia yang penuh dinamika. Di samping itu, dalam kegiatan tersebut siswa akan terlatih untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan sosial, seperti memiliki rasa tanggung jawab, bekerja sama dalam kelompok, setia kawan, dan mampu bahu-membahu demi tercapainya tujuan bersama. Dengan demikian, siswa dapat diarahkan pada suatu kegiatan yang positif.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal tersebut di atas, tentu saja membutuhkan peran serta aktif seorang guru sebagai pengajar dan orang tua siswa di sekolah. Dengan peran serta aktif tersebut, seorang guru dapat menjadi teladan bagi siswa di dalam menentukan langkah hidup di masa selanjutnya. (<em>Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno*</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />Filed under: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/kesastraan/'>Kesastraan</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/pendidikan/'>Pendidikan</a> Tagged: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/man-2-banjarnegara/'>MAN 2 Banjarnegara</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/pengajaran-drama/'>pengajaran drama</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/teater-peron/'>Teater Peron</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangimaji.wordpress.com/853/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangimaji.wordpress.com/853/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=853&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangimaji.wordpress.com/2012/02/11/pengajaran-drama-di-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de8bfecec14da51ffafea09af1375790?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangimaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2012/02/teater-man-22.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Teater MAN 2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2012/02/pantomim1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Pantomim</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menelusuri Jejak Tradisi, Meredam Gejolak Batin</title>
		<link>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/24/menelusuri-jejak-tradisi-meredam-gejolak-batin/</link>
		<comments>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/24/menelusuri-jejak-tradisi-meredam-gejolak-batin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 07:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangimaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[Pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Film Terbaik]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi Novel]]></category>
		<category><![CDATA[Ronggeng]]></category>
		<category><![CDATA[Sang Penari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangimaji.wordpress.com/?p=749</guid>
		<description><![CDATA[Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1982. Karya penulis asal Banyumas, Jawa Tengah ini diadaptasi ke dalam film Sang Penari (Internasional: The Dancer). Film ini dirilis pada 10 November 2011, disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dibintangi oleh Prisia Nasution sebagai pemeran utama, serta Oka Antara, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=749&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sang-penari.jpg"><img class="alignleft  wp-image-750" title="Sang Penari" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sang-penari.jpg?w=188&#038;h=200" alt="" width="188" height="200" /></a>Novel <span style="color:#ff0000;"><em>Ronggeng Dukuh Paruk</em></span> karya Ahmad Tohari, diterbitkan pertama kali oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1982. Karya penulis asal Banyumas, Jawa Tengah ini diadaptasi ke dalam film <em>Sang Penari</em> (Internasional: <strong>The Dancer</strong>). Film ini dirilis pada 10 November 2011, disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dibintangi oleh Prisia Nasution sebagai pemeran utama, serta Oka Antara, Dewi Irawan, dan Slamet Rahardjo sebagai pemeran pendukung.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2011, <em>Sang Penari</em> berhasil meraih 10 nominasi dan berhasil memenangkan 4 Piala Citra, semuanya untuk penghargaan utama, di antaranya adalah penghargaan tertinggi sebagai Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Ifa Isfansyah), Aktris Terbaik (Prisia Nasution), dan Aktris Pendukung Terbaik (Dewi Irawan).</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak resensi yang mengupas novel <span style="color:#ff0000;"><em>Ronggeng Dukuh Paruk</em></span> ini. Berikut ini adalah salah satu resensinya:</p>
<p><strong><span style="color:#000080;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/ronggeng-dukuh-paruk2.jpeg"><img class="alignleft  wp-image-758" title="Ronggeng Dukuh Paruk" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/ronggeng-dukuh-paruk2.jpeg?w=190&#038;h=177" alt="" width="190" height="177" /></a></span></strong><span style="color:#000080;"><span style="color:#ffff00;">Judul: Ronggeng Dukuh Paruk</span></span></p>
<p><span style="color:#ffff00;">Pengarang: Ahmad Tohari</span></p>
<p><span style="color:#ffff00;">Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama</span></p>
<p><span style="color:#ffff00;">Kota, Tahun Terbit: Jakarta, 1992</span></p>
<p><span style="color:#ffff00;">Tebal Buku: 174 halaman</span></p>
<address> </address>
<p style="text-align:justify;">Karya sastra acapkali didudukkan sebagai bentuk ekspresi dan refleksi pengarang yang mencoba merekonstruksi pengalaman batin dan empirisnya. Ekspresi dan refleksi tersebut umumnya berkaitan dengan situasi dan kondisi sosiologis tempat pengarang menjalani kehidupannya. Secara langsung atau tidak, daya khayal pengarang dipengaruhi – bahkan ditentukan – oleh pengalaman manusiawi dalam lingkungan hidupnya. Kegiatan menulis karya sastra, dalam pemahaman semacam itu, menjadi usaha untuk melukiskan setiap pengalaman manusia di tengah lingkungan kehidupan yang ikut membentuk persepsi mengenai suatu kenyataan hidup. Teks sastra merefleksikan berbagai faktor sosial, hubungan kekeluargaan, pertentangan kelas, serta berbagai struktur sosial dan sistem budaya yang ada dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p style="text-align:justify;">Novel <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> ini seakan menegaskan hal tersebut. Ada orientasi tematik tertentu yang telah dipilih oleh pengarang, yakni tentang tradisi dan perjuangan gender. Ketika membaca <em>Ronggeng Dukuh Paruk, </em>pembaca diajak untuk ikut mengamati sisi kehidupan manusia secara lebih dekat, yaitu bagian kehidupan yang sering kali belum mampu untuk dipahami, atau bahkan sama sekali luput dari perhatian kita. Dalam novel ini, Tohari seakan telah memilih sebuah dunia tempat ia bisa dengan fasih dan leluasa membedah pengalaman dan lingkungan sosial budaya yang ikut membentuk karakter kepengarangannya. Ia tak hanya memperjuangkan estetika pengucapan cerita. Ada keterlibatan yang kental dengan pergolakan manusia.</p>
<p style="text-align:justify;">Novel <em>Ronggeng Dukuh Paruk </em>berlatar kehidupan sebuah pedusunan, kehidupan orang-orang dalam lapisan bawah yang bodoh dan terbelakang, yang tidak menyadari akan kebodohan dan keterbelakangannya. Mereka hidup dengan intuisi, yang sepenuhnya didasarkan pada <em>sasmita</em> alam yang telah dipercaya secara turun-temurun. Cerita diawali dengan gambaran Dusun Paruk, sebuah dusun kecil, miskin, dan terpencil, yang saat iru sedang dilanda musim kemarau panjang. Adalah Rasus, anak Dukuh Paruk berusia 14 tahun, yang sangat merindukan sosok Emak. Emaknya menghilang dalam malapetaka tempe bongkrek yang dialami Dukuh Paruk sebelas tahun silam, saat Rasus masih berusia tiga tahun.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Cerita Nenek yang paling membuatku penasaran adalah yang menyangkut Emak. Bersama Ayah, Emak juga termakan racun. Bila Ayah langsung meninggal pada hari pertama, tidak demikian dengan Emak. Dia masih hidup sampai seorang mantri datang pada hari ketiga&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Oleh Pak Mantri, Emak bersama lima orang lainnya dibawa ke poliklinik di sebuah kota kawedanan. Beberapa hari kemudian seorang kembali ke Dukuh Paruk dalam keadaan hidup, dan tiga lainnya sudah menjadi mayat. Emak tidak ada di antara mereka.</em> (Tohari, 1992:47).</p>
<p style="text-align:justify;">Kerinduan Rasus akan sosok Emak ternyata kemudian ditemukannya pada diri Srintil, anak perawan Dukuh Paruk berusia sebelas tahun, yang merupakan teman sepermainan Rasus. Kemudian Srintil berhasil membawa kegairahan hidup bagi Dukuh Paruk. Srintil dianggap telah dinaungi roh <em>indang</em>, roh yang dimuliakan di dunia ronggeng. Ronggeng memang menjadi kebanggaan Dukuh Paruk, dan telah sebelas tahun Dukuh Paruk tidak memiliki ronggeng. Tanpa ronggeng, Dukuh Paruk telah kehilangan jati dirinya. Dengan keluguan, atau mungkin kenaifannya Srintil merasa dilahirkan untuk menjadi ronggeng. Ronggeng, seperti yang diyakini dengan sepenuh hati oleh Srintil sendiri, adalah perempuan penari yang menjadi milik umum, terutama kaum lelaki.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Nah, aku punya sandal kulit. Mulah. Baling baik. Na, kamu olang tida pantas beltelanjang kaki. Betismu bagus. Bayal sandalku. Nanti aku juga mau bayal kalau aku tidul di Dukuh Paluk.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Seperti juga Pak Simbar, Babah Pincang juga gatal tangan. Bukan pinggul Srintil yang digamitnya, melainkan pipinya. Kali ini pun Srintil tak berusaha menolak. Bangsat lagi!</em> (Tohari, 1992:132).</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya Rasuslah satu-satunya warga Dukuh Paruk yang dalam hatinya tak rela kalau Srintil menjadi seorang ronggeng. Ini lantaran Rasus sudah terlanjur membangun (menciptakan) bayangan Emak pada diri Srintil. Rasus tak rela bila “emaknya” disamakan dengan ronggeng. “<em>… Tetapi demi Rahim yang telah membungkusku, aku tak tega membayangkan Emak sebagai perempuan yang selalu ramah terhadap semua laki-laki. Yang tak pernah menepis tangan laki-laki yang menggerayanginya. Tidak. Betapapun aku tak mampu berkhayal demikian</em>” (Tohari, 1992:134).</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan Dukuh Paruk dengan segala isinya terbaca semuanya dalam corak hubungan antara Rasus dengan Srintil. Rasus pun dalam hatinya mengutuk Dukuh Paruk yang miskin, dengan masyarakat yang bodoh dan terbelakang. Namun apa daya, Rasus tak mampu berbuat apa-apa. Konflik batin dalam diri Rasus akhirnya menjadikan ia membuat keputusan untuk menghapus bayang-bayang Emak pada diri Sintil. Rasus akhirnya memilih meninggalkan Dukuh Paruk guna mencari kehidupan lain. Meski kecewa, ia merasa telah dapat memberikan sesuatu yang membanggakan pada Dukuh Paruk, yaitu seorang ronggeng.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam novel ini Tohari mampu bercerita dengan lancar. Terutama ketika menampilkan deskripsi latar alam pedusunan. Tohari mampu memberikan kesan kepada pembaca bahwa karya ini tampak realistis, tampak sungguh-sungguh diangkat dari fenomena faktual. Hal ini terlihat pada bagian awal cerita yang mampu memberikan informasi yang berkaitan dengan latar kejadian. Di bagian ini digambarkan suasana Dukuh Paruk yang terpencil dan tengah dilanda musim kemarau panjang. Masyarakatnya masih menganut ilmu kebatinan yang berkiblat pada cungkup leluhurnya, Ki Secamenggala. Deskripsi latar diberikan relatif panjang, sehingga mampu menyeret pembaca ke dalam cerita dan menjadi ikut terlibat secara emosional.</p>
<p style="text-align:justify;">Latar geografis Dukuh Paruk yang terpencil sekaligus mengacu pada keterpencilan dan kesederhanaan hidup, yang nyaris mendekati keprimitifan masyarakatnya. Dari lokasi yang terpencil, terisolasi, masyarakat Dukuh Paruk seakan sulit dibangunkan atau disadarkan dari keterbelakangan, kenaifan, dan kebodohannya. Sementara deskripsi latar, khususnya yang berhubungan dengan alam, tak hanya mencerminkan suasana internal tokoh, namun juga menunjukkan suasana kehidupan masyarakat dan kondisi spiritual masyarakat yang bersangkutan. Dalam hal ini terdapat hubungan timbal balik, yang saling mencerminkan latar fisik, alam, spiritual, dan sistem nilai yang berlaku di masyarakat. Kejelian dan ketelitian pengarang dalam mendeskripsikan latar menjadi kekuatan utama novel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Novel <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> tidak saja menuturkan cerita kehidupan ronggeng. Lebih dari itu, dengan kekayaan imajinasi dan keluasan pengetahuan, Tohari berhasil menggambarkan dan memaparkan struktur kompleks kehidupan para tokohnya dalam menjalani kehidupan. Tohari pun sanggup mempergunakan daya angan yang sekaya dan selembut mungkin untuk menyusup ke dalam jiwa tokoh yang diciptakannya. Tohari menokohkan seorang penari ronggeng yang lugu dan naïf, yang merupakan simbol tradisi yang membesarkannya. Meskipun Tohari dikenal pula sebagai seorang santri, seorang alim ulama, namun kesantrian tersebut agaknya tak menghalanginya untuk bercerita dan berimajinasi terhadap dunia kekumuhan, kecabulan, dan kebobrokan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ronggeng, demikian keyakinan tokoh Srintil beserta sistem nilai yang mengelilinginya hadir mewakili dunia perempuan yang mempunyai peran atau bahkan kewajiban alami sebagai penyeimbang bagi dunia lelaki dan kelelakian. Itulah sebabnya, dalam menjalani perannya sebagai ronggeng Srintil selalu merasa terpanggil untuk melayani lelaki mana saja. Masyarakat  Dukuh Paruk sendiri mendukung kondisi tersebut. Seorang ronggeng tidak akan menjadi bahan pencemburuan bagi perempuan Dukuh Paruk. Bahkan dalam novel ini disebutkan bahwa para istri justru merasa bangga bila suaminya dapat tidur bersama dengan seorang ronggeng. Mereka juga rela menjual hartanya agar sang suami dapat membayar seorang ronggeng, seperti pada kutipan berikut:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketika menonton Srintil menari aku pernah mendengar percakapan peremuan-perempuan yang berdiri di tepi arena. Percakapan mereka akan membuat para suami merasa tidak menyesal telah hidup dalam kungkungan rumah tangga.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Nanti kalau Srintil sudah dibenarkan bertayub, suamiku akan menjadi laki-laki pertama yang menjamahnya,” kata seorang perempuan.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Jangan besar cakap,” kata yang lain, “Pilihan seorang ronggeng akan jatuh pertama pada lelaki yang memberinya uang paling banyak. Dalam hal ini suamiku tak bakal dikalahkan.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tetapi suamimu sudah pikun. Bau satu babak menari pinggangnya akan terkena encok.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Aku yang lebih tahu tenaga suamiku, tahu?”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tetapi jangan sombong dulu. Aku bisa menjual kambing agar suamiku mempunyai cukup uang. Aku tetap yakin, suamiku akan menjadi lelaki pertama yang mencium Srintil.”</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Tunggulah samapi saatnya tiba. Suami siapa yang bakal menang. Suamiku atau suamimu.”</em> (Tohari,1992:55).</p>
<p style="text-align:justify;">Dunia Srintil gemerlap oleh materi yang berlebihan bila diukur dengan taraf hidup masyarakat di sekitarnya. Srintil menjadi simbol kebobrokan moral Dukuh Paruk (sebelum akhirnya Srintil menginginkan dirinya untuk menjadi perempuan <em>somahan</em>). Sementara Rasus, yang menjadi simbol moral justru menghindar dari Dukuh Paruk. Di sini terlihat bahwa di satu sisi Tohari berbicara mengenai sistem sosial budaya masyarakatnya, di sisi lain ia berusaha menjaga keselarasan, keseimbangan, dan tanggung jawab sebagai seorang santri yang mengagungkan moralitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam novel <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> tersusun dalam suatu peristiwa yang mempunyai hubungan sebab akibat, sehingga membentuk suatu alur yang runtut. Alur itu sendiri dibangun oleh konflik demi konflik yang dialami oleh para tokohnya. Adapun konflik dalam novel ini didominasi oleh konflik tokoh Rasus dengan dirinya sendiri dan konflik dengan dunia sekitarnya. Konflik dengan diri sendiri terjadi karena Rasus sangat merindukan sosok emak yang ia temukan pada diri Srintil. Namun, hal itu kemudian harus ia akhiri setelah Srintil memutuskan untuk menjadi ronggeng. Sedangkan konflik dengan dunianya terjadi ketika Dukuh Paruk sangat mendamba dan membanggakan sosok ronggeng, sementara Rasus justru hanya mampu mengutuk di dalam hatinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tohari memanfaatkan monolog dan konflik psikologis tokoh Rasus sebagai tokoh utama. Hal ini terlihat ketika Rasus harus menerima kenyataan bahwa Srintil yang selama ini menjadi tempat untuk membangun bayang-bayang emak, justru menjadi seorang ronggeng. Rasus pun kemudian secara perlahan berusaha menghapus bayangan emak dari diri Srintil. Untuk ini, Tohari memerlukan beberapa halaman guna menggambarkan konflik batin yang dialami Rasus.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai sebuah novel, <em>Ronggeng Dukuh Paruk</em> berhasil menggugah keingintahuan pembaca untuk terus mengikuti kelanjutan cerita. Namun, yang paling menarik sebenarnya adalah penggambaran tuntas yang berhasil dibangkitkan Tohari tentang kehidupan daerah pedusunan. Kalaupun ada sesuatu yang mengganggu pikiran pembaca, tidak lain adalah tokoh Srintil, seorang bocah yang baru berusia sebelas tahun ternyata sudah matang pengetahuannya mengenai seks dan keperawanan. Hal ini terlihat pada peristiwa malam <em>bukak klambu</em>, salah satu prosesi yang menjadi syarat untuk menjadi seorang ronggeng. Terlepas dari itu semua, daya sentuh yang menghanyutkan pembaca berhasil dibangun oleh pengarang sehingga menjadikan sebagai sebuah karya yang berbobot.<span style="color:#ff0000;"> (<em>Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno*</em>)</span></p>
<p style="text-align:center;">*****</p>
<br />Filed under: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/kesastraan/'>Kesastraan</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/pustaka/'>Pustaka</a> Tagged: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/film-terbaik/'>Film Terbaik</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/resensi-novel/'>Resensi Novel</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/ronggeng/'>Ronggeng</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/sang-penari/'>Sang Penari</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangimaji.wordpress.com/749/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangimaji.wordpress.com/749/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=749&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/24/menelusuri-jejak-tradisi-meredam-gejolak-batin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de8bfecec14da51ffafea09af1375790?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangimaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sang-penari.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sang Penari</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/ronggeng-dukuh-paruk2.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">Ronggeng Dukuh Paruk</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kenangan Dibuang Sayang</title>
		<link>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/20/kenangan-dibuang-sayang/</link>
		<comments>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/20/kenangan-dibuang-sayang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 09:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangimaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anekdot]]></category>
		<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[MAN 2 Banjarnegara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangimaji.wordpress.com/?p=644</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu ungkapan bahwa &#8220;Lebih baik menunjukkan kegagalan dalam berkarya daripada menunjukkan kegagahan tanpa hasil karya.&#8221; Ungkapan itu pernah dilontarkan Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd., Guru Besar FKIP UNS dalam suatu perkuliahan dulu. Dari hal itulah, semangat untuk berkarya melalui keberanian menuliskan ide-ide ditanamkan. Ide paling sederhana yang dapat dituliskan adalah sesuatu yang pernah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=644&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><em>Ada satu ungkapan bahwa &#8220;Lebih baik menunjukkan kegagalan dalam berkarya daripada menunjukkan kegagahan tanpa hasil karya.&#8221; Ungkapan itu pernah dilontarkan <strong><span style="color:#ff0000;">Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd</span>.</strong>, Guru Besar FKIP UNS dalam suatu perkuliahan dulu. Dari hal itulah, semangat untuk berkarya melalui keberanian menuliskan ide-ide ditanamkan. Ide paling sederhana yang dapat dituliskan adalah sesuatu yang pernah dialami sendiri, yang membekas sebagai suatu kenangan. Kenangan manis tak kan habis, kenangan sayang tak kan hilang, kenangan romantis tak kan terkikis, dan kenangan sedih tak kan menyisih. Kenangan mesra? Tentunya makin terasa&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><em>Berikut ini coretan para siswa MAN 2 Banjarnegara yang kreatif dalam mengolah kenangan&#8230;</em></span></p>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Bukan Ingusnya</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bersin1.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignleft  wp-image-675" title="Bersin" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bersin1.jpg?w=250&#038;h=170" alt="" width="250" height="170" /></span></a>Setiap hari saya pergi sekolah bersama teman-teman. Sudah dua tahunan kami selalu pergi bersama, bahkan pulang sekolahpun kami saling setia untuk tunggu menunggu. Suatu hari hujan turun dengan derasnya, yang akhirnya membuat kami basah kuyup. Keesokan harinya, saya menjadi batuk dan flu, tapi anehnya yang mengalami sakit di antara kami hanyalah saya seorang. Mungkin karena daya tahan tubuh saya lebih lemah daripada mereka. Hal ini tidak sampai membuat saya untuk tidak masuk ke sekolah. Meski sebenarnya flu sangatlah membuat tidak konsen belajar.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Pagi itu saya berangkat seperti hari biasanya, lengkap berpakaian seragam putih biru, tak ketinggalan dasi abu-abu saya. Saya termasuk salah satu siswi yang suka mengenakan dasi karena dengan memakai dasi, saya merasa lebih percaya diri. Ya, bisa dibilang saya tidak pernah absen dari memakai dasi. Dan saya juga sangat suka dengan dasi yang berukuran panjang. Pagi itu kami pergi ke sekolah dengan menggunakan angkutan umum, yang ternyata di dalamnya sudah penuh sesak dengan penumpang. Namun, kami tetap masih bisa naik, meski sangat berdesakan. Kebetulan saya duduk di sebelah kanan seorang siswi yang lain sekolah dengan saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Tiba-tiba setelah beberapa menit kemudian angkutan itu berjalan, batuk sayapun mulai berdahak-dahak. Karena merasa malu dengan yang lain, saya menutup mulut saya dengan menggunakan kerudung. Beberapa lama kemudian, berganti dengan hidung saya yang sedang flu. Ingin sekali hidung ini mengeluarkan ingus. Meski beberapa kali sudah saya coba untuk menahannya, ingus dari hidung saya keluar begitu derasnya. Spontan saya  berpikir, jika saya gunakan kerudung untuk mengelap dan menutupi hidung, pasti kerudung saya menjadi terlihat kotor dan jorok. Sehingga tidak berpikir panjang, dasi abu-abu saya gunakan untuk mengelap dan menutup hidung saya. Serentak teman-teman yang tadi datang bersamaku tertawa terbahak-bahak. ’’Ah…  Apa-apaan <em>sih</em> mereka, teman sedang susah <em>kok malah</em> tertawa,’’ ujarku dalam hati.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-644"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Di sepanjang jalan saya masih tetap menutup hidung, tak peduli dengan teman-teman yang tertawa itu. Sesampai kami tiba di depan sekolah kamipun beranjak untuk turun. Saat saya berdiri, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang lumayan keras di telinga saya. Saya menoleh, ternyata dasi abu-abu siswi itu tertarik oleh tangan saya. Jadi, ternyata yang saya gunakan untuk mengelap ingus saya adalah dasi yang dipakai oleh siswi sekolah lain, yang kebetulan tadi duduk di sebelah kanan saya. Saya baru menyadari hal itu saat saya mau turun dari angkot. Aduuuhhh, malu sekali rasanya. Saya ingin segera minta maaf tapi kami terburu-buru masuk ke dalam sekolah karena saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 07.05 WIB. Apalagi siswi yang dasinya saya gunakan untuk mengelap ingus juga sudah <em>keburu</em> menghilang, mungkin mau segera mencuci dasinya&#8230;</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Begitulah, meski itu semuanya adalah salah saya tapi saya pikir ini memang nasib siswi itu yang sedang sial. Maafkan saya, ya. Ini adalah pengalaman yang sampai saat ini belum bisa hilang dari ingatan. <span style="color:#ff0000;"> <strong>(Zaimmatun Nafi’ah – XII IPA 1)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><strong>*****</strong></span></h3>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Bersin yang Dahsyat</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bersin-di-kelas1.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignright  wp-image-744" title="Bersin di Kelas" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bersin-di-kelas1.jpg?w=300&#038;h=180" alt="" width="300" height="180" /></span></a>Pada saat itu kelasku sedang pelajaran Bahasa Inggris, yang mengajar adalah Bapak Nelly. Bapak Nelly orangnya baik. Namun, bila sedang mengajar, kebetulan  ada siswa yang bandel, Bapak Nelly akan marah. Itu memang sudah biasa. Setelah itu beliau akan meneruskan pelajaran.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Barangkali karena terkena gejala flu, berkali-kali Pak  Nelly bersin. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika beliau tiba-tiba bersin dengan dahsyatnya, sampai-sampai keluar <em>upil</em> (kotoran hidung) yang cukup besar dan menempel di depan hidung.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Padahal Pak Nelly duduk di meja depan, dan duduknya lurus denganku, tetapi hanya berjarak 3 bangku. Setelah aku dan teman-teman melihatnya, kami tersenyum-senyum dan sulit menghentikannya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Apalagi anak yang duduk persis di depan Pak Nelly, tersenyum sambil memegangi perut menahan tawa. Aku juga tersenyum-senyum sampai perutnya sakit. <em>Masak</em> Pak Nelly bersin sampai <em>upil</em>nya keluar? Tapi Alhamdulillah, <em>upil</em> itu tidak meloncat ke siswanya, hee&#8230;hee&#8230;he&#8230;! Coba kalau meloncat, kemudian siswa yang di depan<em> pas</em> sedang menguap lebar&#8230; asyik <em>deh</em>&#8230;!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Pak Nelly seperti orang bingung, mungkin berpikir kenapa siswanya senyam-senyum semua. Tentu ia tak sadar bahwa <em>upil</em>nya telah keluar. Teman-teman memandang Pak Nelly sambil tersenyum-senyum. Salah seorang menunjuk ke arah muka Pak Nelly, “Maaf, Pak. Ada sesuatu di hidung <em>tuh</em>..”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Pak Nelly mengusap hidungnya namun tidak mendapatkan sesuatu itu. “Hampir kena Pak,” seru teman-teman. Kemudian beliau mengusap lagi, kemudian mengusap lagi, dan akhirnya dapat <em>deh</em> <em>upil</em>nya. Pak Nelly tersenyum, mungkin puas karena berhasil medapatkan upil, mungkin juga malu. He&#8230;he&#8230;he&#8230;he&#8230; <span style="color:#ff0000;"><strong>(Lia Aristania – XII IPS 1)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ffff99;">*****</span></h3>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Pertanyaan Menjebak</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sapi-ayam-kambing.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignleft" title="Sapi Ayam Kambing" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sapi-ayam-kambing.jpg?w=299&#038;h=180" alt="" width="299" height="180" /></span></a>Kebiasaan kami di kelas adalah membawa bekal makan siang dari rumah karena kami wajib mengikuti les sepulang sekolah sampai sore hari. Maklumlah, <em>kan</em> menyongsong Ujian Nasional memerlukan persiapan yang matang. Nah saat itu, suasana idul adha masih menghiasi di kelasku, sehingga saat itu anak-anak di kelasku banyak yang membawa bekal makan dari rumah dengan lauk daging sapi atau daging kambing.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saat jam istirahat ke-2 anak-anak di kelasku mulai membuka bekal yang dibawa masing-masing dan memakannya. Sambil makan aku bertanya tentang lauk teman-teman tetapi dengan pertanyaan yang menjebak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Kamu kambing atau sapi?” tanyaku kepada Mumas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Kalau aku bawahnya sapi, yang atasnya kambing,” jawab Mumas yang polos.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Lha kalau kamu apa, Dian?” tanyaku kepada Diana.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Aku bukan kambing, aku ayam ,” jawab Diana.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Dan aku menyimpulkan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Wah, ternyata teman-temanku binatang semua. Si Mumas perpaduan antara sapi dan kambing. Eh.. Diana malah ayam,” ucapku sambil tertawa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ohh dasar <em>songong</em> … <em>Tuyem Tuyem</em>!!” seru Mumas dan Diana setelah menyadari arah pertanyaanku.<span style="color:#ff0000;"> <strong>(Nur Shafa Permata</strong><strong> – XII IPA 2</strong><strong>)</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffff99;"><strong>*****</strong></span></p>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Gara-gara Kambing</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/imun-angon-salimun.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignright  wp-image-746" title="Imun Angon Salimun" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/imun-angon-salimun.jpg?w=300&#038;h=180" alt="" width="300" height="180" /></span></a>Saya tinggal di sebuah desa yang agak terpencil, yaitu Desa Pucung Bedug, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara. Sudah menjadi tradisi di desa saya, bila musim liburan tiba anak-anak sebaya saya membantu orang tua dengan mengembala kambing. Kambing merupakan hewan peliharaan paling digemari di desa saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Pada saat itu saya sedang asyik duduk di ruang tengah rumah. Tiba-tiba ada suara yang cukup keras memanggil-manggil namaku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Mun…. Mun&#8230;!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Ana apa ngorong-ngorong bae, gari mlebu koh</em> (Ada apa teriak-teriak, segera masuk saja),” jawab saya sambil keluar rumah. Ternyata yang memanggil adalah teman saya, Darno.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Ko garep angon wedus ra?</em> (Kamu akan menggembala kambing tidak?)” tanya Darno.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Ya iya koh, wong wedus wis gering kaya kae, wis suwe ra diangon</em> (Ya iyalah, kambing sudah kurus begitu <em>kok</em>, sudah lama tidak digembalakan).”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Nek kaya kuwe, mayuh! Nyong tek ngetokna weduse sit</em> (Kalau begitu, ayo! Saya mengeluarkan kambing dulu),” kata Darno sambil pergi menunju kandang kambingnya. Kebetulan rumah Darno bersebelahan dengan rumah saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Lalu saya pergi pula ke kandang untuk mengeluarkan kambing. Saya dan Darno menggiring kambing ke tempat yang biasa untuk mengembala kambing. Setelah sampai di tempat, kami membiarkan kambing-kambing untuk memakan rumput dan kami berdua duduk-duduk sambil mengawasi kambing-kambing kami sambil bercakap-cakap.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Mun, weduse ko dadi gering temen? </em>(Mun, kambingmu <em>kok</em> jadi kurus sekali?)” tanya Darno.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Iya koh, wis bosen urip mbokan</em> (Iya, sudah bosan hidup mungkin),” jawab saya sekenanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Ya gari disembeleh bae, nggo lawuh si enak! </em>(Ya tinggal disembelih saja, untuk lauk <em>malah</em> enak!)<em>”</em> usul Darno.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“<em>Mengko ya nyong ra nduwe ingon-ingon priwe&#8230;</em> (Nanti saya tidak punya peliharaan <em>gimana</em>&#8230;),” jawab saya sambil berdiri.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">”<em>Ko si garep ngendi?</em> (Kamu mau ke mana?)” tanya Darno.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">”<em>Ndeleng weduse ko&#8230;</em> (Lihat kambingmu&#8230;).”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saya menuju ke arah kambing milik Darno, kemudian memegang-megang punggung kambing milik Darno yang besar dan gagah. Tiba-tiba saya berpikir untuk menaiki kambing itu. Saat saya mulai naik, tiba-tiba kambingnya berlari-lari. Saya yang masih di punggung kambing ikut terbawa. Kambing itu kemudian berlari ke arah kolam dan berhenti mendadak saat di pinggiran kolam. Karena hilang keseimbangan, saya pun jatuh ke kolam itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Aduuuhhh&#8230;, ha&#8230;ha&#8230;ha&#8230;!” saya tertawa dengan menahan rasa sakit. Melihat kejadian itu, Darno juga ikut tertawa. Bukannya membantu malah menertawakan. Kemudian, saya dan Darno pun memutuskan untuk pulang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saya merasakan ada seuatu yang aneh karena dari tadi teman saya tertawa terus bahkan orang-orang yang berpapasan dengan saya ikut tertawa. Saya menjadi curiga, jangan-jangan ada apa-apa. Eh, eh, eh… setelah saya amati sekujur tubuh sesampainya di rumah, ternyata celana saya sobek lumayan lebar. Oh, pantas saja semua orang tertawa. Habis, melihat pemandangan yang <em>waow sih&#8230;</em>!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Itulah pengalaman saya di waktu kecil. Sayang sekali, budaya mengembala kambing di desa saya sekarang sudah mulai menghilang karena mereka lebih suka mencari atau membeli rumput daripada membawa kambingnya merumput, atau mungkin juga anak-anak sekarang merasa gengsi. <span style="color:#ff0000;"><strong>(Salimun – XII IPS 2)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;"><span style="color:#ffff99;">*****</span></h3>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Rasa Kenyal dalam Kegelisahan</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bus-penuh-sesaks1.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class=" wp-image-678 alignleft" title="Bus Penuh Sesaks" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bus-penuh-sesaks1.jpg?w=250&#038;h=175" alt="" width="250" height="175" /></span></a>Sore ini aku persiapkan buku-buku dan peralatan sekolah untuk esok hari. Tidak hanya itu, aku juga membaca semua buku-buku yang telah aku persiapkan itu. Hampir semua buku kubaca, tak terasa malam mulai larut dan waktupun menunjukkan pukul setengah dua belas. Kurasa badan ini mulai lelah, juga mengantuk. Aku bereskan kembali buku-buku yang telah kubaca dan kumasukan semua buku itu ke dalam tas, selanjutnya aku bergegas untuk tidur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Alarm mulai berdering, aku pun terbangun dan mematikannya. Namun tak kusadari, setelah mematikan alarm aku tertidur kembali. Selang beberapa lama terdengar suara seseorang wanita, seketika aku terbangun. Eh, ternyata itu suara ibuku yang sedang berteriak-teriak membangunkan aku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Ternyata hari sudah terlihat siang, jam menunjukan pukul setengah enam pagi. Aku mulai sibuk dengan persiapan sekolah. Aku pun bergegas untuk salat, mandi, dan sebagainya. Setelah beres-beres selesai, jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Inilah saatnya aku harus berangkat agar tidak terlambat sesampai di sekolah. Cacing-cacing peliharaan di perut mulai bernyanyi ingin dberi makan. Tapi mengingat sudah siang, aku tak pedulikan perut ini. Rasa gelisah karena takut terlambat telah mengalahkan segalanya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Tas mulai kutenteng, dengan terburu-buru kupakai sepatu dan berlari ke tepi jalan, untuk menunggu supir langgananku (bus kota). Selang beberapa lama datanglah sebuah bus kota yang telah sesak, yang hanya tersisa di bagian pintu bus saja. Aku tak pedulikan hal itu, Aku pun naik, berpegangan tangan sebuah besi yang digunakan untuk pegangan. Kuraba-raba besi itu agar kutemukan posisi pegangan yang nyaman. Tapi, aku bingung ketika meraba-raba aku menemukan sesuatu yang sangat aneh, terasa kenyal seperti ban dalam sepeda. Aku semakin penasaran dengan benda itu. Kuraba semakin kuraba. Namun anehnya, rasa penasaran ini semakin besar dan tak dapat kutahan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Seketika itu aku menengok ke benda tersebut, dengan wajah yang kaget dan malu. Untuk meyakinkan penglihatanku, aku menengok kembali ke arahnya sambil berkata, “<em>Apaan nih, kok kenyal</em>…” Tak kusangka, ternyata yang sejak tadi kupegang dan kuraba-raba itu adalah tangan seseorang wanita setengah baya. Betapa malunya aku saat itu , selang beberapa lama tibalah di pasar bus kota berhenti dan akupun turun. Ketika wanita itu turun dia tersenyum padaku. Dengan perasaan malu aku membalas senyum itu. Setelah itu aku meneruskan perjalanan ke sekolah. <span style="color:#ff0000;"><strong>(Mohammad Supriyadi</strong><strong> – XII IPA 3</strong><strong>)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><strong>*****</strong></span></h3>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Rumahnya Tidak Dibawa, Pak!</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/pembelajaran1.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignright" title="Pembelajaran" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/pembelajaran1.jpg?w=302&#038;h=180" alt="" width="302" height="180" /></span></a>“Teeet&#8230;.teeet&#8230;..teeet&#8230;.!” Bunyi bel tanda berganti mata pelajaran. Seperti yang sudah-sudah, setiap terdengar bunyi bel pasti anak – anak kelas X 3 mulai ribut dengan kesibukan masing-masing. Baik yang tidak mengerjakan PR, yang mondar-mandir meminjam buku tugas teman, yang ribut bergosip dan berbagai macam aktivitas lainnya, sehingga membuat suasana di kelas tidak karuan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Tapi untuk kali ini suara keributan yang ditimbulkan di kelas tidak seperti biasanya. Hampir semua anak meributkan hal yang sama, yaitu ulangan lisan mata pelajaran Bahasa Inggris yang diampu oleh Pak Nelly, berupa <em>telling story</em>. Para siswa diharuskan hapal salah satu cerita naratif yang telah ditentukan oleh pak Nelly. Bukannya anak-anak tak terbiasa mengikuti ulangan namun anak-anak sudah takut dengan raut wajah dan penampilan Pak Nelly yang memang agak berbeda dengan guru-guru yang lainnya, yang menurut penilaian anak-anak wajah pak Nelly terkesan <em>sangar</em>.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Ternyata setelah kuamati, tidak hanya aku yang cemas tapi teman-temanku juga sama cemasnya denganku.Terlihat ada yang menghapal sampai diulang- ulang namun ada pula yang masa bodoh.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Suara-suara berisik berhenti ketika di telingaku terdengar ucapan salam Pak Nelly, “Assalamu’alaikum…!” Begitu menggelegar di telingaku. Dan kami serentak menjawabnya, “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh…!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Mari kita praktik <em>telling story</em>…,” kata Pak Nelly.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Suasana hening, semua murid diam saja. Lantas Pak Nelly memecahkan keheningan dengan berkata, “Kenapa semuanya diam saja? Ayo, siapa yang akan maju terlebih dahulu untuk bercerita!” Tak ada tanda-tanda seseorang yang akan maju. Setelah menunggu 10 menit, Pak Nelly berkata, “Yang mau maju pertama, akan mendapatkan nilai tertinggi di kelas ini!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Akhirnya ada murid yang memberanikan diri untuk maju, kemudian diikuti muridmurid lain, termasuk aku. Setelah diperhatikan tak ada yang maju lagi, Pak Nelly kembali berkata, “ Hanya <em>segitu</em>? Tidak ada lagi yang mau maju?! <em>Masak</em> satu kelas hanya ada 10 anak?”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Salah satu siswi yang duduk di bangku sebelahku, Putri, namanya berbisik padaku, “Sinta, kalau maju tapi tidak hapal semuanya, Pak Nelly marah tidak ya?”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Tidak, paling hanya disuruh mengulang lagi,” jawabku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Ternyata Pak Nelly melihat ke arah kami, Pak Nelly menghampiri meja kami. Tiba-tiba Pak Nelly menepuk meja Puput sambil berseru, “ Hey !” Sontak aku dan Puput terdiam. Kuamati wajah Puput yang pucat, tangannya terus mengusap-usap sisi bajunya, jelas sekali bahwa ia sedang ketakutan karena Pak Nelly masih di dekatnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Kulihat Puput menengok ke arah belakang, pasti sedang melihat masih berapa lama waktu untuk pelajaran ini. Dugaanku benar, 15 menit lagi pelajaran usai. Tiba- tiba Pak Nelly mengagetkan Puput lagi dengan menepuk meja kembali dan bertanya, “Hei Mbak, rumahnya mana?!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Puput yang ketakutan itupun gelagapan dalam menghadapi pertanyaan sederhana Pak Nelly. Dengan polosnya ia menjawab “ Tidak dibawa, Pak..”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Pak Nelly pun terkejut dengan jawaban Puput. Karena maksud Pak Nelly, ia menanyakan di mana alamat rumah Puput. Tapi, jawaban Puput sungguh begitu polos. Langsung saja semua siswa kelas X 3 termasuk aku tertawa dengan terbahak-bahak akan jawaban Puput itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Puput hanya bisa mengamati seluruh temannya, mengapa kami tertawa.Ia bingung, kenapa semua anak tertawa begitu keras. Apakah ada yang salah dengan jawabannya. Setelah Puput sendiri menyadari, kemudian ia tertawa dengan kerasnya. Padahal, kami telah berhenti tertawa. Serentak, akhirnya kami tertawa bersama-sama. Dan jam mata pelajaran Bahasa Inggris pun usai.<span style="color:#ff0000;"> <strong>(</strong><strong>Sinta Yuni A</strong><strong> – XII IPS 1)</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffff99;">*****</span></p>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Siapa Nenek Itu&#8230;</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/nenek-gaul1.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignleft  wp-image-685" title="Nenek Gaul" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/nenek-gaul1.jpg?w=205&#038;h=241" alt="" width="205" height="241" /></span></a>Aku tinggal di kawasan pegunungan Dieng Banjarnegara. Sore itu ibu menyuruhku pergi ke rumah kakak untuk mengantar makanan yang baru saja ibu buat. Ibu memang sosok yang sangat baik dan perhatian kepada anak-anaknya. Langsung saja aku bersiap-siap menjalankan tugas dari sang ibu tercinta. Dengan memakai jaket tebal aku mulai menjalankan motor. Sore itu terasa sangat dingin dengan kabut yang menyelimuti seluruh kawasan Dieng.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Aku mengendarai motor dengan perlahan tapi pasti karena jalanan yang sedikit licin. Sekitar 15 menit akhirnya sampai juga di rumah kakak yang memang cukup jauh dari rumahku. Di sana aku langsung memberikan titipan ibu dan bermain sebentar dengan kemenakan kecilku yang masih sangat menggemaskan. Kemenakanku ini sangat nakal, pernah sekali pipiku digigit sampai membiru (mungkin kemenakanku gemas juga dengan pipiku yang ranum, he..he..he&#8230;).</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Karena hari sudah semakin sore aku langsung pamit untuk pulang. Kakak memberiku sedikit uang jajan. “Lumayan,” kataku dalam hati karena memang kebetulan aku tidak membawa uang saat itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Setelah setengah dari perjalanan, tepatnya di Desa Dieng Kulon, tiba-tiba motor ku mendadak berhenti, mesinnya mati. Aku bingung apa yang terjadi dengan motorku? Langsung saja aku mengecek bensin, dan ternyata benar bensinnya habis. Padahal, pom bensin masih cukup jauh. “Wah, nasib sial <em>nih</em>,” pikirku saat itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Tanpa pikir panjang langsung saja aku mendorong motor itu perlahan. Malu bukan main saat itu, apalagi di pertigaan jalan dekat pom bensin sedang sangat ramai. Aku mendorong motor itu sendirian. Biar sajalah, aku tak peduli, yang penting cepat sampai pom bensin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Sesampainya di pom bensin aku langsung mengisi bensin. Namun, tiba-tiba ada seorang nenek mendekatiku. Nenek itu mungkin berusia sekitar 60 tahunan. Dia semakin mendekat dan lebih dekat lagi. Setelah di depanku, nenek itu mengulurkan tangannya. Aku bingung karena aku tidak mengenalnya. Tapi, aku tetap menerima uluran tangannya, menjabat, dan kemudian mencium tangannya. Anehnya beliau tetap berdiri di depanku tanpa berkata apapun. Aku bingung, petugas pom bensin yang menyaksikan kejadian itu malah tertawa. Entah apa yang dia tertawakan. Melihat kebingunganku, nenek itu pergi dan kemudian duduk manis di depan pom bensin.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saat aku memberikan uang kepada petugas pom, dia malah semakin menertawakan aku. Apa yang aneh denganku? Padahal, aku merasa tidak ada yang aneh. Kemudian sambil menerima uang pembayaran, dia berkata, “Dik, nenek itu tadi pengemis yang sedikit gila. Kenapa malah kamu menyalaminya? Menciumnya lagi, ha…ha…ha…!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Haaah? Jadi nenek itu pengemis? Dan parahnya lagi sedikit gila!?”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Hahahaha… iya. Kamu baru tahu Dik? Kenapa malah kau mencium tangannya?”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Aku sejenak terdiam, perasaan antara malu dan bingung. Orang-orang di sekitar pun ikut tertawa terbahak-bahak. Aku tak peduli dan langsung pergi, menghampiri nenek itu kemudian memberikannya sedikit uang.<strong> </strong>Tidak ada salahnya <em>kan</em> menghormati orang yang lebih tua meskipun ia pengemis dan sedikit gila.<span style="color:#ff0000;"> <strong>(Umi Hartati &#8211; XII IPA 3)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><strong>*****</strong></span></h3>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Bermain Sepeda</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/indri-bersepeda.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="wp-image-730 alignright" title="Indri Bersepeda" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/indri-bersepeda.jpg?w=175&#038;h=199" alt="" width="175" height="199" /></span></a>Masa kecil merupakan masa-masa yang mengasyikkan karena saat itu banyak waktu yang digunakan untuk bermain bersama teman-teman, baik bermain di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Tahun 2005, ketika aku masih duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar, aku adalah seorang gadis cilik yang penakut dan cengeng. Ketika musim sepeda datang, biasanya aku dan teman-teman selalu rutin bermain sepeda, bisa dibilang <em>nggak</em> pernah absen.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Sore hari, sekitar jam tiga sore, teman-teman datang ke rumah mengajak bermain sepeda bersama. Sebelum pergi, aku ke belakang rumah untuk mengambil sepeda. Tiba-tiba kakakku mengatakan bahwa sepedanya agak bermasalah di bagian rantainya. Karena terburu-buru, <em>nggak</em> sabar  untuk bermain sepeda bersama teman-teman, aku tidak mempedulikan omongan kakakku. Segera aku dan teman-teman bermain sepeda bersama-sama di sekitar gang lingkungan rumah warga. Biasanya aku dan teman-teman bermain sepeda di lapangan desa tetapi kala itu cuaca agak mendung, sehingga kami memutuskan untuk bermain sepeda di gang-gang lingkungan rumah saja.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Kring…kring…kring…!” aku membunyikan bel sepedaku sambil meninggalkan rumah. Dengan senang hati, mengayuh sepeda berkeliling gang bersama teman-teman. Baru tiga kali putaran, rantai sepedaku lepas. Maklum saja, ini sepeda warisan kakakku. Terpaksa aku harus memperbaiki rantai sepeda yang lepas walaupun harus berhitam-hitam dengan oli.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Seharusnya tadi aku mendengarkan kata-kata kakakku. Jadi sebelum aku menggunakan sepeda warisan ini, aku minta kakak untuk memperbaiki rantai sepeda yang gampang lepas,” sesalku sambil memasang rantai sepeda yang lepas.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Ketika aku sedang sibuk dan <em>ribet</em> memasang rantai sepeda, teman-teman tidak membantu aku. Perasaan yang tadinya senang jadi membosankan. Beberapa saat kemudian, aku selesai memperbaiki rantai sepeda. kemudian aku kembali mengayuh sepeda berkeliling gang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Cuaca yang tadinya mendung berubah menjadi gerimis. Walaupun gerimis, aku dan teman-teman tetap asyik bermain.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ada orang gila..!! Ada orang gila..!!” tiba-tiba teman-teman berteriak berkali-kali sambil mengayuh sepeda ontelnya dengan kencang. Aku tetap santai dan tidak percaya. Ah, mungkin hanya gurauan saja. Tengok kanan-kiri depan-belakang ternyata <em>nggak</em> ada orang gila.  Barangkali teman-teman hanya bercanda dan menakut-nakuti aku karena mereka tahu kalau aku takut <em>sama</em> orang gila.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Tepat di tikungan  gang kecil dekat rumah tetanggaku, ada sesosok wanita dengan gaya yang unik dan aneh, yaitu si wanita dekil. Dengan model rambut yang acak-acakan seperti <em>nggak</em> pernah disisir, ia menggaruk-garuk kepala sambil tertawa-tawa sendiri. Jangan-jangan ini yang mereka sebut orang gila tadi. Orang ini menghadang aku di gang. Setttttttt…! Aku mengerem mendadak. Dag dig dug, jantungku berdebar kencang. Aku merasa takut, tubuhku gemetar, mau mundur dan putar arah tidak bisa karena lokasinya sempit. Akhirnya aku memutuskan untuk turun dari sepeda, kemudian meninggalkan sepedaku begitu saja. Aku terburu-buru mengambil langkah seribu, berlari ketakutan. Orang gila tersebut mengejar-ngejar aku. Aku terus berlari sembari sesekali menengok ke arah orang gila tersebut, apakah masih mengikutiku apa tidak. Setelah lama berlari, berkejar-kejaran dengan orang gila, akhirnya orang gila tersebut berhenti mengejarku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Dengan napas terengah-engah, aku beristirahat sejenak di teras rumah warga sambil meluruskan kaki. Di sana kebetulan ada teman-teman yang tadi meninggalkan aku. Terjadilah adu mulut, aku memarahi teman-teman karena sudah meninggalkan aku. Teman-teman juga menyalahkanku ketika mereka berteriak orang gila, aku malah tetap santai tidak ikut lari dengan teman-teman. Akhirnya, aku mengaku salah. Setelah lama beristirahat, dan memastikan keadaan aman dari orang gila, bergegas melanjutkan perjalanan dengan bersepeda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saat teman-teman menaiki sepedanya masing-masing, aku bingung dan bertanya kepada teman-teman tentang keberadaan sepedaku. Tapi, tak seorang pun yang tahu keberadaan sepedaku. Salah satu dari temanku <em>bilang</em> kalau tadi saat aku beristirahat dengan mereka di teras, aku memang sudah dalam keadaan tidak membawa sepeda. Aku terus ingat kalau sepedaku tertinggal saat dikejar orang gila.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Beberapa menit kemudian.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Kring…kring..kring…!” terdengar bunyi bel sepeda.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Sepertinya aku tahu bunyi itu,” kata salah seorang teman sambil mengingat-ingat begitu pula dengan yang lain. Kemudian serentak mereka berteriak, “Itu sepedamu…!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ya, itu sepedaku…!” ujarku yakin. Kami segera menengok ke arah sumber bunyi sepeda, ternyata sepedaku yang aku tinggal lari sedang dinaiki orang gila yang mengejarku tadi. Dengan rasa kesal dan takut aku berusaha merebut sepeda dari tangan orang gila itu. Aku mengejar orang gila itu sambil menangis, “Sepedaku…, sepedaku…!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Tiba-tiba,  bruuukkkk….!  Aku jatuh terpeleset <em>ee </em>(tahi) ayam yang masih hangat, terjatuh sambil menangisi sepedaku yang dibawa lari orang gila. Sementara teman-temanku yang masih berdiam diri di teras malah menertawakan aku.<span style="color:#ff0000;"><strong> (Indri Haryani – XII IPA 4)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ffff99;"><strong>*****</strong><strong><br />
</strong></span></h3>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Buang Angin, Sri&#8230;</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sri-latifatul.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignleft  wp-image-723" title="Sri Latifatul" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sri-latifatul.jpg?w=180&#038;h=260" alt="" width="180" height="260" /></span></a>Pada saat saya kelas 2 SMP saya dan teman-teman saya setiap hari mengaji di pondok pesantren Al-Fatah Banjarnegara. Saya mengaji mulai jam 12.30 sampai dengan 20.30 WIB. Ketika itu santriwan dan santriwati sudah berkumpul di dalam ruangan menunggu kedatangan Pak Ustad. Suasana masih ramai penuh dengan canda dan tawa. saya duduk di barisan paling depan dengan kedua teman saya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Ketika Pak Ustad datang suasana menjadi hening, barangkali karena takut mendapatkan marah dan hukuman. Beberapa menit kemudian Pak Ustad menerangkan isi dari kitab Al Mabadi. Saat Pak Ustad sedang asyik memberi penjelasan, kedua teman saya berbisik di telinga saya mengenai kata-kata yang lucu. Ingin rasanya saya tertawa terbahak-bahak pada saat itu. Tapi, tak mungkin hal itu saya lakukan. Saya hanya berusaha menahan  tawa karena saya termasuk orang yang mudah tertawa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saat suasana hening hanya suara Pak Ustad saja, tiba-tiba…</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">”Tuuuiiiiit…!” terdengar suara angin misterius yang lumayan panjang dan berirama. Ternyata suara itu berasal dari pantat saya gara-gara saya terlalu kuat dalam menahan tawa. Jadi, tawanya nggak keluar lewat mulut atas tapi melalui mulut bawah… Suasana yang tadinya hening menjadi gempar oleh tawa serentak teman-teman saya yang terpingkal-pingkal. Kulihat Pak Ustad pun ikut tertawa. Saya sangat malu saat itu, muka saya pun langsung memerah dan ingin rasanya keluar dari ruangan itu.<span style="color:#ff0000;"> <strong>(Sri Latifatul Amprillah</strong><strong> – XII IPS 2</strong><strong>)</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffff99;">*****</span></p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Jus Melon Ala Sunlight</strong></span><strong></strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><strong></strong><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/jus-melon.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignright" title="Jus Melon" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/jus-melon.jpg?w=170&#038;h=200" alt="" width="170" height="200" /></span></a>“Huh panas sekali..!!” kataku sambil berjalan ke tempat kosku. Hari ini terasa panas, gerah. Ingin rasanya aku masuk ke dalam kulkas dan bermesraan dengan es-es yang ada di situ. Aku membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam ruang TV di tempat kosku. Karena aku merasa sangat haus aku mencari air minum dan alangkah malangnya nasibku, ternyata tak ada air minum yang tersisa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Atik. . .  apa kamu punya air minum?” tanyaku pada salah satu teman.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ada,” jawabnya. Tanpa berbasa-basi dengan semangat juang bagai seorang pahlawan yang baru menemukan senjata untuk memberantas para penjajah, aku pun melangkah ke kamar Atik.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Di mana Tik, aku sangat haus…” pinta ku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ada tuh di bak kamar mandi, ha…ha..ha…,” jawab Atik dengan nada mengejek dan tertawa keras.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Dengan raut muka penuh kekecewaan, aku berjalan kembali menuju kamarku. Aku berharap semoga setelah bangun nanti, telah tersedia secangkir minuman dengan 1 buah poka es yang membuat seluruh tubuku merasa segar. Sambil terus berandai-andai aku pun terlelap tidur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Sore harinya aku bangun dan segera keluar dari kamar. Alangkah terkejutnya aku, ketika aku melihat gelas yang terisi air berwarna hijau seperti jus melon di atas meja depan TV. Aku langsung meminumnya tanpa basa basi. Tapi, rasanya air yang aku minum ini aromanya tidak asing. Karena rasa hausku yang berlebihan bahkan bisa dibilang dehidrasi stadium akhir, akupun terus meminumnya. Tiba-tiba ada temanku yang berteriak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Woy, jangan diminum…!!!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Kenapa, kamu mau? Tapi <em>kok</em> rasanya sedikit aneh ya, <em>kayak</em> bau apaan <em>gitu</em>,” kataku sambil memutar-mutar gelas di tanganku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ya jelas aromanya sedikit aneh. Itu kan <em>sunlight</em> untuk nyuci piring.  Aku tadi <em>kan</em> baru beli karena di belakang sedang habis. Mau buat nyuci piring malah tempat <em>sunlight</em>-nya hilang. Jadinya aku taruh di gelas, terus aku <em>kasih</em> air. Eh, <em>malah</em> diminum kamu,” jelasnya sambil tertawa.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"> Mendengar penjelasan dari temanku, aku langsung ke belakang dan memuntahkan <em>sunlight</em> yang telah terlanjur aku minum. “Kapok! Kapok…!” teriakku disertai dengan tawa teman-teman kosku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Makanya kalau bangun tidur dikumpulin dulu nyawanya. Hari ini <em>sunlight</em> mungkin besok tinggal <em>superpel</em> yang dikira jus…,” ledek teman-temanku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"> Setelah aku merasa sedikit baikan, aku pun duduk di ruang TV.  Beberapa saat kemudian terdengar suara dari perutku. Ternyata aku ingin BAB (Buang Air Besar). Aku berlari menuju kamar kecil. Alangkah malangnya nasib ku, ternyata air di bak kamar kecil habis. TERLALU…!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Alhamdulillah, ada salah satu teman kos ku yang mungkin kashian dengan nasibku hari ini, dengan senang hati ia memintakan air kepada bapak kos supaya aku dapat mengeluarkan sisa-sisa <em>sunlight</em> yang masih bersemayam di perutku. <span style="color:#ff0000;"><strong>(Ulfatul Karimah – XII IPA 2)</strong></span></span></p>
<h3 style="text-align:center;" align="center"><span style="color:#ffff99;">*****</span></h3>
<h2 style="text-align:justify;" align="center"><span style="color:#ff0000;"><strong>Pilus Hitam</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/cicak.jpg"><span style="color:#ffff99;"><img class="alignleft  wp-image-739" title="Cicak" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/cicak.jpg?w=180&#038;h=250" alt="" width="180" height="250" /></span></a>Malam telah tiba menghampiri hariku yang begitu lelah. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 20.00 WIB, saudaraku Ima datang menghampiri, di kamar tidur. Tanpa basa-basi, ia pun langsung mengambil makanan yang sedang aku makan dengan nikmat. Tingkahnya yang begitu kocak membuat perutku terasa mules setelah kita tertawa terbahak-bahak karena tingkahnya. Dengan raut muka yang begitu konyol dan senyuman manis ketika dia tersenyum, tapi itu tak seindah ketika dia tertawa. Karena apa? Matanya <em>sipit</em>, yang reflek menutup ketika ia tertawa, menggugah pikiranku untuk bisa kabur dari hadapannya. Ia tak menyadarinya. Setelah selesai tertawa terbahak-bahak, ia baru sadar bahwa aku telah kabur dari hadapannya. Haa ha…</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Gurauan semakin mengocakkan perut,yang ramai akan sebuah konser musik keroncongan yang dimainkan oleh para cacing-cacing senior.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Sssttttt…!” kataku, dan menerkam mulutnya ketika dia tertawa di atas kasur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Dubrakkk…!!!”</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Itulah suara indah yang sangat aku nanti-nanti melihat dia terjatuh di bawah kasur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Ckckck,” sahutku.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Dengan sergap ia pun membungkukan badanku dan menutup mulutku dengan bantal guling, hingga aku tak dapat bernapas. Tendangan seorang pemain bola bernama Bambang Pamungkas aku keluarkan untuk menendangnya dengan bersusah payah karena badanya yang lebih besar dariku. Diapun duduk santai di atasku yang masih ditimbun dengan bantal-bantal, dengan memakan Pilus Garuda milikku</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Saat lonceng jam berbunyi menunjukkan waktu larut malam, terdengar suara tokek yang meracau. Tak lama kemudian listrik mati. Kamarku pun sangat gelap gulita. Tak ada cahaya sedikitpun yang bisa digunakan untuk menerangi kita. Tolong…! teriakan serempak yang kita keluarkan. Akan tetapi, anehnya kita teriak tidak langsung keluar dari kamar dan segera mencari penerang, bahkan kita masih tetap duduk di atas kasur sambil menikmati Pilus Garuda yang belum habis dimakan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">“Kriukk….,” terdengar suara lezat di telingaku. Dengan suasana yang begitu gelap membuat kita sulit untuk mengambil dan memakan Pilus Garuda. Berebutlah yang kita lakukan untuk mendapatkan Pilus Garuda terlebih dahulu. Bentuknya yang kecil mungil, membuatku asyik memakannya dengan nikmat. Mengambil, mengambil, dan mengambil secara bergantian, hingga ada beberapa butir pilus yang jatuh di atas kasur.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ffff99;">Rasa aneh dan penuh keraguan di tanganku ketika mengambil pilus yang entah ke beberapa kali. Namun, aku tak menghiraukannya. Dengan rasa mantap aku pun memakannya dengan nikmat. Rasa aneh di mulut semakin terasa. Dan lebih anehnya juga, kenapa tidak terdengar <em>kriuk..kriuk</em> di telingaku. Terasa ….. terasa… dan semakin terasa di lidahku. Setelah dirasa-rasa ternyata yang aku makan bukanlah Pilus Garuda…. akan tetapi Pilus Cicak alias “tai cicak” yang begitu pekat dan semerbak harumnya di mulutku. Rasa penuh gembirapun dirasakan Ima, saudaraku dengan lontaran tawa.<span style="color:#ff0000;"> <strong>(Indah Dewi S &#8211; XII IPA-1)</strong></span></span></p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ffff99;">*****</span></p>
<br />Filed under: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/anekdot/'>Anekdot</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/kesastraan/'>Kesastraan</a> Tagged: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/cerita-remaja/'>Cerita Remaja</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/man-2-banjarnegara/'>MAN 2 Banjarnegara</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangimaji.wordpress.com/644/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangimaji.wordpress.com/644/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=644&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/20/kenangan-dibuang-sayang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de8bfecec14da51ffafea09af1375790?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangimaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bersin1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bersin</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bersin-di-kelas1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bersin di Kelas</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sapi-ayam-kambing.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Sapi Ayam Kambing</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/imun-angon-salimun.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Imun Angon Salimun</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/bus-penuh-sesaks1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Bus Penuh Sesaks</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/pembelajaran1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pembelajaran</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/nenek-gaul1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nenek Gaul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/indri-bersepeda.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Indri Bersepeda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/sri-latifatul.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Sri Latifatul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/jus-melon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jus Melon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/cicak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Cicak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gadis Super Oon</title>
		<link>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/10/gadis-super-oon/</link>
		<comments>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/10/gadis-super-oon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 06:45:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangimaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Anekdot]]></category>
		<category><![CDATA[Kesastraan]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[MAN 2 Banjarnegara]]></category>
		<category><![CDATA[Menulis Kreatif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangimaji.wordpress.com/?p=627</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini bukanlah kisah yang lucu, jadi mestinya Anda tidak perlu tertawa. Meski begitu, tidak ada larangan sedikit pun bila Anda berhasrat melakukan hal itu, asalkan tertawa dalam batas-batas yang wajar.  Namun, yang jelas kisah ini tidak berbahaya bagi kesehatan karena tidak menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, maupun gangguan kehamilan dan janin. Selamat menikmati! Ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=627&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><em>Kisah ini bukanlah kisah yang lucu, jadi mestinya Anda tidak perlu tertawa. Meski begitu, tidak ada larangan sedikit pun bila Anda berhasrat melakukan hal itu, asalkan tertawa dalam batas-batas yang wajar.  Namun, yang jelas kisah ini tidak berbahaya bagi kesehatan karena tidak menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, maupun gangguan kehamilan dan janin. Selamat menikmati!</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/pohon.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-634" title="Pohon" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/pohon.jpg?w=627" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ada seseorang, sebut saja Tuan Sinyo (ini bukan nama sebenarnya <em>lho</em>… Cuma kebetulan tampilan wajahnya yang penuh “kemajuan”, sehingga membuat ia menamakan dirinya Tuan Sinyo alias un<strong>Tu</strong>ne kedaw<strong>An</strong> gu<strong>Si</strong>ne menyo<strong>Nyo</strong>, he…he…he…!). Tuan Sinyo ini terus uring-uringan menasihati anak gadisnya yang telah beranjak remaja. (Nama gadis remaja itu tidaklah perlu untuk disebutkan karena kebetulan untuk kisah yang ini, begitu banyak nama yang berebutan ingin digunakan, <em>ceileee</em>..! Jadi supaya tidak menimbulkan kecemburuan sosial, tidak satu namapun yang dipakai). Meski sudah duduk di kelas 9 sebuah SMP, anak gadisnya itu lugunya minta ampun. Bahkan dapat dikatakan dengan istilah yang lebih <em>keren</em>, SO alias Super Oon. Segala hal yang dikatakan kepadanya harus <em>gamblang</em> sekali. Itu pun belum tentu dipahami.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ketika Tuan Sinyo berkata, “<em>Nduk</em>, kamu <em>kan</em> sudah remaja, jadi kebiasaanmu <em>manjat</em> pohon <em>mbok ya</em> dihilangkan <em>tho</em>.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Memangnya kenapa, Pak?” tanya si gadis remaja yang belum paham arah pembicaraan ayahnya. Maklum <em>kan</em> anak SO, he.. he.. he..!</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-627"></span></p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Nggak</em> kenapa-kenapa <em>sih</em>, <em>cuma</em> <em>nggak</em> baik dilihat orang,” jawab Tuan Sinyo berhati-hati.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi, aku <em>kan</em> sejak dulu suka <em>banget</em> <em>manjat</em> pohon. Apalagi pohon jambu depan rumah <em>lagi</em> berbuah. Nikmat sekali <em>lho</em> Pak, menikmati buah jambu langsung di pohonnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">”Sudahlah, kamu jangan <em>ngeyel</em>. Pokoknya, mulai sekarang kamu jangan <em>manjat</em> pohon lagi,” tegas Tuan Sinyo, tidak mau berdebat. <em>Habisnya</em> kalau <em>diladeni</em> berdebat, pasti yang merasa <em>waras</em> yang harus <em>ngalah</em>&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Di lain hari, saat matahari sedang mendidih-mendidihnya, si gadis remaja pulang sekolah dengan senyum ceria. Ia memang sudah merencanakan sesuatu,  memanjat pohon jambu, kemudian menikmati buahnya yang segar dan ranum di pohonnya. Setelah melepas sepatu dan menaruh tas, masih dengan seragam SMP-nya, baju OSIS dengan rok pendek biru tua, ia berlari menuju pohon jambu di depan rumah.</p>
<div>
<p style="text-align:justify;">Pohon jambu itu terletak di pinggiran jalan kampung. Daunnya rimbun, buahnya lebat. Di suasana yang panas,  siapa pun akan tergiur untuk merasakan kesegaran buah itu. Begitu pula dengan si anak gadis remaja yang sudah <em>nangkring</em> di salah satu dahan pohon itu. Dengan asyik ia menikmati segarnya rasa buah jambu. <em>Saking</em> asyiknya, ia tak memperhatikan kalau beberapa buah jambu berjatuhan ke bawah. (He&#8230; he&#8230; he, kalau jatuh pastinya ke bawah, <em>kan</em>? Majas pleonasme <em>tuh,</em> kata Pak Guru).</p>
<p><img class="aligncenter  wp-image-628" title="Jambu Air" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/jambu-air.jpg?w=353&#038;h=176" alt="" width="353" height="176" /></p>
<div>
<p style="text-align:justify;">Secara kebetulan, beberapa pemuda lewat jalan itu. Saat di bawah pohon jambu, salah seorang mendapat berkah kejatuhan buah jambu. Secara reflek ia mendongak ke atas. (<em>Nah lho</em>,  pleonasme lagi <em>kan</em>? Mana ada <em>sih</em> yang mendongak ke bawah. Kalau itu menunduk namanya). Begitu mendongak, terpampanglah suatu pemandangan yang sungguh menakjubkan. Segera ia berbagi dengan memberitahu teman-temannya, yang dengan kompak <em>ikutan</em> mengalihkan perhatian ke atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sementara itu, meski tahu ada beberapa pemuda di bawah yang memandanginya, yang sedang <em>nangkring</em> menikmati buah jambu <em>cuek</em> saja. Ia bahkan berdiri menjangkau buah yang agak jauh dari tempatnya <em>nangkring</em>. Rupanya gadis remaja ini suka beramal, beberapa buah ia jatuhkan. Dalam pikirannya, barangkali beberapa pemuda itu ingin pula menikmati segarnya buah jambu. Namun, berhubung pemuda-pemuda tadi tetap saja memandanginya, mau tidak mau ia merasa <em>risih</em> juga. Mau turun dari pohon rasanya <em>sungkan</em>, tetap di atas <em>risih</em>. Karena para pemuda tadi tidak juga mengalihkan pandangan, bahkan tidak berkedip apalagi beranjak, akhirnya sang gadis nekat turun dan berlari masuk ke dalam rumah. (<em>Ah, seneng</em> amat <em>sih sama</em> pleonasme. Kalau masuk ya jelas ke dalam <em>Bro</em>&#8230;).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan gegap-gempita dicarinya sang ayah di tiap sudut rumah. (<em>Lho</em>, <em>naruh</em> ayah di mana <em>sih</em>? <em>Kok</em> bisa sampai harus dicari segala&#8230; <em>Emangnya ilang</em>?!) Begitu ketemu, langsung saja bibirnya <em>nyerocos</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">”<em>Eh</em>, Bapak&#8230; Akhirnya <em>ketemu</em> juga, aku cari-cari dari tadi lho&#8230;”</p>
<p style="text-align:justify;">”<em>Emang </em>ada <em>apaan</em>? Mau pamer nilaimu yang merah?” tanya Tuan Sinyo.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Eh</em> Bapak, jangan <em>gitu</em> <em>lah</em>. Nilai merah itu <em>kan</em> bagus, warnanya jadi bervariasi. <em>Masak</em> warna cuma hitam atau biru, kalau ada merahnya <em>kan</em> jadi indah. Kata guru seni, perpaduan aneka warna itu terlihat begitu harmonis…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, sudahlah..,” kata Tuan Sinyo, tidak mau berbantah dengan anaknya. Percuma. “Ada apa <em>nyari-nyari</em> Bapak?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Begini <em>lho</em>, Pak. Tadi sepulang sekolah aku <em>kan</em> manjat pohon jambu depan rumah…”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa?! Kamu manjat pohon lagi?! <em>Kan</em> sudah Bapak bilang, jangan manjat pohon, titik!” Tuan Sinyo mulai marah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi Pak, aku <em>pengin</em> <em>banget</em> jambu…” kata anak gadisnya memelas. Tuan Sinyo diam saja, menahan kesabarannya. Hanya ekspresi wajahnya yang menunjukkan rasa tidak suka.  Tapi, anak gadisnya tak mampu menangkap maksud ekspresi itu. Ia <em>malah</em> terus berkata.</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Anu</em>, Pak. Tadi <em>pas</em> <em>lagi</em> metik jambu, ada <em>tuh</em> buah yang nakal, <em>nggak</em> mau dipetik, <em>eh</em> <em>malah</em> jatuh. Sudah itu, jatuhnya <em>kok</em> ya menimpa rombongan anak laki-laki yang <em>lagi</em> lewat di bawah pohon&#8230;” Tuan Sinyo masih diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah, saat kejatuhan jambu, mereka terus melihat ke atas. Melihat terus, tanpa berkedip. <em>Kirain</em> minta jambu, jadi kujatuhkan beberapa buah lagi. Eh, mereka masih tetap melihat ke atas. <em>Emang</em> ada apa ya Pak?” Tuan Sinyo masih saja diam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Pak! Ditanya <em>kok</em> diam saja. Sakit gigi ya Pak?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sakit gigi, sakit gigi..! Kamu <em>nggak</em> tahu mengapa mereka melihat ke atas?” Tuan Sinyo mulai buka suara. Si anak gadis hanya menggeleng. Tuan Sinyo akhirnya menggeleng-geleng juga, meski dengan rasa tak <em>karuan</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mereka itu…, anak laki-laki itu melihat terus ke atas…, karena….” Tuan Sinyo tak sanggup melanjutkan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Karena apa Pak?” kejar si anak gadis.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aduuuhhh…. <em>Masak</em> <em>sih</em>  kamu <em>nggak</em> tahu?!” Anak gadisnya kembali menggeleng.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mereka itu ingin terus melihat CD-mu, tahu?!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, itu. Mereka itu oon ya Pak. Mestinya kalau mau lihat CD, cari saja di dalam rumah dekat televisi. Tinggal pilih  judulnya saja.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aduuuhhh…. Bukan CD itu <em>lho</em>…!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lantas CD yang mana, hayo?”</p>
<p style="text-align:justify;">“CD yang mereka mau lihat itu… Celana Dalammu, tahu!” jelas Tuan Sinyo akhirnya. Perasaan Tuan Sinyo makin tak <em>karuan</em>, antara marah, gemas, juga kasihan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah, kalau mau lihat yang itu, berarti niat mereka tak <em>kesampaian</em> Pak?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tak <em>kesampaian</em> bagaimana!?” gantian Tuan Sinyo yang tak mengerti.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kebetulan sekali, aku tadi tidak memakai Pak&#8230;,” jawabnya polos.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendengar jawaban anak gadisnya itu, Tuan Sinyo pingsan seketika. (*)</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
</div>
</div>
<br />Filed under: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/anekdot/'>Anekdot</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/kesastraan/'>Kesastraan</a> Tagged: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/cerita-remaja/'>Cerita Remaja</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/man-2-banjarnegara/'>MAN 2 Banjarnegara</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/menulis-kreatif/'>Menulis Kreatif</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangimaji.wordpress.com/627/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangimaji.wordpress.com/627/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=627&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/12/10/gadis-super-oon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de8bfecec14da51ffafea09af1375790?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangimaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/pohon.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pohon</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/12/jambu-air.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Jambu Air</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjaring Ilmu di Samudra Pustaka</title>
		<link>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/11/26/menjaring-ilmu-di-samudra-pustaka/</link>
		<comments>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/11/26/menjaring-ilmu-di-samudra-pustaka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 17:26:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ruangimaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Daftar Pustaka]]></category>
		<category><![CDATA[Perpustakaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ruangimaji.wordpress.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Judul di atas hanyalah sebuah perumpamaan, meski agak berlebihan bila digunakan untuk menggambarkan sebuah perpustakaan sekolah. Gambaran umum mengenai sebuah perpustakaan di sekolah adalah sebuah bangunan kecil yang terletak di antara bangunan-bangunan utama, yang tentu saja lebih besar atau megah. Di dalam gedung kecil itu terdapat beberapa buku pelajaran yang akan diambil siswa bila guru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=554&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Judul di atas hanyalah <a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/11/baca-buku.jpg"><img class="alignleft  wp-image-559" title="baca buku" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/11/baca-buku.jpg?w=239&#038;h=226" alt="" width="239" height="226" /></a>sebuah perumpamaan, meski agak berlebihan bila digunakan untuk menggambarkan sebuah perpustakaan sekolah. Gambaran umum mengenai sebuah perpustakaan di sekolah adalah sebuah bangunan kecil yang terletak di antara bangunan-bangunan utama, yang tentu saja lebih besar atau megah. Di dalam gedung kecil itu terdapat beberapa buku pelajaran yang akan diambil siswa bila guru memerlukannya dalam proses belajar mengajar di kelas. Sedikitnya jumlah dan keberagaman koleksi di perpustakaan sekolah membuat tempat itu menjadi sepi pengunjung. Jangankan siswa, guru pun barangkali malas untuk melangkahkan kakinya ke sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya perpustakaan sekolah merupakan pusatnya ilmu pengetahuan dan informasi yang sangat menunjang kegiatan belajar mengajar. Untuk itulah, perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu guru dan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Guna mencapai tujuan tersebut, perpustakaan sekolah perlu mempersiapkan beberapa hal, di antaranya menyediakan tempat yang nyaman, koleksi yang beragam dan berkualitas, fasilitas dan tenaga pustakawan yang memadai, serta serangkaian aktivitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran agar menjadi menarik.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pustakawan hendaknya memiliki tanggung jawab dan dedikasi tinggi terhadap layanan. Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya. Pustakawan sekolah diharapkan pula memiliki kedekatan rasa dengan masyarakat pengunjung perpustakaan, khususnya siswa. Hal itu disebabkan seorang pustakawan sekolah seringkali dipercaya sebagai tempat <em>curhat</em>, baik ketika siswa mengalami kesulitan belajar atau pun ketika siswa ingin  memperoleh informasi pengetahuan yang belum diajarkan di kelas. Dengan demikian, diharapkan siswa mampu mendapatkan solusi bagi permasalahannya, sehingga dapat mencapai berprestasi yang diharapkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-554"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Pada dasarnya perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan untuk mem-<em>back up </em>setiap mata pelajaran yang diajarkan di kelas. Untuk itu, peran guru dalam memotivasi siswa sangat diperlukan agar siswa dapat terus belajar mengembangkan ilmunya melalui proses membaca di perpustakaan. Misalnya, dengan memberi tugas membaca di perpustakaan, kemudian menceritakan kembali atau membuat laporan atas buku yang telah dibaca. Di samping itu, dapat pula memanfaatkan ruangan perpustakaan sebagai tempat pembelajaran, yang tentu saja harus dengan pendampingan guru yang bersangkutan. Proses pembelajaran di perpustakaan menjadi salah satu alternatif untuk menghilangkan kejenuhan siswa dan guru bila terus-menerus belajar di dalam kelas. Atau paling tidak, memudahkan guru dan siswa mencari referensi yang dibutuhkan pada saat proses pembelajaran. Hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah siswa mampu menguasai sekaligus mengembangkan mata pelajaran yang diterimanya dari guru.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/11/maniak-baca.jpg"><img class="aligncenter  wp-image-581" title="Maniak Baca" src="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/11/maniak-baca.jpg?w=363&#038;h=184" alt="" width="363" height="184" /></a>Dengan memaksimalkan perannya, diharapkan perpustakaan sekolah dapat mencetak siswa untuk memiliki kebiasaan mencari ilmu di luar aktivitasnya belajar di kelas. Dengan demikian, mereka menjadi terbiasa  membaca, memahami materi pelajaran, mengerti maksud dari sebuah informasi dan ilmu pengetahuan, serta memungkinkan pula untuk menghasilkan suatu karya bermutu. Pada akhirnya, prestasi pun relatif mudah untuk menyertai kehidupannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendukung pencapaian prestasi siswa, koleksi perpustakaan hendaknya lebih diprioritaskan pada materi-materi yang sesuai dengan kebutuhan. Paling tidak, perpustakaan sekolah berusaha menjadikan dirinya mampu memiliki beberapa fungsi, di antaranya;</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Fungsi Informatif</em>,</strong> sebagai tempat untuk menyampaikan berbagai informasi, khususnya di lingkungan sekolah.</li>
<li><strong><em>Fungsi Rekreatif</em>,</strong> sebagai sarana rekreasi untuk meredakan ketegangan karena terlalu sibuk belajar, atau untuk menyenangkan perasaan pembacanya.</li>
<li><strong><em>Fungsi Estetika</em>,</strong> sebagai wadah untuk memperhalus perasaan karena terbiasa membaca rangkaian kalimat dengan bahasa yang indah, khususnya pada buku-buku sastra.</li>
<li><strong><em>Fungsi Intelektualitas</em>,</strong> untuk meningkatkan kecerdasan siswa dengan mempelajari beberapa materi keilmuan.</li>
<li><strong><em>Fungsi Religius</em>,</strong> untuk meningkatkan rasa keimanan dan ketakwaan terhadap Allah Swt. dengan memahami bacaan-bacaan bernuansa keagamaan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan perpustakaan sekolah dapat dimanfaatkan secara maksimal sesuai dengan fungsi-fungsi di atas. Dengan demikian, secara tidak langsung kita telah melaksanakan kewajiban sebagai Muslim dengan mencari ilmu. Hal ini sebagaimana yang disampaikan dalam hadis “<em>tolabul ‘ilmi faridhotun ‘ala kulli muslimin wal muslimat,”</em> yang artinya “menuntut ilmu itu wajib bagi setiap orang Muslim laki-laki dan perempuan.” Dari hadis tersebut terlihat jelas bahwa setiap manusia diharuskan untuk berilmu. Bermacam cara dapat ditempuh dalam proses mencari ilmu, salah satunya adalah dengan membaca. Dengan membaca, wawasan dan ilmu pengetahuan menjadi luas, serta segala informasi dapat terserap dengan baik. (<em>Raden Kusdaryoko Tjokrosutiksno</em>)</p>
<br />Filed under: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/category/pustaka/'>Pustaka</a> Tagged: <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/daftar-pustaka/'>Daftar Pustaka</a>, <a href='http://ruangimaji.wordpress.com/tag/perpustakaan/'>Perpustakaan</a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ruangimaji.wordpress.com/554/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ruangimaji.wordpress.com/554/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ruangimaji.wordpress.com&amp;blog=20971157&amp;post=554&amp;subd=ruangimaji&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ruangimaji.wordpress.com/2011/11/26/menjaring-ilmu-di-samudra-pustaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/de8bfecec14da51ffafea09af1375790?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ruangimaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/11/baca-buku.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">baca buku</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ruangimaji.files.wordpress.com/2011/11/maniak-baca.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Maniak Baca</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
